
"Kira-kira siapa ya, Mbok, yang sering kirim makanan kesini?" tanya Elisa dengan mulut penuh makanan. Elisa tadi meminta Mbok Nah membuatkan rujak buah sama seperti yang di kirim oleh orang misterius itu, dan benar saja tidak lama kemudian rujak buah dengan irisan-irisan buah segar itu sudah siap di hadapannya.
"Mbok juga nggak tau, Non. Apa mungkin Tuan Arya?" Wanita paruh baya itu sebenarnya ragu kalau Arya yang mengirim semua itu.
"Nggak mungkin kayaknya deh, Mbok." Elisa tampak menerka siapa kira-kira yang sering mengirimkan makanan itu. Jika di lihat dari jenis makanan yang ia terima selama beberapa hari ini, memang makanan-makanan itu termasuk yang sering di inginkan oleh sebagian ibu hamil.
Tapi kalau Arya yang mengirimnya, itu rasanya tidak mungkin. Bahkan sampai sekarang Arya sama sekali tidak bisa Elisa hubungi. Lalu siapa kira-kira?
πππππ
Setiap pagi sekali terlihat seorang pria tengah memandangi kediaman Andreas dari balik kaca mobilnya. Pria itu selalu menyempatkan diri datang ke tempat itu, lantas mengamati pemiliknya, kemudian melajukan mobilnya menuju kantor sebelum ada orang lain yang melihatnya.
Roy yang memang sudah bertekad, sejak ia mengetahui Elisa tengah mengandung anaknya, Roy berjanji akan menjaga Elisa. Walaupun ia sendiri tidak tahu bagaimana nasib kedepannya kelak. Roy terlalu takut mengakui semuanya pada Tuan Andreas. Terlebih Elisa, ia yakin tidak mudah untuk gadis itu menerimanya.
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menikahi Elisa?
Mobil perlahan memasuki area parkir. Roy meninggalkan mobilnya yang telah terparkir di tempat seperti biasanya. Cukup untuk pagi ini petualangannya, Roy akan kembali esok pagi dengan sejuta harapan yang lebih baik.
*****
"Cukup ya, Mas! Aku nggak kasih ijin kamu masuk!" teriak Rengganis dari dalam kamar.
__ADS_1
"Sayang, aku hanya ingin ... "
"Nggak! Aku memang udah maafin kamu, Mas. Tapi, bukan berarti aku mau tidur satu kamar sama kamu."
Arya mendesah frustasi. Sudah sejak setengah jam yang lalu ia mengetuk kamar Rengganis, dan mencoba membujuknya. .amun sepertinya Rengganis tetap bersikeras tidak mau membuka pintu.
Sudah tiga hari ini Rengganis keluar dari rumah sakit dan dokter menyatakan keadaannya sudah kembali normal. Tentu saja Arya sangat senang, karena ia bisa dengan leluasa menemui istrinya. Namun siapa sangka Nyonya Rani malah membawa pulang Rengganis ke rumah keluarga Ardian.
Arya yang merasa tidak terima awalnya menolak keinginan mertuanya itu. Tapi Rengganis mengancam, jika Arya tidak mengijinkannya tinggal di rumah Mama Rani, maka Rengganis tidak akan pernah memaafkannya.
Akhirnya Arya menyetujui permintaan Rengganis, dengan syarat ia bisa menemui wanita itu kapan saja. Dan, di sinilah Arya sekarang, di depan kamar Rengganis yang setiap malam selalu terkunci.
"Sayang ... "
Arya tampak lesu dan berbalik menuju kamar tamu yang selama tiga hari ini ia tempati. Bagaimana pun membujuk Rengganis bukanlah hal yang mudah, meski Arya sudah menjelaskan berulang kali bahwa ia tidak pernah melakukan apapun pada Elisa, namun tetap saja Rengganis tidak mempercayainya.
Rengganis baru akan memaafkan Arya sepenuhnya jika benar Arya terbukti tidak bersalah, dan satu-satunya yang bisa membuktikan ialah hasil tes DNA. Sementara Arya harus menunggu dan menahan hasratnya selama lebih dari seminggu lagi.
Sementara Rengganis yang tadi berpamitan ingin tidur, nyatanya hanya menatap langit-langit kamar, sambil sesekali melirik ke arah pintu. Sudah sejak 10 menit yang lalu ia tidak mendengar suara suamiya itu lagi. "Apa Mas Arya udah pergi?"
Rengganis beranjak duduk. Di sibaknya selimut yang menutupi tubuhnya, lantas ia segera melangkah menuju pintu. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia mencari sosok Arya yang mungkin saja masih menungguinya di depan pintu. Namun nihil, sepertinya Arya memang sudah pergi.
__ADS_1
Rengganis mendesah kecewa. Padahal ia ingin sekali melihat wajah Arya. Entah rasanya sudah sangat lama Rengganis tidak merasakan hal yang seperti ini. Rengganis memutuskan untuk masuk dan kembali ke dalam kamar. Tapi ...
"Aww ... !" Rengganis terkejut dengan kemunculan Arya yang tiba-tiba, dan menahan pintu kamar yang hendak ia tutup.
"Mas Arya ngapain disini?" tanya Rengganis dengan panik. Ia melihat suaminya yang tengah mendekat ke arahnya.
"Ngapain? Aku hanya ingin menemui istriku," jawab Arya santai. Tanpa meminta ijin, Arya langsung menyelonong masuk dan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang.
"Tapi aku mau tidur."
"Lalu?"
"Tolong Mas Arya keluar!"
"Kalau aku tidak mau?"
"Aku akan ... " Suara Rengganis tercekat saat Arya tiba-tiba mendekat dan menatapnya penuh damba. Rengganis tahu selanjutnya apa yang akan terjadi, apalagi jika bukan saling bertukar keringat dan berakhir di atas ranjang.
Rengganis bisa merasakan hembusan napas hangat Arya yang berada tepat di depannya ini. Pandangan mereka terkunci satu sama lain, semakin dekat hingga tanpa sadar Arya membenamkan ciumannya pada bibir sang istri.
Tidak tahu sudah berapa lama mereka tidak melakukannya, hingga Rengganis nampak begitu bersemangat. Rengganis seakan lupa dengan semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Yang ia inginkan hanya melepaskan rindu yang selama ini sudah ia tahan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...