Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Aku Tidak Peduli Dengan Mu


__ADS_3

ADA YANG BILANG LANJUT THOR?


YA UDAH AKU LANJUT,


KATANYA NYENENGIN ORANG ITU IBADAH


YA SEMOGA,YANG TERSEMOGAKAN HEHE


ADA YANG TANYA LAGI,KAN BELUM MP ELISA MA ROY?


MUNGKIN NGGAK DI SINI SAY...CERITA LENGKAP MEREKA


AKU LAGI MIKIR BUAT KISAH MEREKA SENDIRI TAPI LIAT NANTI AJA YA...


SO LANJUT INI DULU AJA LAH...


HAPPY READING...


Pernikahan bagi sebagian orang adalah momen berharga yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidup. Banyak pula dari mereka yang sengaja mengabadikan momen penting itu dan berharap pernikahannya akan langgeng selamanya.


Begitu pun dengan Elisa, gadis cantik putri satu-satunya keluarga Andreas ini juga menginginkan pernikahan bahagia. Menikah dengan orang yang di cintai adalah impiannya sejak dulu. Tapi sayangnya karena suatu kesalahan, Elisa harus menikah dengan Roy, orang yang sama sekali tidak ia cintai.


Elisa harus rela menikah dengan Roy demi mengembalikan nama baik keluarga. Elisa juga harus melepas rasa cintanya pada Arya–pria yang sedari dulu amat ia cintai.


Mungkin seiring berjalannya waktu pernikahan yang mereka jalani bisa menumbuhkan benih-benih cinta yang selama ini tidak mereka miliki, itulah yang selalu Roy harapkan. Namun sepertinya Elisa masih enggan membuka hati untuk menerima Roy. Pernikahan bagi Elisa saat ini ibarat belenggu yang akan mengekang semua kebebasannya.


*****


Dua bulan berlalu ...


Semenjak menikah, Elisa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sekarang Elisa sangat jarang keluar, apalagi untuk nongkrong bersama teman-temannya seperti dulu. Mungkin Elisa tengah belajar menjadi istri yang baik. Entahlah, yang pasti Elisa dan Roy sekarang tinggal bersama di rumah keluarga Andreas.


Tuan Andreas meminta mereka berdua untuk menempati rumah itu, karena beliau dan sang istri akan tinggal di luar negeri mengurusi bisnisnya di sana. Dan selama dua bulan ini, Tuan Andreas memastikan sendiri jika Elisa tidak lagi bertindak semena-mena dengan Roy dan berharap mereka akan bisa saling menerima.

__ADS_1


Kini kehamilan Elisa menginjak usia 7 bulan. Pagi tadi kebetulan adalah jadwal cek up. Roy dengan sabar mengantar Elisa pergi ke rumah sakit, meski berulang kali Elisa menolak. Roy hanya ingin melihat sendiri perkembangan anak yang ada di dalam kandungan Elisa yang di perkirakan akan lahir dua bulan lagi.


Elisa terus menggerutu sebab Roy terus saja mengekor. Bahkan saat dokter memeriksa Elisa, Roy juga mengikutinya ke dalam.


"Ngapain sih, Kak!" Elisa merengut melihat tingkah Roy yang sama sekali tidak melepasnya barang sedikitpun.


"Aku ingin tahu keadaan anakku," jawab Roy tanpa berpaling dari layar monitor.


"Nanti Dokter juga akan memberitahu."


Namun Roy tidak menjawab sama sekali. Ia lebih tertarik dengan monitor yang tengah menampilkan gambar anaknya yang ada di perut Elisa.


"Kandungan Anda baik-baik saja Nona. Menurut perkiraan saya anak Anda laki-laki," ucap dokter seraya membersihkan sisa gel yang ada di perut Elisa.


"Benarkah?" Elisa berbinar senang mengetahui anak yang ia kandung ternyata laki-laki.


Roy hanya menatap tanpa respon. Namun dalam hatinya sangat bahagia, hingga ia tidak tahu lagi harus mengucapkannya dengan kata-kata apa.


"Aku akan mengantarmu sampai rumah."


"Tidak usah, aku bisa pulang sama Mbok Nah. Iya, kan, Mbok?" Elisa masuk mobil begitu saja. Roy tetap mengambil alih kemudi. Ia tidak akan membiarkan Elisa menyetir sendiri dan membahayakan anaknya. Mbok Nah yang melihat adegan itu hanya bisa menggeleng. Kenapa dua manusia ini tidak bisa berbaikan. Toh, sebentar mereka akan memiliki anak.


"Ngapain sih, Kak, aku udah bilang akan pulang sama Mbok Nah!" decak Elisa lagi.


"Aku tidak peduli denganmu. Aku hanya ingin memastikan anakku baik-baik saja!" Roy segera menancap gas dan melajukan mobilnya menuju kediaman Andreas.


"Dasar keras kepala!" umpat Elisa pelan, sedangkan Roy hanya diam tidak peduli.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Elisa yang sedari tadi terus mengomel kini terlihat tidur dengan lelap. Roy melirik sekilas, lalu kembali menatap jalanan.


Hingga sepuluh menit kemudian mobil telah sampai di pekarangan rumah. Roy segera turun dan menuju pintu samping tempat Elisa tertidur. Mbok Nah yang melihat majikannya masih tertidur berniat membangunkan, tangannya terulur ingin menyentuh pundak Elisa.


"Biarkan saja, Mbok. Saya akan mengangkatnya pelan, agar Elisa tidak terbangun." Roy mengangkat Elisa dengan hati-hati dan berjalan ke arah pintu masuk.

__ADS_1


Mbok Nah hanya bisa memandang dengan penuh iba. Kenapa juga nona mudanya tidak pernah membuka hati untuk pria sebaik Roy. Selepas kesalahannya di masa lalu, itu juga bukan sepenuhnya salah Roy, kan?


Roy merebahkan Elisa di atas ranjang dengan hati-hati. Melepas sepatu yang masih terpasang di kaki, lalu menyelimutinya. Roy melangkah keluar setelah memastikan Elisa tidur dengan nyaman.


"Mbok, saya titip Elisa. Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya."


"Baik, Tuan."


Roy menyambar kunci yang ada di atas meja, lantas melajukan mobilnya kembali menuju kantor.


Satu jam kemudian ...


Elisa mengerjap, merentangkan kedua tangan ke atas. Sambil terus menguap, Elisa melihat sekeliling. Elisa merasa tidur cukup lama, tapi kenapa belum juga sampai. Padahal jarak rumah sakit dengan rumahnya tidak terlalu jauh.


"Lho, bukannya aku tadi di mobil?" Elisa bangun seraya mengucek kedua matanya. "Ini kamar aku, kan? Kapan aku sampai?" Elisa masih bingung sambil terus mengingat, barangkali tadi ia memang sudah sampai dan langsung tidur di kamar.


"Nggak. Aku tadi di mobil, terus ketiduran, tapi ... "


Klak,


Mbok Nah masuk membawa nampan yang berisi susu dan potongan buah segar.


"Mbok, tadi aku ... ?"


"Nona tadi tertidur, dan Tuan Roy yang mengangkatnya sampai kamar," terang Mbok Nah, seakan wanita paruh baya itu tahu apa yang akan di tanyakan oleh majikannya.


"Jadi, astaga ... !" Elisa menepuk keningnya sendiri, merutuki semua kebodohannya. Kenapa juga ia harus tertidur, dan Roy mengangkatnya lagi. Ya, dua kali Roy mengangkatnya sampai kamar, sama-sama dalam keadaan tidur pula.


"Nona baik-baik saja?" Mbok Nah menyadarkan Elisa yang masih terdiam.


"Iya, Mbok, aku baik-baik saja."


"Saya permisi dulu, Nona. Jangan lupa susu dan buahnya di habiskan." Mbok Nah meletakkan segelas susu dan potongan buah yang ia bawa di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2