
Rengganis masih mematung di tempatnya berdiri, menyaksikan dua orang manusia yang tak tahu diri tengah menatapnya juga dengan terkejut.
"Maaf mengganggu." Rengganis berbalik keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang hancur. Rengganis berlari melewati semua karyawan yang menatapnya dengan bingung.
Ada perasaan sesak di dada saat menyaksikan sang suami sedang bermesraan dengan wanita lain. Tak terasa air matanya mengalir begitu deras, bahkansudah lama sekali ia tidak menangis. Terakhir kali Rengganis menangis saat bertemu dengan Rangga sebelum pernikahannya, dan ia berjanji setelah itu tidak akan menangisi seseorang yang sudah dengan tega menyakitinya. Tapi kenapa sekarang ia harus menangis lagi, dan kenapa juga harus terluka. Toh, bukan ya ia juga tak pernah mencintai Arya.
Rengganis menggelengkan kepalanya, menepis semua perasaan yang kini ia alami dan memastikan bahwa ini bukancinta.
"Tidak, aku tidak mungkin mencintai Mas Arya. Tapi kenapa Mas Arya bermesraan dengan Elisa?" Rengganis semakin penasaran dengan semua sikap Elisa selama ini yang selalu kasar padanya.
ππππ
Siang tadi sebenarnya Arya berniat untuk pulang ke rumah. Arya ingin berbicara dengan Rengganis dan memperbaiki hubungan rumah tangganya. Namun belum sempat Arya keluar dari ruangan, seorang wanita menyelonong masuk tanpa permisi. Elisa langsung memeluk Arya yang sedang duduk di sofa yang tengah memandangi foto pernikahannya dengan Rengganis. Malangnya lagi belum sempat Arya melepaskan diri, ternyata Rengganis tiba-tiba masuk dan melihat semuanya.
"Lepaskan tanganmu, Lisa, aku ingin mengejar istriku, pasti dia sudah salah paham." Arya mencoba memberi pengertian pada wanita yang tengah memeluknya saat ini.
__ADS_1
"Biar kan saja, justru itu yang aku mau, jadi Kakak bisa bercerai dengannya dan menikah dengan ku," ucap Elisa tanpa melepas pelukannya.
"Tutup mulutmu!" Menghempas tangan Lisa dengan kasar hingga Elisa terjatuh ke lantai.
"Jangan pernah mendekatiku lagi, atau kau akan melihat sendiri kemarahanku!" ancam Arya dengan penuh amarah.
Buru-buru Arya pergi dari ruangannya tanpa memperdulikan Elisa yang masih terduduk di lantai. Elisa tersenyum menyeringai, nampaknya ia telah berhasil menggoyahkan pernikahan saudara sepupunya itu.
ππππ
"Maaf, Nona, saya tidak berani, nanti Tuan marah kalau saya meninggalkan Nona sendirian." Sang supir menolak keinginan Rengganis.
"Saya sudah ijin sama mas Arya, Bapak tenang saja," cap Rengganis berbohong.
"Tapi, Nona, saya ... "
__ADS_1
"Pak ... !"
"Baik, saya akan pulang, api Nona harus hati-hati. Jam berapa Nona akan pulang, biar nanti saya jemput."
"Saya akan pulang sendiri." Rengganis mengalihkan pandangan keluar jendela.
*****
Arya ingin cepat sampai ke rumah. Ia ingin menjelaskan kejadian sebenarnya pada Rengganis agar tidak salah paham. Turun dari mobil tempat yang ingin Arya tuju pertama kali adalah kamar, pasti Rengganis sekarang sedang sedih. Membayangkan wajah Rengganis yang kecewa sungguh membuatnya sangat frustasi. Arya membuka kamar dan mencari keberadaan istrinya, namun tak menemukan Rengganis di sana.
Arya juga membuka kamar mandi barangkali Rengganis sedang ada di sana tapi juga nihil. Entahlah di mana sekarang istrinya itu. Akhirnya Arya memutuskan untuk menghubungi Supri karena dia pasti tahu kemana Rengganis pergi setelah dari kantor tadi.
"Pak Supri, di mana istriku sekarang, kenapa tidak ada di rumah?" cecar Arya tidak sabaran.
"Maaf, Tuan, sekarang Nona sedang berada di taman, tadi Nona Rengganis minta di turunkan di sana. Katanya sudah ijin dengan Anda, dan saya di minta untuk pulang lebih dulu," jawab Supri di seberang sana.
__ADS_1
"Akhhh ... siβal!" Arya mematikan sambungan telepon tanpa mempedulikan orang di seberang sana yang masih ingin menjelaskan. Arya mengemudi mobil dengan kecepatan penuh menuju taman tempat Rengganis berada. Arya ingin segera sampai dan membujuk istrinya untuk pulang.