
Sudah lewat tengah malam, disaat makhluk lain sedang istirahat, Rengganis sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Meski rasa kantuk menyerang, Rengganis masih tidak bisa terbang ke alam mimpi. Kepalanya masih di penuhi berbagai tanya, ke mana suaminya itu pergi? Kenapa sampai selarut ini?
Rengganis mendesah, memejamkan mata dengan tubuh miring membelakangi pintu, sesaat ia mencoba memejamkan mata, suara berisik dari depan kamar membuatnya tersentak. Rengganis membuka matanya begitu menyadari Arya baru saja tiba.
Saat pintu terbuka Rengganis membalikkan tubuhnya, di lihatnya Arya tengah berdiri setengah mematung sedang menatap ke arahnya. Rengganis tersenyum, lalu beranjak dari ranjang menghampiri Arya yang kini mulai membuka lilitan dasi di kerahnya.
"Mas, kenapa ...?"
"Aku capek!" Arya segera memotong, yang sontak membuat bibir Rengganis terkatup rapat. Ada helaan napas pelan sebelum Rengganis kembali membuka suara. "Biar aku siapkan air hangat." Rengganis sudah ingin beranjak dari tempat tidur ,namun lagi-lagi Arya melarang, "Tidak perlu." Dasi sudah terlepas sempurna dan Arya letakkan di atas meja. "Tolong jangan banyak bertanya, aku beneran capek."
Tidak pernah sekalipun Arya bersikap seperti ini sebelumnya, membuat Rengganis merasakan ulu hatinya berdenyut sakit. Mungkin memang sekarang suaminya itu sedang sangat lelah.
"Kamu udah makan?" Rengganis kembali bersuara. "Mau aku siapin?"
"Tidak perlu!"
Rengganis berpikir keras, apa kesalahan yang telah ia perbuat, hingga Arya bersikap seperti ini? Berbeda sekali saat pertama mereka menikah, apa mungkin seperti inilah sifat asli Arya. Rengganis menggigit bibirnya pelan, "Atau, kamu mau aku buatin sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak!Kamu tidur aja."
Tak ingin menyerah, meski Arya sudah menampakkan raut wajah terganggu, Rengganis kembali bertanya," Kalau gitu kamu mau aku siapkan ... "
"Aku bilang tidak usah!" sentak Arya yang sontak berbalik menatap Rengganis dengan penuh emosi. Napas Arya terdengar memburu. Rengganis terhenyak kaget, tubuhnya bergetar takut.
"Kamu tidur aja. Aku capek, kamu lihatkan sekarang jam berapa?"
Membuang napasnya yang tersengal, Rengganis mati-matian menahan diri untuk tidak merespon apa yang hatinya inginkan, yaitu menangis. Ia remat kedua sisi gaun tidurnya, lalu melangkah mundur kebelakang. "A–aku tidak maksud buat kamu susah, aku pikir, aku bisa bantu kamu. Tapi, sepertinya kamu memang tidak butuh bantuan aku. Aku ... "
Arya melepaskan kaitan kemejanya dengan kasar, lalu ia membuangnya ke sembarang arah. "Kamu tidak perlu melakukan apapun, aku bisa sendiri!" ucap Arya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
*****
Sejak malam itu sikap Arya benar-benar berubah, Rengganis tahu Arya adalah sosok dingin. Tapi, ia tidak pernah acuh seperti ini sebelumnya. Bahkan, kemarin Arya kembali telat pulang. Jam dua belas malam baru sampai rumah tanpa mengabarinya. Rengganis tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat, sampai saat ini Rengganis masih mencoba menerka-nerka.
Rengganis pikir Arya marah padanya karena akhir-akhir ini ia berubah sedikit menjengkelkan. Dari meminta Arya untuk memasak tengah malam, hingga memintanya pulang lebih awal. Tapi, bukankah itu wajar, karena dirinya tengah hamil. Bukan maksud Rengganis menjadi manja. Ia juga tidak mengerti, mengapa permintaannya harus di turuti, kadang Rengganis merasa dirinya sangat cengeng jika menyangkut tentang Arya.
__ADS_1
Rengganis memunguti pakaian Arya yang berserakan di atas lantai. Tadi, setelah masuk kamar, Arya langsung melepas semua pakaian kerja yang melekat di badannya, dan membuangnya ke sembarang arah. Kali ini Rengganis memilih diam dan tidak banyak bertanya. Ia hanya terduduk di atas ranjang sambil memperhatikan suaminya itu, yang sama sekali tidak memandang ke arahnya.
Apa mas Arya masih marah masalah kemarin? gumam Rengganis dalam hati.
Mengambil tas kerja Arya yang tergelak begitu saja, tiba-tiba beberapa lembar kertas terjatuh tak sengaja mengenai kaki Rengganis. Rengganis mengernyit heran, di bukanya lipatan kertas itu dan matanya langsung terbelalak saat membaca tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Ternyata kertas itu adalah nota belanja di salah satu Mall terkenal yang sering ia kunjungi beberapa waktu lalu bersama Arya. Di situ tertulis beberapa barang, bahkan alat make up dengan jumlah pembayaran yang lumayan besar. Tapi, untuk siapa Arya membeli semua itu, Rengganis masih larut dalam pikirannya yang tak jelas, saat tiba-tiba kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok suaminya dengan keadaan yang sudah segar.
"Mas ... "
"Hemmm ... "
"Aku mau ... "
"Bicara besok pagi saja, aku capek!" ucap Arya memotong kalimat Rengganis.
"Tapi, aku hanya– ..."
"Sudah aku katakan! Apa kamu tidak mengerti?" ucap Arya membentak.
__ADS_1
Rengganis menjatuhkan semua barang yang tadi sempat ia punguti. Tak terasa air matanya lolos begitu saja mendengar Arya kembali membentaknya. Apa salahnya?