
Tiga tahun berlalu begitu cepat.
"Ayo Nak,nanti keburu siang."Rengganis memanggil Kay yang masih sibuk merapikan rambut panjangnya bersama seorang perawat di ruangan tengah.Sementara ia sendiri sudah berada di dalam mobil yang akan mengantarnya ke sebuah mall pusat perbelanjaan.
"Iya Ma,tunggu."Kay berlari menghampiri sang Mama yang sudah bersiap lebih dulu,di ikuti satu perawat Kay yang membawa perlengkapan gadis kecil itu di belakang,kemudian mereka bertiga pergi menggunakan mobil yang di kendarai oleh Pak Supri.
"Yeyyy belanja."Kay bersorak senang saat ia tau kemana mereka akan pergi,gadis kecil itu sudah membayangkan apa saja yang akan ia beli di sana nanti.
"Ingat ya,Nak?Jangan jauh_jauh dari Mama,Oke?"Ucap Ibu muda itu mewanti_wanti pada putri kecilnya.
"Siap,Mama?"Gadis kecil itu mengangguk cepat,sambil melebarkan senyum dari sudut bibirnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit,akhirnya mobil mereka sampai di parkiran sebuah mall besar di kota itu.
Rengganis lantas turun dan menggandeng tangan Kay untuk masuk ke dalam mall dan menuju salah satu pusat perbelanjaan.
"Mbak,tolong belikan saya pembersih lantai di sebelah sana ya?"Rengganis mununjuk beberapa produk pembersih lantai yang berjejer di rak,sedangkan ia tengah asik memilih buah_buahan segar bersama Kay.
"Ma,aku mau itu...?"Tunjuk Kay pada lemari pendingin yang menampilkan berbagai macam es krim dengan berbagai rasa.
"Iya sabar dulu ya Nak,Mama pilih ini dulu."Rengganis masih asik memilih buah yang ia cari,sedangkan Kay yang sudah merasa bosan berjalan ke arah lemari pendingin dan berniat mengambil salah satu es krim kesukaannya.
Langkah gadis kecil itu terhenti,saat di depannya ia melihat sebuah benda berwarna coklat yang baru saja terjatuh dari saku salah satu Pria yang berjalan di depannya.
Kay begitu tertarik,lantas tangan mungilnya berusaha meraih benda asing itu.
"Om...?"Kay berjalan cepat sambil membawa benda yang baru saja ia ambil dari lantai,gadis kecil itu sedikit berlari untuk bisa menyusul langkah panjang Pria yang ada di depannya.
"Om...?"
Karena merasa ada yang memanggil,Pria itu lantas berbalik dan menatap ke arah sumber suara.
"Hai,Nak...?"Pria itu tersenyum ke arah Kay yang tengah mentapnya dengan mata bulatnya.
"Ini puna Om atuh di cana."Kay menunjuk tempat di mana ia menemukan benda asing tadi.
Pria itu menatap ke arah benda yang tengah di pegang gadis kecil itu,dan ternyata memang benar dompet itu adalah miliknya.
"Makasih,Nak..?Siapa nama mu?"Pria itu berjongkok mensejajari Kay dan mengusap lembut rambut gadis kecil tadi.
*****
Sementara di tempat lain,Rengganis tengah panik karena Kay tiba_tiba menghilang,padalah baru beberapa menit yang lalu putrinya itu berada di dekatnya.
Ia bertambah panik saat mengetahui kalau Kay juga tidak bersama dengan perawat yang ikut bersamanya tadi.
Ibu muda itu sudah ketakutan membayangkan sesuatu yang buruk tengah menimpa putri kecilnya itu.
"Bagaimana Mbak,apa kamu sudah mencari ke semua sudut Supermarket ini?"Tanya Rengganis dengan bibir yang bergetar,wanita itu sudah membayangkan akan semurka apa Arya nanti jika mengetahui putri kesayangannya ternyata hilang.
"Sudah Nona,sepertinya Nona kecil sudah keluar dari Supermarket ini."Perawat itu tak kalah panik,ia bahkan sudah tiga kali memutari Supermarket itu,tapi ia tidak menemukan Kay dimana 'pun.
"Bagaimana ini mbak?"Tangis Rengganis semakin pecah tatkala mendengar penjelasan dari sang perawat,hingga membuat beberapa orang pengunjung menatap ke arahnya dan bertanya_tanya.
__ADS_1
"Ada apa,Nona...?"
"Apa Anda baik_baik saja?"
Tidak sedikit dari orang_orang yang sedang berbelanja mencoba menenangkan wanita itu,bahkan salah satu dari mereka hendak menghubungi pusat informasi untuk memberikan keterangan tentang kehilangan anak.
Akhirnya setelah melapor ke pusat informasi,sang perawat mengajak majikannya untuk duduk di sebuah bangku tidak jauh dari tempat tadi.
Ia mencoba menenangkan keadaan ibu muda itu yang masih terlihat kacau.
"Tenang Nona,Nona Kecil pasti sebentar lagi ketemu."Sang perawat memberikan sebotol air mineral pada Rengganis dan di sambut baik oleh wanita itu.
"Bagaimana kalau_____?"Rengganis tidak bisa membayangkan jika Kay benar_benar di culik dan ia tidak bisa lagi bertemu dengan putri kecilnya itu.Ia menyesal karena tadi terlalu sibuk sampai mengabaikan permintaan anaknya.
"Tidak...!Kay tidak mungkin di culik."Rengganis menggeleng cepat,mengusir pikiran buruknya yang tiba_tiba datang.Matanya terus menjelajah ke setiap sudut mall.
"Mbak___...?"Ucapannya menggantung tatkala ia melihat sesosok anak kecil sedang bersama seorang laki_laki tengah duduk di bangku taman.
"Kay...?"Sejenak ia membisu,lalu mengerjap dan ia yakin sekali bahwa yang duduk di taman sana adalah Kay,putrinya.
"Itu Kay,Mbak...?"Rengganis menunjuk cepat ke arah mereka yang sepertinya tengah asik mengobrol.
Sang perawat lalu mengikuti arah yang di tunjuk wanita itu,dan benar saja.Gadia kecil yang sekarang duduk di kursi taman memang Kay.
Mereka berdua berlari ke arah taman tanpa menghiraukan tatapan bingung dari orang yang melihatnya,bahkan Rengganis melupakan sepatunya yang sempat terlepas dan meninggalkannya begitu saja.
"Kay...?"Rengganis memeluk erat tubuh mungil putrinya,di sertai isak tangis bahagia dari wanita itu.
"Ma.."Kay menatap bingung ke arah sang Mama,lantas beralih ke perawat yang tadi datang bersamanya.
Ia bernapas lega karena ternyata putrinya dalam keadaan baik.
"Rengganis....?"
Suara yang begitu jelas tengah menyebut namanya,membuat Rengganis reflek menoleh dan menatap ke arah laki_laki itu.
"Mas....?"Seketika suara Rengganis tercekat setelah melihat wajah laki_laki yang tadi duduk bersama Kay di bangku taman itu.
"Jadi,Kay______....?"
"Putrimu....?"
Rangga yang sedari tadi menyaksikan adegan haru dari ibu dan itu hanya bisa diam.Sejujurnya ia merasa sangat bersalah karena membawa gadis kecil itu pergi tanpa meminta ijin pada orang tuanya lebih dulu.Tapi tatkala melihat wajah wanita yang tiba_tiba datang dan mengaku sebagai Ibu dari gadis kecil yang ia temui...?
Mereka terus mematung,saling menatap tanpa ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan.jika saja Kay tidak tiba_tiba bersuara.
"Maaf Ma,Kay ndak minta ijin Mama dulu."Gadis kecil itu tertunduk di depan wajah Rengganis,membuat wanita itu semakin merasa bersalah.
"Maafin Mama ya,Nak?"Rengganis mengecup kening putrinya lembut,lantas memeluknya dengan penuh cinta.
"Mama ndak malah 'kan?"Tanya Kay dengan wajah polos,gadis kecil itu mengira Rengganis akan marah dan akan menghukumnya nanti.
Rengganis menggeleng,"Kay tidak salah,disini Mama yang harusnya minta maaf,karena sudah membiarkan Kay sendirian."Wanita itu memberikan ciuman di pipi cubby Kay berkali_kali,membuat gadis kecil itu tersenyum senang.
__ADS_1
"Jadi,Kay putrimu...?"
Suara Rangga kembali terdengar,ketika beberapa saat tadi sempat terjeda.
"Iya,Kay putriku."Ucap Rengganis pelan.
*****
"Kay sama sepertimu,berhati lembut dan ba_...?"
"Tidak perlu berlebihan seperti itu,Mas?Bukan kah semua orang tua juga akan mengajarkan kebaikan pada setiap anaknya."
Rengganis memotong cepat ucapan laki_laki tadi,karena ia tidak ingin Rangga berkata berlebihan di depan anaknya.
"Maaf,aku tidak bermaksud seperti itu."Rangga sadar sekarang keadaan sudah banyak berubah,apalagi di sampingnya ada seorang gadis kecil yang pasti akan mendengar dan mengingat semua perkataanya.
"Bagaimana kabar Mas Rangga dan keluarga?"Rengganis mencoba mencari topik baru agar tidak terlalu canggung.
"Kabar keluargaku baik,dan aku juga mempunyai seorang putri,mungkin umurnya lebih muda satu tahun dari Kay."
"Benarkah...?"Rengganis menjawab cepat,wajahnya terlihat begitu bahagia.
Ya ia bahagia karena Rangga sudah menemukan cinta sejatinya...
Rangga mengangguk,ia mengulas sedikit senyum menatap wajah cantik wanita yang empat tahun yang lalu sempat mengisi hatinya.
"Kay,bilang makasih sama Om Rangga dulu,Nak?"Rengganis melihat ke arah Kay yang tengah asik memainkan barbie hadiah dari Rangga tadi.
"Makasih Om,Kay suka...?"Jawab gadis kecil itu dengan wajah senang.
"Sama_sama,sayang?"Rangga mengusap puncak kepala Kay lembut,sekarang ia seperti melihat sosok Rengganis versi kecilnya.
Mereka asik bercengkrama,sambil sesekali bertukar cerita kehidupan masing_masing,hingga sang perawat yang tengah duduk tidak jauh dari tempat itu berjalan tergesa_gesa berjalan ke arah Rengganis.
"Maaf Nona,Tuan Arya telepon...?"Sang perawat memberikan hp nya pada Rengganis dan langsung wanita itu terima dengan wajah yang sedikit memucat.
Astaga,kenapa aku sampai lupa waktu begini.
Pasti Mas Arya marah karena aku tadi hanya pamit belanja sebentar.
"Sayang...?"Rengganis memilih pergi sebentar,mencari tempat yang nyaman untuk mengangkat telepon dari suaminya.
"Pulang....!"Suara bariton Arya sudah terdengar di seberang sana,membuat nyali Rengganis seketika menciut.
"I_iya aku pulang sekarang."
klik,
Rengganis terlonjak,saat tiba_tiba Arya memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.Ia berjalan cepat ke arah Kay,dan berpamitan pada Rangga untuk segera pulang.
Pulang sekarang,atau aku buat perhitungan pada laki_laki itu.
Satu pesan masuk di handphone Rengganis,membuat nyali wanita itu semakin menciut,bahkan ia meremasnya kuat_kuat sembari merutuki kebodohannya hari ini.
__ADS_1
LIKE
KOMEN