
Duarrrr!
Seakan di hantam oleh batu yang sangat besar. Dada pria itu terasa sesak. Bagaimana mungkin wanita yang tengah di peluknya saat ini malah menyebut nama pria lain, dan sialnya pria itu suami dari saudara sepupunya sendiri. Pria itu bergegas meninggalkan kamar Elisa dengan langkah gontai. Ia begitu mengutuk kebodohannya yang tak bisa menahan diri. Namun, semua sudah terlanjur, sudah lah toh bukan sepenuhnya salah dia.
*****
Sudah lebih dari sepuluh kali Rengganis menghubungi Arya, namun nomor suaminya itu selalu di luar jangkauan. Padahal siang tadi Arya berjanji akan kembali menghubunginya setelah peninjauan selesai. Namun, sampai sekarang tak satupun panggilan atau pesan masuk dari Arya untuk Rengganis.
Rengganis cemas mengingat bagaimana sikap Elisa dari dulu. Ia tahu betul kalau sepupunya itu pasti tidak akan menyiakan kesempatan untuk kembali mendekati Arya. Ingin sekali Rengganis menghubungi Alex, namun, sialnya ia lupa meminta nomor ponsel Alex.
Sementara itu Arya yang tengah menunggu ponselnya terisi beterai malah asik tertidur. Mungkin karena siang tadi pekerjaan yang begitu melelahkan, membuatnya tidak sadar bahwa hari sudah menjelang malam. Untungnya tadi Arya berhasil mengusir Elisa dari kamar, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Elisa menggeliat dari tidurnya, merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit. Elisa mengerjap mengumpulkan kesadarannya sejenak. Masih terlintas di ingatan tentang kejadian semalam, saat ia menyerahkan kehormatannya begitu saja pada seorang pria. Elisa tersenyum. Tak masalah bagi Elisa jika dia harus kehilangan kesuciannya. Toh pria yang mengambilnya itu orang yang memang di cintainya.
Elisa beranjak menuju kamar mandi dengan langkah yang tertatih, merasakan perih yang luar biasa di pangkal pahanya. Berendam air hangat mungkin pilihan yang tepat untuk sedikit menghilangkan rasa sakit itu.
Tiga puluh menit berlalu, Elisa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar. Ia bergegas mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang. Elisa keluar dari kamar bersamaan dengan Arya yang sudah terlihat rapi. Elisa bergegas menghampiri Arya dan berjalan bersama-sama menuju parkiran hotel.
"Apa semalam tidur Kak Arya nyenyak?"
"Tentu saja." Arya mengernyit heran dengan pertanyaan Elisa. Namun Arya memilih mengabaikan. Arya tidak ingin berlama-lama mengobrol dengan Elisa yang akan membuang banyak waktu.
"Entahlah, sejak sore aku tidak melihatnya," jawab Elisa.
"Coba kau hubungi, aku ingin segera sampai di rumah."
Arya ingin membuat kejutan pada Rengganis dengan kepulangannya yang diam-diam.
"Kenapa sikap Kak Arya masih saja dingin sama aku,?" gumam Elisa dalam hati.
__ADS_1
Semalam saat Arya terbangun, ia langsung mengecek ponsel. Betapa terkejutnya karena terdapat puluhan panggilan dan juga pesan dari Rengganis. Arya menghubunginya kembali dan meminta maaf, namun Arya mengatakan bahwa dirinya belum bisa pulang besok pagi, alasannya ada beberapa pekerjaan lagi yang harus Arya selesaikan.
Tentu saja Rengganis amat marah, bahkan sempat menuduh Arya yang tidak-tidak. Rengganis bilang itu cuma alasan suaminya saja agar bisa lebih lama berduaan dengan Elisa. Arya begitu gemas dengan sikap Rengganis yang pencemburu semenjak dirinya hamil, namun Arya berhasil meyakinkan bahwa dirinya disini hanya bekerja dan akan pulang secepatnya setelah semua urusannya selesai.
"Cepat kau hubungi Roy, Lis. Kenapa malah diam saja?" Arya menyentak lamunan Elisa.
"Iya, kenapa harus marah-marah, sih, Kak.
Dengan hati kesal Elisa menghubungi Roy yang sekarang entah berada dimana.
"Roy, kau dimana? Kenapa lama sekali?" ucap Elisa tersungut-sungut.
"Maaf, Nona, sebentar lagi saya sampai. Tadi saya bangun kesiangan," ucap Roy dari seberang sana.
"Ya sudah, cepatlah! Aku bosan menunggumu!" jawab Elisa langsung mematikan sambungan teleponnya.
Lima menit kemudian Roy datang menghampiri Arya dan Elisa yang sudah menunggunya di parkiran hotel. Tanpa banyak basa-basi mereka bertiga masuk ke dalam mobil, dan langsung meninggalkan tempat itu.
__ADS_1