
"Mas, kira-kira kita akan kasih kado apa ya buat Mama nanti?" tanya Rengganis di sela-sela makan malamnya dengan Arya.
"Apapun yang kamu berikan Mama pasti akan menyukainya," jawab Arya meyakinkan sang istri.
Rengganis tersenyum senang mendengar jawaban Arya yang selalu bisa membuatnya tenang. Beberapa hari yang lalu Mama Anggi datang berkunjung ke rumah mereka. Mama Anggi mengundang anak dan menantunya untuk datang ke acara ulang tahunnya yang akan di adakan akhir pekan. Mama Anggi akan mengadakan party kecil-kecilan di rumahnya. Sekalian beliau ingin mengenalkan Rengganis pada teman-teman sosialitanya.
ππππππ
Beberapa hari kemudian ...
Pesta di adakan di halaman belakang. Taman sudah di hias sedemikian rupa oleh para pelayan sejak pagi tadi. Beberapa tamu undangan sudah nampak hadir dan memberi selamat kepada sang pemilik acara. Namun dari tadi Mama Anggi gelisah karena anak dan menantunya belum juga datang.
"Selamat ya, Jeng, semoga panjang umur, dan bahagia selalu," ucap Nyonya Rani memeluk besannya.
"Makasih Jeng Rani, ayo silahkan di nikmati pestanya." Mama Anggi tersenyum ramah
"Oh iya, apa Rengganis dan Arya belum datang?"
"Kelihatannya sih belum, mungkin mereka terjebak macet. Maklumlah ini 'kan malem minggu," jawab Mama Anggi lagi.
Tidak lama kemudian Rengganis dan Arya muncul dari arah depan, mereka melewati para tamu untuk mencari keberadaan sang mama.
"Mas itu Mama Rani dan Mama Anggi ada di sana," ucap Rengganis menunjuk keberadaan kedua orang tuanya.
"Ayo kita temui mereka dulu." Arya menggandeng tangan Rengganis kearah dua wanita itu.
"Maaf, Ma, kita sedikit terlambat," ucap Arya saat sampai di hadapan sang mama.
"Tidak masalah, pestanya juga belum di mulai." Mama Anggi menatap anak dan menantunya dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Ma. Ini ada hadiah kecil dari kami, semoga Mama suka." Rengganis memeluk sang mama dan memberikan sebuah hadiah berbentuk kotak kecil.
"Makasih, Sayang, Mama pasti suka hadiah dari kalian." Mama Anggi tersenyum senang.
"Apa kabarnya, Ma?" Rengganis bergantian menyapa Mama Rani yang sejak tadi berdiri di sebelahnya. Wanita itu tersenyum bahagia melihat Rengganis yang sepertinya hidup lebih baik.
"Mama baik, Sayang. Kapan kalian akan berkunjung ke rumah, sepertinya Bu Siti sangat merindukanmu."
Rengganis melirik Arya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Mungkin lain waktu, Ma, kami akan berkunjung." Kali ini Arya yang menjawab.
"Oh ya, Ma, Papa di mana?" tanya Arya pada sang mama.
"Papa ada di dalam, tadi lagi ngobrol sama rekan bisnisnya. Kamu temui dulu papamu, biar Rengganis di sini sama mama," pinta Mama Anggi pada anak lelakinya itu.
"Anak itu selalu tidak tau tempat!" ucap Mama Anggi yang membuat Rengganis merona malu.
Arya masuk ke dalam rumah mencari sang papa yang kini tengah berbincang dengan para rekan bisnisnya. Saat melewati ruang tengah tiba-tiba seorang gadis menyapanya dari belakang.
"Hai, Kak Arya. Apa kabar?" Elisa memasang senyum yang sangat manis.
"Lisa, kenapa kamu ada disini?"
Tentu saja Arya kaget, bagaimana kalau tiba-tiba gadis itu membuat kekacauan pada acara ini.
"Aku juga di undang, lho, sama Tante Anggi buat datang ke acara ulang tahunnya," jawab Elisa santai. "Kak Arya ngapain di sini? Bukannya acaranya di taman belakang ya?" tanya Elisa lagi.
"Bukan urusanmu!" ucap Arya ketus, dan berniat meninggalkan Elisa. Namun tanpa di sangka Elisa malah sengaja menahannya.
__ADS_1
"Kak Arya tunggu!" Elisa langsung memeluk Arya tanpa aba-aba, hingga membuat Arya langsung gelagapan.
"Lepaskan, Lis! Bagaiman kalau ada orang yang melihat kita, mereka bisa salah paham." Arya mencoba melepas tangan Elisa yang kini memeluknya sangat erat.
"Aku merindukanmu, Kak, aku tidak peduli dengan orang lain yang melihat kita," ucap gadis itu tidak tahu malu.
Prankkk!
Tiba-tiba terdengar benda jatuh membentur lantai. Keduanya menoleh seketika, seorang wanita paruh baya tengah menatap mereka dengan sorot mata tajam penuh amarah.
"Apa-apaan kalian!" teriak Mama Anggi pada dua makhluk berbeda jenis kelamin itu.
"Arya! Mama tidak pernah mengajari kamu menjadi lelaki yang pengecut seperti ini!" ucap Mama Anggi dengan napas yang naik turun.
Arya yang terkejut langsung melepas kasar pelukan Elisa dari tubuh nya. Gadis itu terhuyung hingga hampir jatuh mengenai lantai.
"Ini tidak seperti yang Mama lihat, tadi Elisa hampir jatuh, makanya Arya membantunya, Ma.".Arya berbohong karena tidak ingin melihat sang mama marah. "Iya, kan, Lis?"
"Iβiya, Tante, tadi aku hampir terjatuh, terus Kak Arya yang nolongin aku. Maaf ya, Tante," ucap gadis itu membenarkan ucapan Arya.
"Awas saja, jika kalian berani menyakiti menantu Mama!" ancam Mama Anggi lagi.
"Tidak mungkin, Ma. Aku sangat mencintai Rengganis," ucap Arya dengan sangat tulus.
"Oke, mama percaya kali ini, jangan sampai kamu buat Rengganis kecewa Arya, dia gadis yang baik."
Arya mengangguk, lantas tanpa banyak bicara segera meninggalkan tempat di mana Elisa masih berada.
Elisa hanya mengepalkan kedua tangannya mendengar percakapan mereka. Kenapa semua orang menyayangi Rengganis? Elisa berlalu begitu saja dengan perasaan yang sangat murka.
__ADS_1