
"Rangga...?Apa_apaan kamu!"Nyonya Yuni langsung menarik tangan sang anak dan membawanya ke ruangan lain untuk meminta penjelasan.
"Maksud Mama apa...?"Rangga malah bertanya balik,dan bersikap santai seakan ia tidak tau apa pun.
"Kenapa kamu membawa seorang gadis...?"Wanita itu sudah terlihat geram,karena Rangga malah pura_pura tidak mengerti dengan apa yang ia katakan.
"Bukan kah Mama dan Papa sendiri yang meminta Rangga membawa seorang gadis,lalu apa masalahnya sekarang?"Masih bersikap santai dan sok cuek.
Nyonya Yuni hanya mengeram frustasi,sambil memijit kepalanya yang tiba_tiba berdenyut.
Memang ia pernah mengatakan itu pada Rangga,tapi kenapa baru sekarang putranya itu membawa seorang gadis,setelah ia merencanakan perjodohan dan sekarang,keluarga sang gadis sudah ada di depan matanya.Tapi Rangga malah membawa gadis lain,dan memperkenalkan nya sebagai kekasih.
"Kamu tau 'kan,kalau malam ini keluarga Wilson akan makan malam di sini?Harusnya kamu tidak membawa seorang gadis,dan melukai perasaan mereka?"Nyonya Yuni masih bersikap sabar pada putranya itu,berharap Rangga akan berubah pikiran dan menerima perjodohannya kembali.
"Justru itu,Rangga sengaja membawa Andira kemari,bukan kah Mama ingin mengenal wanita yang selama ini di cintai oleh Rangga 'kan?"Balas Rangga lagi.
"Tidak...!Sekarang Mama hanya ingin melihat kamu menikah dengan Laura,bukan dengan gadis itu."Ucap Mama Yuni tegas,seakan ia lah yang paling berhak menentukan hidup untuk putranya itu.
"Rangga tidak bisa menikahi Laura."
"Kenapa?Apa yang kurang darinya Rangga,dia cantik dan berasal dari keluarga yang sederajat dengan kita."
"Ma...?"Rangga menyela cepat,sambil menahan gemuruh yang ada di hatinya.
Kenapa selalu seperti ini?
Derajat yang selalu menjadi penghalang bagi dirinya.
"Tolong pertimbangkan lagi,Rangga?Mama mohon...?"Wanita itu tampak memelas,di sertai dengan tatapan sendu darinya.
Rangga hanya menggeleng,membalas ucapan dari Mama Yuni.
Ia juga bingung harus menjelaskannya dari mana,tidak mungkin sekarang ia membongkar kebusukan gadis itu,dan membuat keluarganya malu.
"Rangga benar_benar tidak bisa,Ma?Lagi pula Mama sudah janji 'kan,kebahagiaan Rangga yang utama,dan sekarang Rangga tengah merasakan itu."
Nyonya Yuni menghela napas pelan,percuma saja sekarang ia berdebat,lebih baik ia kembali ke meja makan dan berharap Keluarga Wilson tidak merasa tersinggung dengan kedatangan gadis asing yang di bawa oleh putranya.
"Maaf semuanya,tadi ada urusan sebentar dengan putra saya,Rangga."Nyonya Yuni tersenyum,lalu duduk di tempatnya kembali sambil menatap tak suka pada gadis yang di bawa oleh Rangga tadi.
Andira yang merasakan tatapan tidak bersahabat dari Nyonya Yuni hanya bisa menunduk dan menelan saliva nya kasar.
Sedari tadi Andira merasa sangat canggung,apalagi saat Rangga meninggalkannya sendiri di meja makan bersama orang_orang yang tidak ia kenal.
Beruntung Tuan Wijaya sedikit bersikap baik,dan sempat mengajaknya berbicara,hingga Andira tidak merasa gugup dan terlalu tegang.
Hingga makan malam selesai tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara,semua larut dalam pikirannya masing_masing,dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
"Ayo Pa,kita pulang."Nyonya Wilson mengajak suaminya pulang dan melempar tatapan sinis pada Nyonya Yuni yang ada di depannya.
"Ma,kita kan belum berbincang?Mama tidak lupa 'kan tentang perjodohan kami."Laura mencegah cepat sebelum kedua orang tuanya melangkah menuju pintu keluar.
"Perjodohan...?Cih_____."Nyonya Wilson tersenyum miris melihat putrinya yang begitu kekeh membahas tentang perjodohannya dengan Rangga.
"Kamu tidak lihat apa yang mereka lakukan pada kita?Jelas_jelas Rangga tidak menyukaimu,dan dia malah sengaja membawa seorang gadis kemari."Nyonya Wilson sampai harus menahan langkahnya hanya untuk meladeni pertanyaan putrinya yang tidak penting.
__ADS_1
"Ma...?"
"Ayo lah,sayang?Untuk apa kamu menyukai laki_laki seperti itu,bahkan di luar sana masih banyak laki_laki yang lebih hebat darinya."Kali Ini Nyonya Wilson malah sengaja menghina Rangga di depan kedua orang tuanya.
"Nyonya jaga ucapan Anda...!"Tuan Wijaya sangat tidak terima mendengar Rangga di rendahkan di depan matanya sendiri.Namun berbeda dengan Nyonya Yuni,wanita itu masih menganggap maklum sikap mereka,karena memang ini semua kesalahan putranya.
"Memang itu kenyataannya 'kan...?"
Tuan Wijaya mengepalkan kedua tangannya,ia benar_benar merasa tersinggung dengan ucapan Nyonya Wilson baru saja.
"Ma...?"Laura menarik pelan Sang Mama yang sudah mulai bersitegang dengan Tuan Wijaya,dan mencoba membujuk wanita itu agar tidak lagi berbicara sembarangan.
"Kenapa Mama berbicara seperti itu?"
"Untuk apa kamu membelanya,Mama bisa kok mencarikan laki_laki yang lebih pantas daripada dia."Nyonya Wilson sama sekali tidak peduli dengan bujukan Laura,ia malah terlihat semakin senang karena Tuan Wijaya merasa terprovokasi.
"Tutup mulut Anda,Nyonya?Atau saya akan memanggil satpam untuk menyeret kalian semua."Ancam Tuan Wijaya seketika,wajahnya sudah memerah menahan emosi yang siap meledak.
Laura langsung mengkerut ketakutan melihat amarah Tuan Wijaya yang siap melahapnya habis,ia memilih bersembunyi di balik tubuh sang Ayah yang sedari tadi diam tanpa memberi respon apapun.
"Ma...?"Kali ini Tuan Wilson yang maju,ia segera menahan sang istri agar tidak lagi melanjutkan kata_katanya yang sedari tadi mengoyak harga diri Tuan Wijaya sebagi orang tua Rangga.
"Sudah,Pa?Jangan emosi,ingat apa kata Dokter kemarin."Nyonya Yuni mencoba menenangkan Tuan Wijaya yang sudah terbakar emosi.Ia tidak mau penyakit jantung suaminya kembali kambuh dan akan berakibat buruk.
Tuan Wijaya tampak mengatur napasnya agar kembali normal,dan langsung melangkah meninggalkan tempat itu tanpa berbicara sedikit pun.
Rangga dan Andira yang sedari tadi menyaksikan perdebatan kedua keluarga itu kini melangkah mendekat.
Laki_laki itu sengaja menggandeng tangan Andira mesra,agar terlihat keduanya benar_benar sepasang kekasih.
"Sebaiknya Anda semua segera pulang."Ucap Rangga pada keluarga Wilson yang masih berdiam diri di tempatnya tadi.
"Cih,tanpa kalian usir 'pun kami akan segera pulang."Jawab Nyonya Wilson ketus,wanita itu semakin tidak suka melihat Rangga yang sengaja mengabaikan putrinya.
"Baiklah,pintunya ada di sebelah sana."Rangga menunjukkan pintu keluar pada keluarga itu agar mereka segera angkat kaki dari rumahnya.
"Ayo Ma,Kita pulang."Ajak Tuan Wilson pada istrinya.
"Tapi,Pa...?"Laura masih saja tidak rela jika harus pergi begitu saja dari rumah itu tanpa penjelasan apapun.
"Apalagi,Nak...?"Tuan Wilson masih bersikap tenang melihat Laura yang sepertinya sudah jatuh cinta pada Rangga.
"Kita belum ada kesepakatan apapun dengan mereka."Laura memeluk sang Papa dan menatap wajah laki_laki paruh baya itu.
"Aku benar_benar sudah jatuh cinta sama Rangga,Pa."Ucap Laura kembali.
Tuan Wilson menghela napas pelan,menatap wajah Laura yang terlihat memelas.Kenapa kejadiannya jadi serumit ini,ia pikir malam ini semuanya akan berjalan lancar,dan akan ada kesepakatan dari keduanya.
Tapi sekarang malah hubungan keduanya hancur,dan yang lebih ia sesali ternyata Laura sudah benar_benar mencintai laki_laki itu.
"Kita bisa bicarakan lagi besok."Tuan Wilson membujuk Laura agar mau pulang dan tidak kembali merengek.
"Tapi,Pa...?"
"Pulang...!Apa kamu mau Mama sendiri yang menyeret mu dari sini."Teriak Nyonya Wilson keras.
__ADS_1
"Untuk apa membela laki_laki seperti itu,ah...tidak berguna."Nyonya Wilson masih terus memaki di sepanjang perjalanan pulang,sambil sesekali menyayangkan sikap Laura yang terlihat sangat berharap.
Padahal ia sudah melihat sendiri bagaimana sikap Rangga yang mengabaikannya dan tidak peduli sama sekali.
*****
"Harusnya Papa tidak berbicara seperti itu tadi."Ucap Nyonya Yuni pada suaminya,kini kedua nya telah berada di dalam kamar dan tengah bersiap untuk istirahat.
"Apa maksud Mama?"
"Papa tidak harus marah_marah dan menyinggung perasaan mereka."Ucap Nyonya Yuni lagi.
"Apa yang Mama ucapkan...?Menyinggung?Harusnya perkataan itu lebih cocok di tujukan untuk mereka.Bagaimana mungkin Papa diam saja mendengar Rangga di hina seperti itu."Jawab Tuan Wijaya tidak mengerti,ia bingung kenapa istrinya itu begitu membela keluarga Wilson sampai harus punya rencana menjodohkan Rangga dengan putri dari keluarga itu.
"Karena itu memang salah Rangga,Pa?Tidak seharusnya Rangga membawa seorang gadis di acara makan malam tadi."
"Rangga tidak salah Ma,dia hanya ingin kita tau kalau dia telah menemukan wanita yang ia cintai."Tuan Wijaya membela anaknya lagi,ia yakin Rangga punya maksud tertentu hingga berani membawa seorang gadis.
"Apa Papa akan menerima gadis itu?"Tanya Nyonya Yuni,ia menatap wajah suaminya yang terlihat lebih santai.
"Kenapa tidak,kalau mereka sama_sama menyukai,dan Papa lihat dia gadis yang baik."
"Papa tau apa sih soal wanita,kita 'kan belum tau tentang asal_usul gadis itu?"Ucap Nyonya Yuni tidak terima.
"Sekarang asal_usul tidak penting lagi,Ma?Tolong,Mama jangan menghalangi kebahagiaan Rangga lagi,Mama tidak ingat kenapa Rangga jadi seperti ini?"Tuan Wijaya kembali mengingatkan campur tangannya soal hubungan Rangga dan Rengganis dulu,yang berusaha memisahkan mereka,dan akhirnya membuat Rangga menutup diri.
Nyonya Yuni tampak terdiam tanpa berani membalas kata_kata suaminya lagi,ia memang merasa bersalah waktu itu.Tapi tetap saja ia tidak rela jika putra satu_satunya menikah dengan seorang gadis yang tidak jelas asal_usulnya.
*****
Di ruang tengah tinggal Rangga dan Andira yang masih diam setelah berhasil membuat keluarga Wilson pergi dengan sedikit mengusir.
Laki_laki itu melihat Andira yang sudah terlihat lelah dan mengantuk.Mungkin karena dari pagi gadis itu sudah lelah bekerja,di tambah sekarang sudah sedikit larut,membuat tenaganya mungkin terkuras habis.
Rangga mengajak Andira menuju mobil,dan akan segera mengantarnya pulang menuju restoran.
"Tuan...?"Andira berbicara pelan sambil menahan kantuk yang sedari tadi ia tahan.
"Hem...?"Rangga masih fokus menatap jalan di depannya.
"Apa saya bisa menagih janji Anda sekarang?"Ucap gadis itu sedikit takut,ia menggigit bibir bawahnya pelan,sambil menunggu reaksi dari laki_laki di sampingnya.
"Katakan..?"
Andira terdiam sejenak,sambil menyusun kata yang pas untuk ia ucapkan,sedangkanLaki_laki itu masih menunggu Andira yang sedari tadi meremat ujung gaun yang ia pakai.
"Katakan,apa yang kamu inginkan...?"Rangga mengulang kembali pertanyaannya.Membuat Andira mendongak dan menatap wajah laki_laki itu yang hanya terlihat dari samping.
"Apa saya bisa meminta________...???"
LIKE
KOMEN
πππ
__ADS_1