
Pagi hari setelah selesai sarapan keduanya bersiap untuk meninggalkan hotel. Mereka berencana akan langsung menempati rumah pribadi Arya yang di beli beberapa tahun yang lalu. Rengganis yang masih merasa canggung hanya bisa duduk terdiam tanpa tahu Arya akan membawanya ke mana. Sampai mobil berhenti di sebuah rumah mewah namun masih terasa asing bagi Rengganis. Arya belum menceritakan apa-apa tentang rencana mereka setelah menikah nanti
Mereka turun dari mobil di sambut oleh beberapa pelayan di rumah itu yang langsung sigap membawa barang-barang mereka. Saat melangkah masuk ke dalam rumah Rengganis terpesona akan penataan barang-barang yang begitu sangat apik. Arya mengajak Rengganis menaiki tangga dan masuk kedalam kamar yang sangat besar, .ungkin ukuran kamar itu hampir sama dengan rumah
nya di kampung dulu.
"Ini kamar kita, kau boleh mengubahnya jika ada yang tak suka," ucap Arya membuyarkan lamunan Rengganis.
"Kamar ki–ta? Maksudnya ... aku dan kamu tidur satu kamar?" tanya Rengganis dengan polosnya.
"Lalu apa lagi, kita sudah menikah, bukan? Jadi, memang seharusnya kita tidur satu kamar, kan?" Arya tak habis pikir dengan pertanyaan Rengganis, apa mungkin dia tak sudi satu kamar dengannya.
__ADS_1
"I–iya. Aku akan membereskan baju-baju kita di dalam koper. Tapi, di mana aku harus menaruh pakai ini?" tanya Rengganis bingung.
"Kau bisa menaruhnya di sebelah sana, itu ruangan khusus pakaian. Aku akan mandi. Jangan lupa siapkan pakaianku." Arya berlalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Rengganis yang masih terdiam di tempatnya.
****
Hari-hari Rengganis berjalan seperti biasa. Bedanya kini dirinya telah menyandang status sebagai seorang istri yang mempunyai kewajiban terhadap suaminya. Meski pernikahan mereka sudah bejalan beberapa bulan, namun kedua nya tak pernah melakukan kontak fisik. Itu karena Arya menghargai Rengganis yang mungkin belum bisa sepenuhnya merima pernikahan ini.
Di meja makan telah tersaji berbagai macam hidangan istimewa yang Nyonya Pratama siapkan untuk menyambut anak dan menantunya. Arya adalah anak satu-satunya keluarga itu. Jadi mereka sangat kesepian saat Arya memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri setelah menikah.
"Nak, apa sudah ada tanda-tanda kamu hamil?" Nyonya Pratama menatap Rengganis dengan sorot mata penuh harap.
__ADS_1
"Uhukkk .... !" Rengganis yang sedang menelan makanan pun reflek tersedak dengan pertanyaan dari sang mama mertua. Bagaimana bisa hamil kalau selama ini mereka tidak melakukan apa-apa, Rengganis bergumam dalam hati.
"Kami sedang berusaha, Ma." Arya menggenggam tangan Rengganis, "iya kan sayang?"
"Iya Ma, doakan kami semoga secepatnya bisa kasih Mama dan Papa cucu." Sebenar ya Rengganis merasa bersalah karena harus membohongi kedua mertuanya itu.
Setelah selesai makan mereka berdua di minta untuk istirahat di dalam kamar yang dulunya di tempati Arya. Rengganis masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaian dengan yang lebih santai. Saat keluar dari pintu kamar mandi sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Apa kau sudah memikirkan permintaan Mama tadi?" Jarak yang begitu dekat membuat Rengganis dapat merasakan hembusan napas Arya yang kini mengenai lehernya.
"A–aku minta maaf, Mas. Aku belum siap," ucap Rengganis terbata, karena sebenarnya Rengganis selalu merasa berdebar saat dekat dengan Arya.
__ADS_1
Arya menghembuskan napas kasar dan melepas pelukan pada tubuh Rengganis. iaberjalan menuju pintu dan membantingnya dengan sangatkencang. Arya memilih masuk ke dalam ruangan kerja miliknya dulu daripada terus-menerus berada dalam satu ruangan dengan istrinya itu.