
Rengganis masih terduduk di tempat tidur. Setelah kejadian penolakan waktu itu tak pernah lagi ada komunikasi dengan Arya. Arya akan berangkat kerja pagisekali, dan pulang sangat larut saat semua orang telah terlelap. Bahkan saat hari libur pun Arya banyak menghabiskan waktu di ruangan kerja, itu membuat Rengganis merasa bersalah dan terabaikan. Bagaimana pun Arya memang berhak atas dirinya.
"Apa Mas Arya masih marah ya? Sudah hampir dua minggu Mas Arya mendiamkanku." Rengganis bermonolog dengan dirinya sendiri. "Lebih baik aku bersiap bekerja agar jangan sampai terlambat,"ucap Rengganis berlalu masuk ke kamar mandi.
*****
Malam ini Rengganis bertekad menunggu kedatangan suaminya pulang kerja. Rengganis ingin meminta maaf untuk kesalahan yang selama ini ia lakukan. Namun hampir tengah malam belum ada tanda-tanda kepulangan Arya, hingga membuat Rengganis tertidur di sofa ruang tv.
Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari saat terdengar suara langkah sepatu berjalan menapaki anak tangga. Rengganis reflek terbangun dari tidur dan melihat wajah sang suami yang sudah nampak lelah sekali.
"Mas, kamu sudah pulang, mau aku panaskan makanan atau aku siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Rengganis penuh harap.
"Tidak perlu, aku bisa menyiapkan sendiri," ucap Arya dingin sambil berlalu meninggalkan Rengganis.
Rengganis tak mau kehilangan kesempatan lagi, ia segera berlari menaiki anak tangga. Setelah sampai di kamar, Rengganis menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami yang sedang mandi. Arya selesai mandi dan langsung mengambil pakaian yang telah di siapkan Rengganis.
"Mas, kita perlu bicara." Rengganis berbicara penuh hati-hati.
__ADS_1
"Hemmm ... "
"Maafkan aku, Mas, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu." Entahlah apa Arya akan mendengar atau tidak yang pasti Rengganis sungguh ingin memperbaiki hubungan mereka.
Hening ...
"Mas ... "
Rengganis bergeser mendekati Arya yang kini tidur membelakangi, dan ternyata Arya sudah terlelap ke alam mimpi.
"Percuma ngomong panjang-panjang kalo orang nya tidur." Menarik selimut dan ikut merebahkan diri di samping sang suami.
****
Jam sudah menunjuk kan pukul 11.00 siang, Rengganis telah selesai menyiapkan makanan yang akan di bawa ke kantor nanti. Dengan menggunankan pakaian santai Rengganis di antar sopir menuju kantor Arya. Ya.. semenjak menikah Mama Rani tidak terlalu membebankan urusan kantor seluruhnya pada Rengganis. Kadang beliau juga ikut turun tangan langsung untuk memantau perkembangan perusahaannya.
Tiba di kantor Arya Rengganis di sambut dengan hormat oleh semua karyawan. Mereka tahu bahwa wanita di depannya ini adalah istri dari bos.
__ADS_1
"Nona Rengganis, tunggu!" Asisten alex mencegah Rengganis yang akan masuk ke ruangan bosnya.
"Ada apa, Lex? Apa Mas Arya sedang meeting di dalam?
Tapi, bukannya ini waktu istirahat." Rengganis bingung dengan sikap Alex yang seolah melarangnya untuk masuk.
"Bukan begitu Nona, tapi Tuan Arya sedang ada tamu, mohon Nona menunggu sebentar biar Tuan Arya menyelesaikan masalahnya," ucap Alex.
"Masalah?" Kening Rengganis berkerut menunjukkan tiga lipatan, "Masalah apa maksudmu?" tanya Rengganis curiga.
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa memberi tahu." Sambil berdiri di depan pintu ruangan Arya untuk menghalangi Rengganis agar tidak bisa masuk.
"Biarkan aku masuk, Lex. Menepilah!" Rengganis .endorong tubuh sang asisten sekuat tenaga agar tergeser.
"Maaf, Nona, tapi ..."
"Minggir!!" teriak Rengganis dengan geram. Karena Rengganis terus memaksa dan memaki, akhirnya Alex terpaksa bergeser dan memberi jalan untuk Rengganis bisa masuk.
__ADS_1
Prang!!!
Rantang yang di bawa Rengganis jatuh berceceran bersama dengan seluruh isinya. Rengganis tak percaya dengan apa yang ada di depan sana. Pantas saja tadi Alex bersikeras melarang Rengganis untuk masuk, dan ternyata inilah yang menjadi alasan.