Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Menetap


__ADS_3

Elisa menggeliat dari tidur lelapnya, melirik jam dinding yang menunjuk angka tujuh pagi. Elisa menarik selimut kembali, berniat untuk melanjutkan tidur yang sempat terjeda.


Memang seperti ini lah kebiasaan Elisa. Malam ia gunakan untuk kumpul bersama teman-temannya. Sedangkan pagi Elisa pasti bangun terlambat karena masih sangat mengantuk.


Baru akan memejamkan matanya kembali, Elisa terusik oleh suara ponsel yang berbunyi terus- menerus. Elisa meraih ponsel yang berada di atas nakas, dan terkejut menatap nama yang tertera di layar ponselnya.


Ck, ngapain Papi pagi-pagi telepon?


"Iya, Pi," jawab Elisa dengan suaranya yang terdengar malas.


"El, kamu ada di mana? Hari ini kamu pulang, kan? Ada yang ingin papi bicarakan." Suara Tuan Andreas di seberang sana.


"Tumben Papi suruh El pulang, biasanya juga nggak peduli El ada di mana," ucap gadis itu sebal.


"Ini penting, El, pokoknya nanti malam lapi tunggu kamu di rumah." Tuan Andreas mematikan sambungan telepon begitu saja.


"Ishh ... Papi nggak sopan nih sama anak sendiri!" gerutu Elisa beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya hilang tiba-tiba setelah mendengar suara dari sang papi. Elisa memutuskan masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


"Kira-kira apa yang mau papi bicarakan yah?" gumam Elisa.


"Jangan-jangan Papi menyuruhku cepat-cepat kembali ke Inggris.Tidak! Aku harus cari alasan supaya bisa lebih lama di sini." Elisa memutar otak, kira-kira alasan apa yang akan di berikan nanti pada papinya.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah seharian memikirkan alasan apa yang cocok untuk bisa menunda keberangkatan, akhirnya Elisa menemukan ide yang pas untuk itu. Elisa meminta pada Tante Rani supaya bilang ke Mami dan papinya bahwa beliau masih ingin dirinya tinggal di sini. Awalnya Tante Rani menolak permintaan Elisa karena takut mengganggu kuliahnya. Tapi karena Elisa terus merengek, akhirnya Tante Rani menyetujui permintaan keponakannya itu.


Siang tadi setelah Elisa berkunjung ke rumah Tante Rani, ia memutuskan untuk kembali ke apartemen. Elisa memilih tinggal di apartemen. Selain karena ingin bebas, Elisa juga bisa mendatangi Arya kapanpun dirinya mau tanpa meminta ijin pada orang tuanya lebih dulu.


******


El mengendarai mobil menuju rumah kediaman orangtuanya. Di depan pagar tampak seorang satpam tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang. Pak satpam nampak terkejut dengan kedatangan Elisa, karena tidak biasanya gadis cantik itu pulang ke rumah ini.


"Selamat malam, Nona." Pak Satpam menunduk hormat.


"Pak, apa Papi ada di rumah?" tanya Elisa pada pada Satpam itu.


Elisa melangkah memasuki rumah mewah itu, menatap satu persatu ruangan di dalamnya yang masih nampak sama seperti beberapa tahun sebelum kepergiannya.


"Kamu sudah, datang, Sayang." Mami Sintia memeluk Elisa dengan perasaan rindu.


"Apa kabar, Mi? Maaf, El baru bisa kesini," ucap gadis itu membalas pelukan Mami Sintia.


"Tak apa yang penting kau baik-baik saja." Mami Sintia tersenyum senang. Perempuan paruh baya itu mengajak Elisa untuk duduk sambil menunggu suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaan.

__ADS_1


"Papi mana, Mi, kenapa El tidak melihatnya?"


"Papi sedang menyelesaikan pekerjaannya sedikit, kamu duduk dulu, biar Mami yang menyusul Papi ke ruang kerjanya." Mami Sintia beranjak berdiri menuju lantai atas.


Tidak berapa lama Tuan dan Nyonya Andreas terlihat turun dengan senyum yang mengembang. Mereka bahagia karena Elisa bersedia untuk datang ke rumah ini. Biasanya mereka yang harus datang ke apartemen jika ingin bertemu Elisa.


"El, kau sudah datang Nak?" Papi Andreas memeluk putri tercintanya. Elisa memutar bola matanya malas, melihat sikap sang Papi, kenapa baru peduli padanya sekarang. Sebagai anak tunggal Elisa bukan cuma butuh materi, tapi juga butuh kasih sayang dari mereka.


"Kenapa Papi meminta El untuk datang kesini? Papi tidak akan menyuruh El cepat-cepat pulang ke Inggris, kan? El tidak mau!" Elisa langsung memberondong Tuan Andreas dengan berbagai pertanyaan.


"Kenapa El berbicara seperti itu?" tanya Tuan Andreas.


"Memang biasanya seperti itu, kan? Tapi, kali ini El tidak mau, El masih ingin disini, Pi." Elisa nampak memelas.


"Siapa yang akan menyuruh El kembali ke sana? Justru Papi ingin El menetap di sini. Iya, kan, Mi?" Tuan Andreas melirik istrinya yang dari tadi diam saja.


"Benar El, Papi sama mami ingin El kuliah disini. Kita tidak ingin El pergi lagi." Mami Sintia ikut menjelaskan.


"Benarkah?" Elisa langsung berbinar.


Elisa senang mendengar permintaan kedua orang tuanya. Ia bukan lagi akan tinggal lebih lama di sini, tapi Elisa akan meneruskan kuliah di Jakarta. Sungguh, Elisa sangat bersyukur karena tidak akan pergi jauh lagi dari Arya.

__ADS_1


Maaf yah part selanjutnya masih tentang Elisa dan Rangga. Yang kangen Rengganis dan Arya di tunggu yah, jangan lupa tinggalkan jejakπŸ™


__ADS_2