Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Kecurigaan Alex


__ADS_3

Rengganis terbangun setelah dirinya tak sadarkan diri selama dua jam. Saat itu langit sudah mulai menggelap, terlihat dari sela-sela jendela di kamar rawat inapnya. Rengganis merasa pusing dan tubuhnya yang sedikit lemas. Ya, karena sejak siang tadi dirinya memang belum sempat makan sana sekali.


Rengganis bisa mendengar sayup-sayup suara dua pria yang sedang bertengkar di depan sana, pun suara Mama Rani yang terdengar di antaranya.


Mereka seperti bertengkar membicarakan sesuatu, tapi Rengganis tidak bisa mendengar lebih jelas. Ia ingin memanggil, tapi tenggorokannya terasa perih. Perlahan Rengganis mengerjap saat sinar lampu di dalam ruangan itu menyoroti matanya dengan sakit.


Memaksa untuk terbuka, Rengganis lalu melihat bayangan tubuh ibunya yang berdiri dari balik gorden. Rengganis ingin beranjak, tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Rengganis memutuskan untuk memanggil Ibu, "Ibu ... ," lirihnya terbata. "Bu ...?" ulangnya bersama tubuh yang hendak terduduk.


Tak lama gorden itu terbuka, menampilkan gurat wajah menua sang ibu yang terlihat cemas dan khawatir. Wanita paruh baya itu langsung melangkah mendekati ranjang Rengganis, membantu sang putri untuk duduk dan bersandar di punggung tempat tidur. Begitu pun dengan kedua pria yang tadi sempat bertengkar, mereka bergegas masuk setelah mendengar Rengganis telah sadar.


"Nak, sudah bangun?" tanya Bu Siti. Rengganis mengangguk, lalu meringis kala pening menyerbunya lagi, "Ibu, aku kenapa?" Rengganis bertanya bingung. Ingatannya akan kejadian siang tadi masih terasa samar-samar.


Bu Siti lantas mengelus kepala Rengganis lembut, memberi sebuah kecupan di keningnya sebelum kemudian tersenyum hangat untuk menenangkan sang anak. "Kamu tadi sempat pingsan," jelas sang ibu terdengar hati-hati.


Pingsan?


Lalu kilasan kejadian siang tadi terlintas di kepala Rengganis. Ia ingat tadi siang ia mengantar makan siang ke kantor Arya, namun suamiya itu tidak ada di tempat. Rengganis akhirnya memutuskan pulang dan menitipkan bekal makan siang itu pada Susi.


Di tengah Perjalanan tiba-tiba meminta pada Pak Supri untuk mampir sebentar ke sebuah Supermarket yang tak jauh dari kantor suaminya. Ya, ia ingat! Rengganis juga bertemu dengan Arya yang saat itu bersama Elisa, dan sempat bertengkar setelahnya.


Elisa? Dada Rengganis kembali sesak saat mengingat nama itu. Lalu ingatannya tiba di saat ia mendengar percakapan dua wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama Rani dan ibu kandungnya sendiri.


Detik itu juga Rengganis membelalak, membuka matanya lebar-lebar saat ia menatap wajah pria yang berdiri di belakang ibunya. Rengganis begitu terkejut melihat suaminya itu dengan wajah yang sudah babak belur dan rambut yang acak-acakan.


"Pergi!" teriak Rengganis. Arya membungkam, ia bisa melihat sebuah luka yang terpancar dari kedua mata istrinya. Arya lantas mendekat, memberanikan diri menghampiri Rengganis.

__ADS_1


"Pergi! Jangan mendekat!" Melemparkan semua barang yang ada di dekatnya.


"Nak ... " Bu Siti berusaha mencegah, merasa kasian melihat wajah frustasi Arya, namun Bu Siti juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Suruh dia pergi, Bu! Aku tidak ingin melihatnya!"


"Sayang ... " Arya membuka suara, mencoba kembali menenangkan istrinya itu.


"Berhenti! Usir dia Bu! Tolong usir dia! Rengganis terisak dengan nada penuh permohonan. Namun sang ibu hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa.


"Kak Hasan, tlong usir dia, Kak! !Aku tidak ingin dia ada di sini," pintanya melirih, kali ini Rengganis terlihat sedikit putus asa.


Bu Siti tertegun menatap Rengganis bingung. Ia bisa merasakan perasaan putrinya yang tengah terluka. "Kamu tenang dulu, Sayang." Rengganis menggeleng, kali ini dengan kristal bening yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.


"Kenapa kalian membiarkannya masuk?"


"Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi!"Rengganis menutup kedua telinganya. Kali ini dengan nada setengah berteriak.


"PERGI!!!"


Hasan menahan langkah Arya yang akan menghampiri Rengganis kembali. Pria itu menyeret paksa Arya untuk segera keluar dari ruang rawat Rengganis, dan membiarkan wanita itu menenangkan diri.


Arya menghela napas kasar. "Baiklah, kali ini aku mengalah. Mungkin benar Rengganis butuh waktu sendiri untuk menata hatinya.


*****

__ADS_1


Arya terduduk dengan pandangan kosong bersama luka-luka di sekitar wajahnya.Tadi, setelah Rengganis mengusirnya, Arya bermaksud pulang ke rumah karena ingin mengganti pakaiannya. Namun dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Arya berubah pikiran. Ia melajukan mobilnya ke apartemen tempat tinggal Alex, karena Arya berpikir memang saat itulah Alex yang ia butuhkan.


Bayang-bayang tangis Rengganis saat mengusirnya, membuat Arya kesulitan bernapas. Kenyataan ini pasti tidak akan pernah bisa Rengganis terima, pun dengan kebohongan lainnya yang ia lakukan.


Otak Arya rasanya lumpuh hanya untuk sekedar berpikir. Ia ingin mengenyahkan semuanya, tapi tidak bisa. Maka di sini lah ia sekarang.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Alex menatap dengan iba penampilan Arya yang terlihat sangat acak-acakan. Suara itu Arya abaikan, ia memilih untuk terus diam tanpa terganggu sama sekali.


"Sebaiknya Tuan membersihkan diri, dan segera beristirahat. Saya sudah siapkan pakaian untuk Anda," ucap Alex seraya membuka kotak P3K untuk membersihkan luka di wajah Arya.


Arya tidak ingin menanggapi. Ia menggeleng lantas merebut kapas yang sudah di basahi antiseptik yang akan di gunakan untuk membersihkan lukanya. Meringis pelan saat kapas itu menempel pada salah satu luka di wajahnya, "Apa kau sudah mendapatkan bukti baru?" Arya lantas menyingkirkan kotak obat itu dari hadapannya.


"Sedikit lagi, Tuan. Saya janji akan menyeret pelakunya kehadapan Anda."


"Sampai kapan?"


Alex terdiam, lantas beranjak dari duduknya meninggalkan Arya dan masuk ke dalam kamar. Beberapa menit kemudian Alex keluar dengan membawa sesuatu di tangannya. Alex menyerahkannya pada Arya.


"Brengsek!" umpat Arya, sampai tak sadar membanting gelas yang ada di hadapannya hingga jatuh berserakan.


"Apa ini benar, Lex?" tanya Arya dengan nada yang yang sedikit meninggi.


"Kemungkinan memang benar, Tuan. Saya sudah mengikutinya beberapa hari ini."


"Kalau memang dia pelakunya, aku tidak akan pernah mengampuninya!" Arya mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. Mengapa ia begitu bodoh sampai tidak berpikir sejauh itu. Memukul tembok disampingnya, perasaan Arya kini tidak menentu. Arya ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa.

__ADS_1


"Tolong awasi dia terus, Lex! Jangan sampai dia kabur, atau mengacaukan rencana kita!" perintah Arya.


"Baik Tuan, saya pastikan dia tidak akan berani macam-macam. Apalagi melarikan diri dari tanggung jawab!" jawab Alex yakin. Alex segera menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi pria itu dan melaporkan setiap kegiatannya pada Alex.


__ADS_2