
"Maaf, Tuan, hari ini ada pertemuan dengan Tuan Andreas di restoran XX," ucap Sariβsang sekretaris membacakan jadwal Rangga hari ini.
"Hemmm ... "
"Kalau begitu, saya permisi,Tuan." Sari undur diri, gadis itu menutup pintu secara perlahan.
"Kenapa sikap Tuan Rangga semakin hari semakin aneh," gumam Sari yang masih berdiri di depan pintu itu.
"Siapa yang aneh?"
Eh...
Sari membalikkan tubuhnya, dan begitu terkejutnya saat tahu siapa orang yang mendengar semua pembicaraannya tadi.
"Maaf, Tuan, bukan siapa-siapa," jawab Sari berbohong.
"Kembalilah bekerja, aku akan menemui Rangga." Tuan Wijaya melangkah meninggalkan Sari yang masih terdiam di depan pintu.
"huhhhhh ... selamat." Sari mengusap dadanya lega.
πππππ
__ADS_1
"Ada apa Papa datang menemuiku?" tanya Rangga tanpa basa-basi melihat kedatangan papanya ke kantor.
"Hei, kau tidak sopan! Apa perlu alasan untuk datang menemui putraku sendiri?"
"Apa ini tentang perjodohan lagi?" tanya Rangga dengan tatapan dingin.
"Papa tidak akan memaksamu lagi. Papa hanya ingin minta maaf," ucap Tuan Wijaya dengan tulus.
"Tidak ada yang perlu di maafkan. Papa tidak salah apa-apa," jawab Rangga sekali lagi.
"Papa janji, kali ini papa akan mendukung apa yang menjadi pilihanmu." Tuan Wijaya menepuk pundak putranya sebelum melangkah menuju pintu.
******
Di salah satu ruangan VIP Tuan Andreas menunggu kedatangan Rangga sejak tadi. Kebetulan pria paruh baya itu tiba lebih dulu. Tidak lama kemudian Rangga datang bersama Sari kedalam menemuinya.
"Maaf Tuan Andreas, saya sedikit terlambat." Rangga menjabat tangan pria itu.
"Tidak masalah Tuan Rangga, saya bisa memaklumi. Pengusaha muda seperti Anda pasti sangat sibuk." Tuan Andreas tersenyum ramah.
"Baiklah, mari kita memulai pembahasan kerja samanya." Rangga meminta Sari mengeluarkan beberapa berkas tentang kontrak kerja sama yang akan mereka bahas.
__ADS_1
"Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Rangga." Tuan Andreas sangat mengagumi kecekatan Rangga tadi saat menjelaskan secara detail apa-apa saja yang akan mereka peroleh untuk kerja sama tersebut.
"Anda terlalu berlebihan Tuan, saya hanya sedang belajar melanjutkan apa yang telah Papa saya jalankan selama ini."
Tuan Andreas tersenyum kecil, "Tuan Wijaya pasti bangga memiliki putra seperti Anda."
Kedua nya nampak berbincang begitu akrab, hingga waktu makan siang tiba, Tuan Andreas dan Rangga memutuskan untuk makan dahulu sebelum mereka kembali ke kantor masing-masing.
Satu jam kemudian ...
"Iya, Pa, ada apa?" Rangga mengangkat telepon dari sang papa setelah beberapa menit lalu tiba di kantor.
"Apa kau sudah menemui tuan Andreas, Nak?" tanya sang Papa di seberang sana.
"Sudah, Pa, mereka menyetujui penawaran yang kita berikan," jelas Rangga pada papanya.
"Baiklah, papa senang mendengarnya. Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu, papa ingin beristirahat." Tuan Wijaya menutup sambungan teleponsetelah berpamitan pada sang putra.
Kenapa Papa jadi aneh begini. Tidak biasanya Papa sepeduli ini, gumam Rangga dalam hati.
Di tempat lain Tuan Wijaya tersenyum penuh kemenangan. Memang kerja sama ini telah ia rencanakan jauh-jauh hari. Tuan Wijaya tahu bahwa Tuan Andreas memiliki seorang putri yang suatu saat juga akan menggantikan posisi papanya di perusahaan. Tuan Wijaya berharap kalau Rangga suatu saat nanti bisa bertemu dengan putri Tuan Andreas dan melupakan nama Rengganis yang selama ini mengisi hatinya.
__ADS_1
Semoga kau cepat bisa melupakan gadis itu Nak, papa tidak mau melihatmu terus-terusan seperti ini.
Maaf dikit dulu yah Say, ngantuk berat nih nggak konsen nulisnya, tolong tinggalkan jejak yahπ