Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Pengakuan Elisa


__ADS_3

Tuan Andreas yang mengetahui Elisa pingsan karena apa langsung meradang. Ia segera meraih ponsel dan menghubungi Roy, karena ingin menanyakan apa saja kegiatan Elisa selama ini. Tuan Andreas menghitung usia kehamilan putrinya sama persis dengan jadwal kepulangannya dari luar kota, maka dari itu Tuan Andreas yakin perbuatan itu terjadi saat Elisa berada di luar kota.


Kini hanya Roy yang di anggap dapat dipercaya. Pria itu sudah mengabdi cukup lama pada keluarga Andreas. Selama ini pun Roy tidak pernah membuatnya kecewa, dan Tuan Andreas sangat yakin jika Roy selalu bisa di andalkan.


Entah berapa puluh kali panggilan, namun Roy tidak juga mengangkatnya. Tuan Andreas bahkan lupa kalau hari ini ada rapat penting, dan Roy yang harus memimpin karena Elisa yang tiba-tiba ijin tidak masuk kantor


Tuan Andreas frustasi. Ia segera meraih kunci mobil dan melangkahkan keluar dari kamar Elisa. Tuan Andreas tidak lagi memperdulikan teriakan istrinya yang menanyakan kemana akan pergi.


Namun lagi-lagi baru setengah perjalanan, Tuan Andreas di kejutkan dengan suara dering ponsel. Terpaksa Tuan Andreas harus menepikan mobilnya,untuk menjawab panggilan dari istrinya.


Tuan Andreas sangat kesal karena Nyonya Sintia memintanya kembali ke rumah. Wanita itu bahkan sempat marah-marah dan mengancam, sebab awalnya Tuan Andreas menolak permintaannya.


Akhirnya Tuan Andreas menuruti permintaan istrinya. Nyonya Sintia mengatakan kalau Elisa sudah sadar, dan akan mengatakan dengan jujur siapa pria yang telah menghamilinya.


Brakkk!


Tuan Andreas masuk ke kamar Elisa dengan membanting pintu sangat keras. Dua wanita yang ada di dalam sana tersentak kaget. Elisa sampai menggigil ketakutan melihat amarah papinya yang sangat menyeramkan. Elisa bahkan baru melihat ekspresi wajah sang papi yang seperti ini.

__ADS_1


"Cepat katakan, siapa yang melakukannya padamu!" teriak Tuan Andreas dengan suara baritonnya.


"Pi ... " Nyonya Sintia mencoba meredam amarah suaminya. Ia sangat kasihan melihat putrinya yang sudah meringkuk ketakutan.


"Diam! Jangan selalu membelanya, Mi. Lihat, akibat Mami selalu memanjakannya, dia jadi tumbuh menjadi liar seperti ini," ucap Tuan Andreas dengan wajah yang memerah.


"Cukup, Pi. Jangan marahi Elisa terus, Papi tidak lihat dia sudah ketakutan seperti ini."


Tuan Andreas memandang Elisa yang masih meringkuk sambil menangis di atas tempat tidur. Ia segera merengkuh tubuh anak gadisnya dan membawanya ke dalam pelukan. "Maaf, papi tidak bisa menjagamu." Mencium puncak kepala putrinya yang kini terlihat sangat menyedihkan.


"Maaf, Pi El udah buat Papi kecewa." Elisa menangis terisak di pelukan sang papi.


Melepas pelukannya, dan mengusap air mata di pipi putrinya, "Papi sudah memaafkanmu. Sekarang katakan pada papi, siapa pria itu?" Menatap wajah Elisa dengan intens. "Papi janji, tidak akan menghukumnya. Papi hanya ingin dia bertanggung jawab atas perbuatannya."


"Tapi ... "


"Sst ... " Tuan Andreas menggelengkan kepalanyabsaat melihat keraguan di mata Elisa. "Tidak akan terjadi apa-apa, jangan takut." Elisa kembali diam.

__ADS_1


"Apa kau ingin lihat papi dan pami sedih?" tanya Papi Andreas lagi.


Elisa menggelengkan kepala. Sungguh ini bukan kemauannya. Memang, Elisa menginginkan pria itu untuk jadi suami, tapi bukan dengan cara seperti ini.


"Apa El mau nanti ketika bayi ini ahir tidak tahu siapa ayahnya?" Tuan Andreas kembali bertanya pada putrinya itu.


Elisa mendongak, menatap wajah pria paruh baya yang ada di depannya. Ada yang sedikit mengusik di hati kecilnya, bagaimana ia bisa punya pikiran seperti ini, membiarkan anak yang tidak berdosa lahir tanpa seorang Ayah. Lalu, bagaimana dengan istri dari pria itu? Bagaimana perasaannya nanti?


Awalnya Elisa berpikir perbuatannya tidak akan menghasilkan kehidupan di rahimnya, mengingat ia melakukannya hanya sekali.Tapi nyatanya, benih itu sudah tumbuh di dalam perutnya. Entah kenapa pikiran Elisa bertolak belakang dengan niat awalnya mengejar pria itu. Dulu mungkin Elisa akan dengan senang hati menikah dengannya, namun kenapa sekarang Elisa sendiri merasa bimbang.


Elisa memilih diam dan menerima semua amarah dari kedua orang tuanya. Bukan lagi tentang itu yang Elisa takutkan, karena sudah jelas tadi papinya mengatakan sudah memaafkannya. Tapi kini, Elisa takut tentang keluarga besar dari pria itu. Apa mungkin mereka akan menerima perempuan seperti dirinya? Apa pria itu juga akan mengakui anak yang ada di dalam kandungannya, mengingat sikap terakhir saat bertemu dengannya begitu acuh.


"ELISA!" teriak Tuan Andreas murka. Kesabarannya sudah habis menunggu jawaban dari putrinya yang tak kunjung berbicara.


"Pi ... " Elisa sempat terlonjak kaget sambil memegangi dadanya. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian yang tadi sempat hilang akibat teriakan papinya.


"Sebenarnya ... "

__ADS_1


__ADS_2