Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Tes DNA


__ADS_3

Tiga bulan berlalu dengan begitu cepatnya. Sekarang usia kandungan Rengganis memasuki minggu ke 28. Wanita itu nampak semakin cantik dan seksi, apalagi saat mengenakan daster rumahan yang biasa ia gunakan.


Setiap satu minggu sekali Rengganis rutin mengikuti senam hamil seperti yang di sarankan oleh Dokter kandungan. Kadang ia akan pergi berdua bersama Arya, atau di antar supir pribadinya saat Arya sedang tidak bisa menemani, ataupun ada urusan pekerjaan yang mendadak. Rengganis sangat bahagia menjalani kehamilannya.


Rengganisa membeli beberapa perlengkapan bayi untuk calon anaknya kelak. Baju-baju bayi yang lucu dengan motif yang sama, namun berbeda warna menjadi pilihannya.


Rengganis dan Arya memilih warna-warna natural karena mereka sengaja, tidak ingin mengetahui apa jenis kelamin anaknya itu. Bagi mereka, moment Rengganis melahirkan nanti akan jadi sebuah kejutan untuk keluarga besarnya.


Arya berharap, laki-laki ataupun perempuan tidak masalah. Arya akan tetap menerimanya dengan rasa syukur, yang terpenting adalah melihat istri dan anaknya dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apapun.


*****


Sedangkan Elisa, kini usia kandungannya sudah menginjak minggu ke 20. Sekarang gadis itu tidak pernah lagi datang ke kantor, karena tidak ingin semua karyawannya mengetahui jika dirinya tengah hamil. Tuan Andreas hanya mengatakan kepada seluruh karyawan kantor bahwa putrinya sudah kembali ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya di sana, dan tak tahu kapan akan kembali.


Semua karyawan, termasuk Roy awalnya bertanya-tanya, mengapa mendadak anak bosnya itu kembali keluar negeri? Padahal dia baru bekerja beberapa minggu saja di perusahaan ini. Tapi karena merasa itu bukan urusan mereka, para karyawan pun memilih diam dan tidak lagi ingin tahu mengenai gadis itu.


Hari ini tepat lima bulan usia kehamilan Elisa. Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, seluruh keluarga besar Pratama dan Andreas tengah bersiap-siap menuju Rumah Sakit untuk melakukan tes DNA.


Arya pagi sekali sudah rapi dengan pakaian kantor mengundang banyak pertanyaan di hati Rengganis. Wanita itu melirik jam dinding di kamar tidurnya, di sana masih menunjukkan pukul enam pagi. Tapi, suaminya itu seperti sangat terburu-buru, terlihat dengan jelas saat Arya bergegas hendak keluar kamar tanpa menyadari Rengganis yang tengah menatapnya sedari tadi.


"Mas?"


"Hemmm ... "


"Mas ... ?"


"Kamu mau kemana? Masih terlalu pagi." Rengganis beranjak duduk, dan menyibakkan selimutnya.


"Tentu saja ke kantor, memang kemana lagi?"jawab Arya menghentikan langkah kakinya yang hampir mencapai pintu.

__ADS_1


"Tapi ini masih jam enam pagi, Mas?"


"Iya, aku tahu. Papa menyuruhku untuk mampir ke sana dulu," jawab Arya berbalik menghampiri istrinya.


"Untuk?"


"Ada beberapa berkas yang harus di tandatangani Papa." Arya mendekat dan memberi sebuah kecupan singkat di bibir. "Aku pergi dulu. Jangan lupa sarapan." Mengusap pipi istrinya, kemudian beralih ke perut. "Ayah berangkat dulu ya, Sayang." Mengusapnya dengan lembut, lalu memberinya kecupan juga.


Rengganis hanya tersenyum melihat tingkah Arya yang menurutnya begitu sangat menggemaskan. Kemudian ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


.


.


.


"Bagaimana, apa kau sudah lakukan sesuai permintaanku?" tanya Tuan Pratama pada seseorang yang ada di seberang sana.


"Bagus. Tugaskan beberapa orang untuk mengawasi Rumah Sakit itu sampai hasil tes DNA keluar. Aku tidak ingin sampai ada kecurangan."


"Baik Tuan."


klik,


Tuan Pratama menutup telepon. Ia menghembuskan napas lega karena rencananya berjalan dengan lancar. Tuan Pratama tidak ingin ada kesalahan ataupun kecurangan. Untuk itu diam-diam Tuan Pratama meminta orang suruhannya mengawasi rumah Sakit itu 24 jam tanpa sepengetahuan siapapun.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Mari Nona Elisa, silahkan ikut saya ke dalam. Untuk Tuan Arya nanti setelah pemeriksaan Nona Elisa selesai." Dokter Rara menuntun wanita hamil itu untuk segera masuk ke ruangan pemeriksaan.

__ADS_1


"Baik, Dok," jawab Elisa beranjak mengikuti Dokter Rara menuju ruangannya.


Beberapa menit kemudian ...


Elisa keluar ruangan pemeriksaan bersama Dokter Rara yang tadi telah selesai melakukan tugasnya. "Sekarang giliran Tuan Arya, mari silahkan." Arya segera beranjak dari duduknya mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruangan.


Di luar nampak dua keluarga besar tengah menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan itu. Terlihat Nyonya Anggi dan Tuan Pratama yang duduk berdampingan menunggui putranya. Dari keluarga Andreas juga terlihat Nyonya Sintia dan Elisa yang duduk tidak sabar di depan ruangan Dokter Rara.


10 menit kemudian...


Dokter Rara keluar dari ruangannya bersama Arya dan satu orang Perawat.


"Bagaimana, Dok, apa hasilnya bisa langsung di lihat?" tanya Tuan Andreas tak sabar. Mereka sudah berdiri menghampiri Dokter Rara yang masih nampak kebingungan.


"Maaf Tuan dan Nyonya, hasilnya belum bisa di lihat sekarang, silahkan menunggu dua minggu lagi," jawab Dokter Rara dengan tenang.


'Kenapa lama sekali? Apa tidak bisa di percepat?"


"Maaf Tuan, memang hasil tes DNA akan keluar setelah dua minggu, silahkan Anda menunggu. Nanti jika hasilnya sudah keluar kami akan menghubungi Anda."


Ah sial, kenapa harus menunggu lagi!


*****


"Sebenarnya Tuan Andreas hendak pergi kemana, kenapa tiba-tiba meeting di undur dua jam lagi?" gumam Roy dalam hati.


Roy sangat terkejut saat pagi sekali Tuan Andreas menghubunginya dan menyuruh Roy mengundur meeting yang sudah di jadwalkan sejak jauh hari.


Tentu saja Roy kelabakan, bagaiman ia akan berbicara pada para koleganya. Mencari alasan yang masuk akal jika keadaannya mendadak seperti ini.

__ADS_1


Tidak ingin membuat koleganya kecewa, Roy terpaksa mengatakan bahwa Tuan Andreas sedang sedikit tidak enak badan. Tuan Andreas di haruskan untuk pergi ke rumah sakit lebih dulu, dan beruntung mereka percaya saja.


__ADS_2