Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Pernikahan Elisa


__ADS_3

Kediaman Andreas.


Sedari pagi pelayan terlihat sibuk menghias ruang tengah yang akan di jadikan tempat pernikahan antara Elisa dan Roy. Terlihat juga beberapa orang tengah memasang bunga segar di setiap sudut ruangan seperti permintaan Nyonya Andreas.


Meski pernikahan Elisa akan di adakan dengan sederhana, tapi Nyonya Andreas berusaha memberikan yang terbaik untuk putri satu-satunya itu.


Terlihat Elisa di kamar pengantin tengah di rias oleh MUA yang sengaja Nyonya Sintia sewa secara langsung. Ia ingin melihat putrinya tampil cantik di hari pernikahannya. Elisa hanya bisa pasrah membiarkan wajahnya di rias di depan cermin, sambil sesekali ia melirik tidak suka akan penampilannya sendiri.


Kenapa harus ada acara di rias, ini 'kan cuma pernikahan sederhana.


Gadis itu hanya mendengus kesal melihat penampilan dirinya yang memang terlihat sangat cantik. Harusnya ia bahagia, namun Elisa sama sekali tidak menganggap ia benar-benar akan menikah.


Berbeda dengan Roy, pria itu tampak gugup saat Tuan Andreas datang menemuinya. Berulang kali Roy mengusap wajahnya yang tiba-tiba berkeringat.


Kini Roy telah duduk di hadapan penghulu menunggu Elisa yang belum juga keluar. Roy terus melirik ke arah pintu ruangan tempat di mana Elisa berada.


Perlahan pintu terbuka, Elisa tampil cantik dengan kebaya putih yang membalut tubuhnya. Meski dengan keadaan perut membuncit, tetap saja kecantikan Elisa tidak sama sekali hilang.


Elisa melangkah di dampingi langsung oleh Tuan dan Nyonya Andreas. Ia perlahan mendekat dan duduk di samping Roy yang masih menatapnya dalam diam.


Roy terpaku sambil terus menatap wajah cantik di sampingnya, hingga suara Tuan Andreas terdengar memanggilnya beberapa kali.


"Bisa kita mulai." Penghulu mulai membuka acara, membuat Roy kembali gugup. Ia lantas menengok ke arah Tuan Andreas meminta persetujuan pada pria itu. Tuan Andreas mengangguk, seraya menyerahkan semua pada penghulu yang akan memimpin acara tersebut.


Roy menarik napasnya perlahan, menghilangkan sedikit kegugupan yang sedari tadi menyerang. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya, hingga akhirnya dengan sekali tarikan napas, Roy mampu mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan di akhiri senyum bahagia dari semua pihak.


Kecuali Elisa yang tampak biasa saja seakan tidak pernah terjadi apapun. Bahkan saat penghulu memintanya mencium tangan sang suami, Elisa malah melengos sembari pura-pura membetulkan riasan di wajah.


Roy dapat menyadari sikap Elisa karena sedari awal memang tidak menginginkan pernikahan ini. Biarlah, yang terpenting Elisa tidak membuat ulah di hari pernikahan mereka, dan semua berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Acara di tutup dengan doa bersama. Para kerabat dekat bergantian memberi selamat kepada kedua pengantin. Meski sederhana, Tuan Andreas mengundang seluruh keluarga besarnya, termasuk Nyonya Rani juga hadir di acara tersebut.


Rencananya nanti Tuan Andreas ingin memperkenalkan Roy sebagai menantu, sekaligus orang yang akan meneruskan bisnisnya kelak.


Setelah acara berakhir, satu persatu tamu undangan mulai terlihat meninggalkan tempat acara. Elisa juga memutuskan kembali ke kamar terlebih dulu karena merasa lelah dan ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Sedangkan Roy masih terlihat mengobrol dengan Tuan Andreas beserta Nyonya Rani yang kebetulan belum pulang.


Saat semuanya telah pulang dan kedua orang tua Elisa pun memutuskan istirahat, Roy segera beranjak menuju kamar Elisa yang telah di hias sebagai kamar pengantin mereka. Mengetuk pintu pelan, Roy terpaksa membuka pintu itu setelah beberapa kali tidak ada sautan dari dalam. Ia melirik ke arah tempat tidur, melihat Elisa yang tengah tertidur dengan sangat pulas. Roy mendekat, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik sang istri, lalu mengusap pelan pipi Elisa.


Terimakasih, karena bersedia menjadi istriku ...


Roy beranjak meninggalkan Elisa yang sama sekali tidak terganggu. Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


*****


Elisa mengerjap, mengumpulkan kembali kesadaran. Ia coba bangkit tapi rasanya enggan sekali. Melihat jam yang tergantung di dinding kamar, ternyata ia tidur sudah lumayan lama. Sadar ada yang lain, ia merasa ada seseorang yang tengah tertidur di sampingnya. Elisa segera berbalik, dan benar saja terlihat seseorang tengah terlelap di atas ranjang miliknya.


Roy bergerak cepat sebelum seluruh penghuni rumah bangun. Ia segera mendekat dan membekap mulut Elisa, "Diam! Kau mau bikin semua orang berlari kemari mendengar teriakanmu!"


Elisa hanya bisa berontak sembari mencoba melepaskan tangan besar Roy yang membekap mulutnya. Namun, sayangnya Roy tidak sama sekali memberi kesempatan sebelum ia benar-benar yakin Elisa tidak akan berteriak lagi. Ia terus berusaha menahan tubuh Elisa agar bisa tenang.


Elisa yang tidak kehilangan akal langsung menggigit tangan Roy, hingga sang pemilik kaget, dan terpaksa melepaskan bekapannya.


"Apa yang kau lakukan?" Roy memeriksa bekas gigitan Elisa di tangannya yang menimbulkan bekas merah. "Kenapa menggigitku?"


"Kak Roy yang apa-apaan! Kenapa tidur di atas ranjangku?" Elisa langsung memasang wajah marah. Ia sama sekali tidak terima dengan kelakuan Roy yang lancang. Padahal di rumahnya ada banyak kamar, kenapa juga Roy harus memilih masuk ke kamarnya.


"Aku akan bilang ke Papi kalau Kak Roy sudah kurang ajar!" Elisa sudah turun dari ranjang dan bersiap melangkah menuju pintu.


"Memangnya kenapa.?"

__ADS_1


"Kenapa? Elisa semakin geram mendengar jawaban Roy yang terlihat santai, seakan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Iya, memang kenapa kalau aku tidur seranjang denganmu? Bukankah kita sudah menikah?"


Duarrrr!


Elisa mematung mendengar jawaban Roy yang terlihat santai tapi penuh penekanan. Ia menatap pakaian yang membalut tubuhnya. Benar, bahkan ia masih mengenakan kebaya putih lengkap dengan riasan wajah, meski sudah acak-acakan.


Jadi aku nggak mimpi?


Aku beneran udah nikah sama Kak Roy.


Dan pria itu... Suamiku?


"Kenapa? Apa kau menganggap pernikahan tadi hanya mimpi?" Roy tersenyum sinis memandang wajah Elisa yang masih tampak linglung.


Kenapa dia tau apa yang aku pikirkan.


"Ja–jadi benar, kita udah nikah?" Elisa masih berharap itu semua hanya mimpi buruknya.


"Menurutmu?" Roy beranjak meniggalkan tempat tidur. Meraih ponsel di atas meja, lantas melangkah menuju pintu. Ia tidak akan pernah memaksa Elisa jika dirinya belum bisa menerimanya.


"Kalau kau merasa tidak nyaman kita satu kamar, aku akan tidur di kamar lain." Roy membuka pintu kamar, dan melangkah keluar meninggalkan Elisa yang masih mematung di tempatnya.


LIKE


KOMEN


WOYYYY....

__ADS_1


__ADS_2