Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Taman Kenangan


__ADS_3

"Kamu bisa kembali ke kantor lebih dulu." Rangga beranjak dari kursi meninggalkan Sari yang masih membereskan berkas usai menghadiri rapat dengan para penanam saham. Gadis itu hanya mengangguk seraya melirik punggung sang bos yang perlahan menghilang di balik pintu.


"Hendak kemana Tuan Rangga?" Sari bergumam pelan, melirik jam dinding di ruangan. "Sudah jam empat, sebaiknya aku segera ke kantor menyimpan berkas ini, lalu pulang." Kemas-kemas cepat lalu keluar ruangan itu.


*****


Rangga melajukan mobilnya menuju salah satu taman di pinggiran kota. Turun dari mobil lantas ia melangkah menuju salah satu bangku taman di sana. Merenung... Ia rindu tempat ini. Tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Rengganis.


Waktu itu Rangga tengah mengendarai mobilnya sendiri selepas ia bertemu dengan salah satu rekan bisnis. Rangga yang melihat seorang gadis tengah tertunduk lesu di pinggiran jalan lantas menepikan mobilnya dan segera turun mendekati gadis itu.


Gadis itu lantas bercerita, bahwa ia baru saja kecopetan saat baru saja turun dari angkutan umum. Ia terlihat sangat kebingungan karena semua uang belanja yang di berikan majikannya ada di dalam dompet yang hilang. Rangga lantas menawarkan bantuan, namun gadis itu menolak dengan alasan ia tidak mengenalnya.


Terpaksa Rangga mengeluarkan identitas asli untuk meyakinkan gadis itu bahwa ia bukan lah orang jahat. Akhirnya gadis itu mau menerima bantuan dari Rangga, tapi ia berjanji akan mengganti uang yang ia pakai secepat mungkin.


"Mas, bisakah kita bertemu?"


"Untuk?"


"Aku ingin mengembalikan uang yang aku pinjam kemarin."


"Tidak usah, aku ikhlas membantumu."


"Tapi aku benar-benar tidak bisa menerimanya?"


"Baiklah. Di mana kita akan bertemu?"


"Di taman dekat pasar, tempat kemarin kita bertemu."

__ADS_1


Benar saja, dua hari setelah kejadian, gadis itu menghubungi Rangga dan meminta untuk bertemu.Mereka bertemu di bangku taman yang terletak di seberang pasar, tempat gadis itu setiap hari berbelanja.


"Terima Kasih." Rengganis menyodorkan sejumlah uang senilai persis seperti saat ia meminjam pada Rangga. Rangga tersenyum menerima uang yang baginya tidak seberapa itu, namun ia harus menghargai perasaan gadis yang mengembalikannya.


"Apa kau setiap hari belanja di sini?"


"Iya, kadang aku belanja bersama Ibu," ucap Rengganis seraya tersenyum, menampilkan wajah cantiknya yang natural tanpa polesan make up.


"Oh iya, Mas, aku Rengganis." Gadis itu mengulurkan tangannya. "Sekali lagi makasih, kemarin belum sempat memperkenalkan diri."


Rangga tersenyum membalas, ia tidak menyangka masih ada gadis polos di kota besar seperti ini. "Mari saya antar pulang." Rangga beranjak dari duduk, bersiap menuju mobil yang ia parkir tidak jauh dari tempat itu.


"Makasih, Mas, tidak perlu. Aku akan pulang naik angkutan umum saja." Rengganis bangun dan langsung melangkah. Setelah agak jauh gadis itu berbalik dan melambaikan tangan ke arah Rangga.


Rangga kembali tersenyum sembari menatap kepergian Rengganis yang akan masuk ke dalam angkutan umum. Sejak saat itu Rangga sering mengunjungi taman, di jam yang sama saat Rengganis biasa berbelanja.


Keduanya semakin dekat dan menjalin hubungan secara diam-diam. Mereka akan bertemu di bangku taman setiap kali Rengganis berbelanja sendiri. Hingga suatu hari Ibu Siti mengetahui hubungan mereka, ia menasehati putrinya bahwa hubungannya dengan Rangga bukanlah hal yang mudah.


Bu Siti sangat keberatan dan terus menasehati putrinya agar melepas Rangga secepatnya. Namun sepertinya Rengganis juga sangat mencintai Rangga hingga sulit untuk mendengar nasehat dari sang ibu.


Setelah beberapa bulan mereka menjalani hubungan, Rangga meminta ijin pada Bu Siti untuk membawa Rengganis ke pesta ulang tahun ibunya. Bu Siti sangat melarang, tapi Rengganis terus memohon agar sang ibu memberinya ijin. Terpaksa dengan berat hati Bu Siti mengijinkan mereka pergi. Benar saja, apa yang di takutkan terjadi. Di sana Rengganis hanya di permalukan di hadapan semua tamu undangan. Sedangkan Rangga tidak bisa berbuat apa-apa. Rangga lebih takut pada ancaman ibunya.


Rengganis pulang dengan hati hancur, begitu pula dengan Bu Siti yang melihat putrinya begitu menyedihkan. Ia kecewa pada Rangga yang sudah ia percaya akan menjaga Rengganis, malah tidak membelanya sama sekali. Bahkan Rengganis di biarkan pulang sendiri tanpa menggunakan alas kaki.


*****


Rangga menatap bangku taman yang sedang ia duduki. Rangga ingat, setahun yang lalu ia menemukan cinta pertamanya di sini. Senyum gadis itu masih terasa nyata, seakan kembali mengulang saat-saat indah waktu yang mereka lewati.

__ADS_1


Senyum dan tawa Rengganis yang bisa setiap hari ia lihat ternyata kini hanya bayangan. Rangga hanya bisa menikmati kesendiriannya di bangku taman setiap kali ia merindukan sang mantan.


Seakan menjadi obat untuk kerinduan yang ada di hatinya, Rangga sering kali mendatangi taman bahkan untuk sekedar duduk dan beristirahat. Baginya tempat itu tidak akan pernah ia lupakan, meski sekarang gadis yang sangat ia cintai telah hidup bahagia bersama pria ain.


Rangga terus merenung hingga waktu menjelang gelap. Ia tidak peduli meski ia akan pulang terlambat lagi, dan mendengar ocehan dari sang mama.


Kemana saja?


Jangan sering keluyuran? Kapan kamu akan menikah? Nak, Mama dan Papa sudah tua? Kapan kamu akan memberi kami cucu, jika tidak segera menikah?


Terkadang Rangga merasa frustasi dengan segala pertanyaan Mama Yuni yang selalu menyudutkan. Kenapa wanita itu memaksa agar cepat menikah, sedangkan dulu ia begitu melarang hubungannya dengan Rengganis.


Alasan sosial selalu menjadi masalah. Padahal cinta tidak pernah memandang apapun. Jika saja waktu itu ... Ah, sudahlah, mengingatnya membuat hati Rangga begitu sakit. Sakit karena ia merasa begitu pengecut untuk sekedar membela orang yang katanya sangat ia cintai.


Ia tahu, Rengganis sekarang sudah bahagia dengan kehidupannya. Mungkin sekarang saatnya ia harus bisa melepas seluruh perasaanya pada Rengganis. Mengikhlaskan rasa sakit akibat dari perbuatannya sendiri.


Rangga beranjak dari duduk, melangkah meninggalkan taman yang mulai menggelap. Meninggalkan bayang-bayang sang mantan yang seakan terus menggodanya. Terus melangkah menyusuri pinggiran taman menuju mobil yang ia parkir. Hingga tiba-tiba Rangga merasa tubuhnya di dekap oleh seseorang dari arah belakang. Ini nyatakan Rangga mengerjap dua kali, menyentuh tangan halus yang melingkar di pinggangnya.


Ia mematung beberapa saat sebelum tersadar, bahwa ini nyata. Benar, ini memang nyata. Rangga bisa merasakan hembusan napas yang memburu mengenai punggung, di sertai isak kecil yang keluar dari bibir seseorang yang memeluknya ini.


Darah pria itu berdesir hebat, seirama dengan detak jantungnya yang kian cepat. Tidak! Rangga menarik kata-katanya kembali. Jika benar seseorang yang tengah memeluknya kini adalah Rengganis, ia tidak akan melepasnya.


Ia berbalik, seraya menarik tangan itu dan membawanya kembali ke dalam pelukan. Tapi ...


LIKE


KOMEN

__ADS_1


VOTE


JANGAN LUPA!!!


__ADS_2