
"Elisa akan menikah besok, apa kita akan datang?" Rengganis langsung antusias dengan kabar pernikahan Elisa yang akan di adakan besok pagi. Bukankah ini berita bagus, karena artinya Elisa tidak akan lagi punya kesempatan mendekati suaminya.
Rengganis sudah memikirkan banyak sekali rencana saat ia bertemu dengan Elisa di pesta pernikahannya nanti. Bahkan wanita itu sampai memikirkan kira-kira hadiah apa yang cocok untuk ia berikan pada Elisa. Mengingat Elisa juga tengah hamil besar, mungkin ia harus memberikan perlengkapan bayi sebagai hadiah.
Rengganis terkikik geli memikirkan reaksi Elisa saat membuka hadiah darinya. Pasti akan sangat menyenangkan melihat wajah Elisa yang kesal.
"Tidak!" Arya menjawab sembari terus memeluk tubuh istrinya yang masih bergulung di bawah selimut.
"Kenapa?" Rengganis sedikit kecewa. Padahal ia ingin sekali melihat secara langsung Elisa menikah. Semua yang sempat ia rencanakan tadi seakan menghilang bersamaan dengan jawaban yang keluar dari bibir Arya. Apa Arya masih memiliki perasaan pada Elisa? pikirnya.
"Padahal aku ingin memberinya selamat," bergumam pelan tapi tentu saja Arya masih mendengar.
"Karena mereka tidak mengundang kita."
"Hah, benarkah?" Rengganis sedikit mengerjap mendengar jawaban yang di sampaikan Arya. Apa mereka malu sampai tidak mengundangnya ke pernikahannya?
"Pernikahannya di adakan tertutup dan hanya di hadiri kerabat dekat saja," jelas Arya mencubit hidung istrinya gemas karena sedari tadi wanita itu banyak sekali bertanya.
"Apa Mama Rani juga tidak di undang?" tanya Rengganis lagi. Ia sedikit mengusap hidungnya yang terlihat memerah.
"Entahlah." Arya sudah tidak lagi berniat menjawab pertanyaan istrinya lagi, ia memilih memejamkan mata.
"Mas, apa kamu tidak cemburu?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di pikiran Rengganis. Ia ingin melihat sendiri bagaimana reaksi suaminya saat ia menanyakan itu.
__ADS_1
"Kenapa?" Masih dengan mata terpejam.
"Apa kamu tidak cemburu mendengar Elisa akan menikah?" ulangnya.
"Tidak!" Jawaban yang singkat, padat dan jelas. Namun mampu membuat Rengganis tersenyum senang. Rengganis menghela napas lega saat mendengar jawaban yang di sampaikan Arya,ia beranjak duduk dan menyibak selimut, berniat bangkit menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuhnya sebentar setelah pergulatan panas yang baru saja mereka lakukan. Kenapa suaminya ini masih sempat memintanya melayani, padahal sebentar lagi dia akan berangkat ke kantor.
"Mau kemana?" Arya menahan pergelangan Rengganis yang sudah bersiap turun dari ranjang.
"Kamar mandi." Rengganis memegang tangan suaminya dan berniat melepaskan.
"Nanti saja."masih dengan mata yang terpejam.
"Ini sudah hampir siang, Mas. Bagaimana kalau kamu terlambat?"
"Biarkan saja. Aku bosnya, tidak akan ada yang berani memecatku," ucap Arya seraya membuka kedua kelopak matanya. Ia terlihat tersenyum menyeringai penuh arti. Rengganis tahu maksud dari senyuman itu,a palagi jika bukan mengulang kegiatan panas mereka untuk yang ke sekian kalinya.
Arya telah bersiap dengan pakaian kerjanya berjalan menuju mobil hitam yang telah sebelumnya di siapkan oleh supir. Memang hari ini ia berangkat ke kantor setelah makan siang, karena tadi pagi ia mengantar Rengganis pergi ke dokter kandungan terlebih dulu untuk periksa.
Arya bahagia karena kurang dari dua bulan lagi akan segera bertemu dengan anak yang selalu ia nantikan. Akan seperti apa wajahnya, terkadang ia sering membayangkan wajah anaknya nanti yang belum lahir. Pasti akan tampan seperti dirinya jika laki-laki, dan pastinya cantik seperti ibunya jika perempuan. Sungguh, Arya tidak sabar menantikan hari itu.
Rengganis kembali masuk ke dalam setelah mengantar suaminya sampai di depan rumah. Tadi sepulang dari dokter, Nyonya Anggi langsung menghubungi dan menanyakan bagaimana perkembangan cucunya. Memang wanita itu yang paling heboh kalau menyangkut kehamilan Rengganis. Setiap hari mertuanya itu selalu menyempatkan telepon hanya untuk sekedar menanyakan makanan apa yang tengah Rengganis inginkan.
Ah, senangnya .. mempunyai mertua seperti Mama Anggi menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Rengganis. Apalagi kemarin saat masalah besar yang sempat mengguncang rumah tangganya, wanita itu menjadi orang pertama yang selalu mendukungnya saat ia membutuhkan.
__ADS_1
Selain itu Nyonya Rani juga tidak pernah berhenti memberinya semangat, hingga Rengganis mampu melewati semua masalah itu dan kembali lagi ke rumahnya.
Rengganis melangkah menuju sofa lalu mendudukkan tubuhnya perlahan di sana. Ia teringat percakapannya tadi dengan Arya sebelum suamiya itu berangkat ke kantor.
*****
"Informasi apa yang kau dapat?"
"Benar dugaan Anda, Tuan, gadis itu memang di jadikan taruhan judi oleh ayah tirinya, dan sekarang pria tua itu mungkin tengah kebingungan mencari keberadaan anaknya.
"Terus awasi gadis itu, jangan sampai ayah tirinya membawanya lagi. Dan pastikan keberadaannya di sana aman!" perintah Rangga pada salah satu orang suruhan yang ia tugaskan mencari informasi tentang Andira.
"Baik, Tuan. Saya pastikan mereka tidak akan berani menyakiti Nona Andira lagi," ucap seseorang yang berdiri di hadapan Rangga.
"Dan laporkan jika ada yang mencurigakan di restoran tempat dia bekerja!" perintah Rangga sekali lagi pada orang suruhannya.
"Baik, Tuan."
Ya, gadis berusia 19 tahun itu bernama Andira. Gadis malang yang sempat di jadikan taruhan judi oleh ayah tirinya sendiri. Andira memang hidup berdua dengan sang ayah setelah ibu kandungnya meninggal dua bulan yang lalu. Kini kehidupan Andira berubah drastis. Ia harus bekerja banting tulang untuk bisa membiayai hidup dirinya dan juga ayah tirinya.
Tapi sekarang Andira beruntung setelah bertemu dengan Rangga. Andira tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan hidup, karena Rangga telah memberinya pekerjaan yang layak. Andira juga tidak perlu lagi menerima siksaan dari ayah tirinya yang sering kali memukul tanpa belas kasihan.
Kemarin saat Rangga mengantar Andira ke restoran, Rangga sempat melihat lebam di beberapa bagian tubuh dan juga wajah gadis itu. Namun Rangga tidak sempat menanyakan langsung. Oleh sebab itu Rangga langsung menyuruh salah satu orang kepercayaannya untuk menyelidiki asal usul Andira.
__ADS_1
Benar saja, Rangga menemukan kebenaran seperti yang di ceritakan Andira padanya. Bahkan sesuatu yang mengejutkan, kalau selama ini gadis itu selalu menerima siksaan dari ayah tirinya sendiri.
Rangga tidak bisa membayangkan kalau saat itu Andira tidak bertemu dengannya, mungkin nasibnya akan sangat buruk di tangan pria jahat yang tega menjualnya. Beruntung Tuhan mempertemukan Andira dengan Rangga, hingga ia bisa terbebas dari jerat masa lalu, dan tidak lagi harus tinggal berdua dengan manusia jahat seperti ayah tirinya.