Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Ancaman Arya


__ADS_3

nggak usah di pisahin sih, biarin aja biar tambah seru🤣


Arya yang baru saja mendapat telepon dari salah satu pelayan dari rumah Nyonya Rani lantas segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor. Pikiran pria itu berkecamuk, membayangkan kejadian apa saja yang telah terjadi sebenarnya di rumah.


Tanpa peduli dengan pekerjaan yang sudah lama menumpuk dan tatapan heran dari para karyawan yang melihat. Arya hanya meninggalkan pesan singkat untuk Alex, karena asistennya itu memang sedang ada urusan di luar kantor.


Dalam perjalanan pulang Arya terus mengumpat dan sesekali memukul kemudi untuk melampiaskan seluruh kekesalannya. Satu masalah belum selesai, tapi kini Elisa menambah lagi masalah baru.


Sementara di kediaman Nyonya Rani, dua wanita hamil itu masih terlihat sama-sama emosi dan saling menyalahkan satu sama lain. Membuat Nyonya Rani semakin pusing saat mendengarnya.


*****


Mobil Arya tepat berhenti di depan rumah. Memarkirkan secara asal-asalan Arya lantas segera turun dari mobil dan berlari begitu saja. Langkah Arya terhenti di ruang tamu. Satu hal yang ia ingin lihat pertama kali ialah Rengganis.


Arya menatap penampilan istrinya yang sudah sangat berantakan. Terlihat jelas pipi sebelah kanannya juga memerah dan bajunyanya yang sedikit sobek di bagian lengan.


Lantas Arya berbalik menatap ke arah Elisa yang juga sama berantakan. Gadis itu meringis kesakitan sambil memegangi pipi sebelah kiri. Terlihat juga di sebelahnya Roy, pria yang tengah memegangi Elisa agar tidak sampai kembali bertengkar.


Arya mendekat dan membawa Rengganis dalam pelukannya. Ia rapikan sedikit rambut sang istri yang berantakan, dan terlihat beberapa helai yang tercabut dari akarnya.


"Sayang, kamu apa kamu baik-baik aja?" Ucapan Arya yang begitu lembut membuat Rengganis tersenyum, lantas kembali memeluk tubuh suamiya. Seakan ia ingin menunjukkan kepemilikannya pada Elisa yang tengah berdiri di hadapannya.


"Aku tidak apa-apa, Mas." Rengganis memberikan senyuman termanis. Walaupun masih tampak berantakan, tapi setidaknya wanita itu tidak terluka sama sekali, hanya bekas tamparan yang masih terlihat membekas di pipi sebelah kanan.


Lantas Arya mengajak Rengganis ke ruangan lain dan segera memanggil dokter untuk mengobati luka sang istri. Sedangkan Elisa yang masih diam di tempat, menatap tidak suka akan perlakuan manis Arya pada Rengganis.


Elisa merengut kesal melihat adegan dua orang di hadapannya ini. Ia melengos menatap pada Roy yang masih setia memeganginya. Menghempas tangan Roy dengan kasar, Elisa melangkah mendekati Arya.


"Kak ... "


"Diam!" ucap Arya dengan suara meninggi. "Siapa yang mengijinkanmu berbicara?" Wajah Arya sudah memerah menahan kesal, ia berjalan ke arah Elisa yang tengah berdiri menatapnya.


"Beraninya kau ...!" Dengan mata yang masih memerah, dan deru napas yang naik turun, Arya mengcengkeram Elisa menggunakan satu tangannya, hingga napas Arya menerpa wajah cantik Elisa.

__ADS_1


"Tuan Arya, jangan ... "


"Kau juga diam!" Arya menyambar cepat ucapan Roy yang hendak membela Elisa seraya menatap tajam ke arahnya.


"Kak, sakit," rintih Elisa dengan air mata yang siap turun di pelupuk mata. Elisa meringis dan mencoba melepaskan cengkraman dari Arya, namun sia-sia.


Arya langsung melepaskan tangannya dan berbalik menghampiri Roy yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Arya langsung menarik kerah baju Roy dan menyudutkannya pada dinding tembok.


"Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada anak dan istriku, maka kau orang pertama yang akan ku cari!" bisik Arya tajam namun penuh ancaman.


"Kak ... "


"Pergi ...!" menunjuk arah pintu keluar. "Bawa wanitamu pergi dari hadapanku, sebelum polisi yang akan menyeret kalian!"


Roy hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun. Ia memang salah karena membuat situasi menjadi rumit. Memandang kearah Elisa, lantas Roy berjalan menghampiri Elisa yang tengah menatap Arya dengan sorot mata penuh permohonan. Di seretnya tubuh Elisa dengan sedikit paksaan, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Apaan sih, Kak, aku nggak mau pulang!"


"Nggak mungkinlah. Nggak mungkin Kak Arya tega ngelakuin itu sama aku," jawab Elisa penuh percaya diri.


"Jika menyangkut keselamatan istri dan anaknya, aku yakin Arya tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara!" jawab Roy kesal. Ia lelah jika harus terus berdebat dengan Elisa, apalagi memikirkan masalah kantor, entah alasan apa yang akan ia katakan pada Tuan Andreas.


hah?


"Apa maksudmu, Kak?"


"Kamu cantik, tapi juga bodoh!"


Elisa merengut sebal. Di rabanya luka cakaran di pipi yang masih teras perih, tapi tak seperih nasibnya yang selalu sial. Sudah terkena luka, masih di hina lagi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Mobil berhenti tepat di halaman rumah keluarga Andreas. Elisa yang menyadari kalau dirinya langsung di antar ke rumah lantas menoleh ke arah Roy yang duduk di belakang kemudi.


"Kak Roy nggak anterin aku ke rumah sakit dulu?"

__ADS_1


"Itu hanya luka kecil, jangan manja!" jawab Roy dengan sangat santai.


"huhhh, menyebalkan!" umpat Elisa seraya membuka pintu mobil dan menutupnya dengan sangat kasar.


Roy hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Elisa yang sangat bar-bar. Roy kemudian melajukan mobilnya kembali menuju kantor dan bersiap menerima kemarahan dari Tuan Andreas.


*****


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dokter?" tanya Arya pada dokter pribadi yang ia hubungi sesaat setelah kepergian Elisa. Wajah Arya terlihat panik. Ia khawatir sesuatu terjadi pada anak dalam kandungan istrinya.


"Istri Anda baik-baik saja, Tuan. Hanya saja tadi sempat terjadi beberapa kali. Mungkin karena Nona Rengganis terlalu emosi, tapi sekarang sudah kembali normal."


"Kontraksi? Apa itu berbahaya, Dok?" tanya Arya kembali. Ia ingin memastikan keadaan anak dan istrinya baik-baik saja.


"Bisa saja berbahaya jika di biarkan terlalu lama. Sebaiknya Anda menjaga emosi Nona Rengganis agar tidak terlalu stres. Sekarang saya akan resepkan vitamin serta obat yang harus di minum istri Anda selama berapa hari ke depan."


Arya menghela napas lega. Ia bersyukur Rengganis dan anaknya dalam keadaan baik.


*****


Elisa melangkah masuk ke dalam rumah dengan makian yang terus keluar dari bibirnya. Bagaimana ada seorang pria yang tega membiarkan wanita dalam keadaan terluka. Jangankan mengobati, peduli pun sepertinya tidak.


Elisa merengut kesal, lantas menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan tengah. Tampak Mbok Nah yang datang dari belakang menghampiri Elisa sambil berteriak panik, "Ya ampun! Wajah Nona Elisa kenapa?" Mbok Nah melihat goresan merah yang ada di pipi majikannya. Dengan cepat di ambilnya kotak obat lalu segera membersihkan luka itu.


"Aww, sakit Mbok, pelan-pelan." Elisa meringis kala kapas yang sudah di tetesi cairan antiseptik mengenai luka di wajahnya.


"Saya panggilkan, dokter ya, Non? Mbok takut lukanya nanti infeksi." "Nggak usah Mbok, aku nggak apa-apa," tolak Elisa.


"Tapi, Non ... "


"Aku capek, Mbok. Aku mau ke kamar dulu." Elisa segera melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Mbok Nah hanya bisa pasrah membiarkan sang majikan perempuannya pergi. Entah apa yang akan ia jelaskan nanti, jika Tuan Andreas tahu putri kesayangannya terluka.


MAAF AGAK GARING PEMIRSA!!!

__ADS_1


__ADS_2