
"Kamu ... hamil?"
Rengganis masih menampik semua pikiran buruk yang bersarang di otaknya. Ia mencoba menahan tubuhnya yang nyaris limbung karena melihat kejadian di depannya ini.
"Mas, ini maksudnya?"
"Ya, aku hamil Aku memang hamil," ucap Elisa seraya mengelus perutnya yang terlihat membuncit. "Lalu, apa masalahnya?"
"Lis .. ! "Arya menyela cepat ucapan Elisa, seraya melepaskan tangan Elisa yang masih bergelayut manja di lengannya.
"Dan ini anak ... "
"Cukup, Lis!" sentak Arya cepat. Arta tidak ingin Rengganis mendengar pengakuan dari Elisa. Tidak! Ia belum siap.
"Kenapa sih, Kak, kita tidak terus terang saja.
"Maksudnya? Terus terang apa?" tanya Rengganis dengan wajah bingung.
"Sayang ... " Arya menghampiri Rengganis dan memeluknya, "Maaf, aku akan menjelaskan semuanya di rumah," ungkap Arya penuh permohonan.
"Kenapa harus di rumah? Kenapa tidak di sini saja!" balas Rengganis menatap penuh curiga.
"Aku sebenarnya ..." Arya bingung harus menjelaskannya dari mana. Sudah banyak kebohongan yang selama ini ia lakukan pada Rengganis. Tidak mungkin ia bilang pada istrinya, kalau saat ini ia di tuduh menghamili Elisa? Aa yang akan Rengganis pikirkan, jika wanita itu sampai melihat rekaman CCTV, padahal semua bukanlah rekaman yang asli.
Arya masih bungkam, mencari kalimat yang cocok untuk menjelaskan pada istrinya itu, sebelum tiba-tiba Rengganis kembali membuka suara, "Mas, sebenarnya ada apa ini? Dan, kenapa kamu bersamanya?" Rengganis menuntut penjelasan Arya.
Arya masih terdiam seraya menghela napas panjang. Sngguh, Arya tidak menyukai situasi ini. Memberanikan diri menatap istrinya, Arya menyerah. Mungkin kali ini Arya memang harus mengatakannya.
"Sebenarnya ini anak Kak Arya," sela Elisa cepat, "Ya, anak yang aku kandung ini adalah darah daging Kak Arya," ulang Elisa sekali lagi. Elisa sudah tidak sabar lagi menunggu Arya yang sedari tadi diamtanpa membuka suara. Rengganis harus tahu, sekarang atau besok, bukankah sama saja. Akhirnya juga akan tahu.
Duarrrr!
"Hah ... "
Tubuh Rengganis benar-benar limbung, jika saja Arya tak segera menahannya. Rengganis yang masih bingung hanya menatap kosong pada pria yang tengah memeluknya kini. Hamil? Anak Mas Arya? Dua kalimat itu masih berputar-putar di kepalanya. Mengerjap dua kali, Rengganis menggeleng tak percaya. "Mas ... ?" Pandangannya kini menajam menatap wajah suaminya.
"Ini bohong kan, Mas? Kalian pasti bercanda?" Arya tertegun menatap bingung, tidak tahu harus berbuat apa. "Kamu tenang dulu ya."
Rengganis menggeleng lagi. Kali ini dengan kristal bening yang sudah terkumpul di pelupuk mata. "Mas, tolong jelasin sama aku" pintanya lirih.
"Aku di jebak," ujar Arya ragu, lalu memberi sebuah kecupan di kening sang istri. "Aku di tuduh menghamili Elisa."
__ADS_1
Jadi, benar? Elisa hamil?
"Bohong!" teriak Elisa sekuat tenaga. "Ini memang anak Kak Arya!" jawab Elisa dengan napas yang memburu.
"Lis...!!!"
"CUKUP!" Rengganis berteriak, hingga beberapa orang yang sedang lewat menatap ke arahnya. Dada Rengganis terasa sesak dan sakit, bahkan ia lupa kalau sekarang ia sedang ada di tempat umum. "Mas, ini nggak mungkin kan?" Kristal bening itu akhirnya luruh juga.
"Sayang ... " Arya kembali membawa Rengganis ke dalam pelukannya.
"Lepas!" sentak ia cepat, "Kamu bohongin aku, Mas! Kamu udah nyakitin aku!" Air mata Rengganis semakin deras.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" Supri yang sedari tadi melihat pertengkaran itu segera menghampiri majikannya.
"Ayo kita pergi, Pak!" ajak wanita itu pada sang supir.
"Sayang, tunggu!" Arya menarik tangan Rengganis hingga tubuh wanita itu berbalik menghadapnya.
"Apa sih, Mas!" Melotot tajam. "Lepas!" Menghempaskan tangan Ary dengan kasar. Rengganis berjalan menuju mobil, dan segera masuk ke dalam.
Arya yang melihat tubuh istrinya menjauh segera bergegas ingin mengejarnya. "Kamu apa-apaan sih, Kak!" Elisa langsung meraih tangan Arya. "Kamu mau ninggalin aku sendirian di sini?" Elisa sudah berkacak pinggang.
"Lepas! Kamu keterlaluan, Lis!" Kedua mata Arya menyorot tajam, sambil mendorong bahu Elisa.
"Bukan aku yang keterlaluan, tapi KAMU!" menunjuk wajah Arya tak kalah tajam. "Kamu yang terlalu pengecut buat ngakuin semuanya," ucapnya lirih. Air mata Elisa lolos begitu saja. "Aku capek Kak, tolong antar aku pulang saja."
"Aku akan memanggilkan taksi untukmu."
"Kak ... !"
"Cukup, Lis! Aku sudah tidak peduli lagi. Sekarang Rengganis sudah tahu semuanya, kau tidak punya alasan untuk mengancamku lagi!" jawab Arya seraya bergegas meninggalkan Elisa yang masih menangis terisak.
"Keterlaluan kamu, Kak!" pekik Elisa di sela-sela tangisnya.
πππππ
"Tolong lebih cepat lagi, Pak!" ucap Rengganis pada pria yang duduk di belakang kemudi.
"Baik, Nona." Mobil melaju membelah jalanan kota yang nampak sedikit lengang. Rengganis mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir begitu saja tiada henti. Rengganis baru sadar setelah mengingat kembali kepingan-kepingan kejadian beberapa bulan terakhir ini. Jika di lihat usia kandungan Elisa saat ini tengah menginjak usia 5 bulan. Artinya kejadian itu bertepatan dengan pekerjaan suaminya yang ada di luar kota. Oh,Ya Tuhan ... Rengganis memukul dadanya yang terasa sesak. Ia masih tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Eh, iya Pak. Saya baik-baik saja." Rengganis tersentak dari lamunannya, lalu segera menghapus air mata di pipi. "Kita ke rumah Mama aja, Pak."
"Tapi, nanti, Tuan ... "
"Tidak akan! Kalau Pak Supri tidak mau mengantar, biar saya naik taksi aja!"
"Bukan seperti itu maksud saya, Nona." Supri nampak takut dengan ancaman dari Rengganis.
"Tolong berhenti, Pak, saya akan turun!"
"Jangan, Nona. Baiklah, saya akan mengantar Anda." Rengganis mendengus kesal. Mengapa kini Pak Supri ikut-ikutan membela suaminya, atau jangan-jangan...?
Apa selama ini Pak Supri tau segalanya ...
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Nyonya, apa sebaiknya kita beritahu Rengganis tentang masalah ini, saya merasa kasihan kalau terus pura-pura tidak tahu," ucap Bu Siti di tengah-tengah obrolannya dengan Nyonya Rani.
Sebenarnya ia merasa tidak tega karena membohongi putrinya. Tapi mau bagaimana lagi, Bu Siti tidak ingin terjadi apa-apa dengan Rengganis dan kandungannya.
"Sebaiknya jangan dulu, Bi, kita tunggu hasil tes DNA keluar dulu. Setelah itu, biar Arya yang menjelaskan langsung pada Rengganis."
"Baiklah, semoga hasilnya seperti yang kita harapkan."
Prangggg!
Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh, di sertai isak tangis dari seorang wanita yang ada di balik pintu. Dua wanita itu secara reflek menengok ke asal sumber suara.
"Jadi beneran, Elisa hamil anak Mas Arya?" tanya Rengganis dengan suara terbata. Tubuhnya seakan lemas tanpa tulang setelah mendengar obrolan dua wanita paruh baya itu.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Nyonya Rani.
"Tidak seperti apa, Ma?" tangis Rengganis semakin kencang.
Rengganis menggeleng seraya bersuara lagi, "Aku terluka, Ma. Hati aku saki." Rengganis mengatur napasnya yang masih memburu. Saat ini ia merasa menjadi wanita yang paling bodoh. "Kenapa kalian jahat sekali?"
"Maaf, mama tidak bermaksud membohongimu, Nak?"
"Apa selama ini Mama dan Ibu tahu?" tanya Rengganis dengan suara lirih. Kedua wanita itu saling menatap penuh penyesalan. Seharusnya mereka memberitahunya sedari awal agar Rengganis tidak semakin terluka. Tapi kini semuanya sudah terlambat.
"Nak ... " Bu Siti berjalan mendekati Rengganis yang masih diam menatapnya. "Ibu minta maaf."
__ADS_1
Rengganis kembali menggeleng, "Tidak, Bu, ini bukan salah kalian." Rengganis menepuk dadanya yang tiba-tiba sesak. "Mungkin aku yang terlalu bodoh mengartikan sikap Mas Arya selama ini." Tubuh Rengganis jatuh merosot ke lantai, di sertai air matanya yang semakin deras. Detik selanjutnya ...
"Rengganis ... !"