
CUMA MAU BILANG, "CINTA BOLEH, BODOH JANGAN! KALAU NGGAK MAU YA UDAH SIH, NGAPAIN DI PAKSAIN? YA NGGAK???" LANJUT,,,
"Tidak mungkin, Dok! Aku yakin ini pasti salah!" Elisa terus berteriak, menolak hasil tes DNA yang baru saja di sampaikan oleh Dokter Rara. Ia merasa ada yang sengaja sabotase dan menukar hasil tes karena di sana tertulis hasil DNA Arya dan bayi yang sedang ia kandung tidak cocok. Bagaimana mungkin tidak cocok, jelas ia melakukannya dengan Arya. Tidak mungkin kan hasil tes itu tertukar dengan milik orang lain?
Tuan Andreas langsung merebut kertas itu lantas mengamati tulisan yang ada di dalamnya. Pria paruh baya itu tampak menghela napas panjang seraya meremat kertas yang ia pegang.
"Dokter, apa ini benar milik putri saya?" Tuan Andreas bertanya sekali lagi. Memastikan kalau itu memang benar milik Elisa. Iaberharap apa yang baru saja di lihatnya tidak benar.
"Benar, Tuan. Di situ tertulis tidak ada ke cocokan sama sekali di antara keduanya," ulang Dokter Rara. Wanita berseragam putih itu kembali menjelaskan isi yang tertulis dalam kertas tersebut.
"Tapi kenapa?"
"Sekarang sudah jelas, kan? Itu bukan darah daging putraku!" terang Tuan Pratama. Seketika semua hening, tanpa ada satu orang pun yang berbicara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, hanya Arya yang terlihat santai.
"Jadi benar, anak itu bukan darah daging Arya?" ulang Nyonya Rani memastikan. Wanita paruh baya itu sudah tersenyum sumringah menatap menantunya yang tengah diam sejak tadi.
"Benar. Mama dengar sendiri, kan, kalau Arya memang bukan pelakunya." Arya lantas menghampiri Rengganis dan memeluknya.
Elisa menggeleng seraya menangis, "Nggak! Ini semua bohong kan, Pi! El nggak mungkin salah!" Elisa semakin terisak dengan napas yang naik turun.
"Nggak mungkin bagaiman? Jelas hasilnya sama sekali tidak cocok. Kamu masih ingin menuduh Arya yang melakukannya?" sembur Nyonya Anggi seketika.
"Lihat!" Nyonya Anggi merampas kertas dari tangan Tuan Andreas. Seketika ia jatuhkan kertas itu di hadapan Elisa.
"Kamu tega ya, Lis, udah fitnah Arya seperti itu. Tante benar-benar nggak nyangka!" Nyonya Anggi terus saja menyerang Elisa dengan kata-kata yang membuat Elisa berteriak histeris.
"Nggak!" Elisa menggeleng seraya menutup telinganya dengan kedua tangan. "Ini nggak mungkin!"
Nyonya Sintia yang melihat itu langsung mendekat dan memeluk Elisa erat. Wanita itu mencoba menenangkan putrinya yang terus menangis.
"Katakan, El, siapa sebenarnya yang melakukannya padamu?" tanya Papi Andreas tiba-tiba.
"Aku nggak tau, Pi," ucap Elisa terbata. Elisa sungguh bingung dan tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian malam itu.
*****
"Ayo kita pulang,kita sudah tidak punya urusan lagi di sini." Tuan Pratama mengajak kepada semua anggota keluarganya untuk segera pulang. Pria itu bergegas keluar pertama kali dari ruangan dokter, dan di susul oleh yang lain.
"Kak, tunggu!"
"Apalagi, Lis! Bukankah urusan kita sudah selesai? Lalu apalagi yang kamu inginkan?" tanya Arya penuh penekanan. Arya tidak sedikit pun melepas genggaman tangan Rengganis.
__ADS_1
"Tapi, aku harus bagaimana, Kak?"
"Kau tanya harus bagaimana? Apa kau sadar akibat perbuatanmu itu, hampir saja membuat rumah tanggaku hancur!" ucap Arya dengan nada mulai meninggi.
"Tapi aku benar-benar tidak ingat kejadian malam itu, Kak!" Elisa sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ia terlanjur malu pada keluarga Pratama.
"Itu urusanmu, Lis! Sekarang jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" ucap Arya seraya menarik tangan Rengganis pelan, membawanya keluar dari ruangan itu.
Elisa terduduk di lantai dengan perasaan sehancur-hancurnya. Bagaimana mungkin ia sampai bisa tidak tahu ayah dari anak yang sedang ia kandung. Elisa terus menangis tanpa mempedulikan lagi penampilannya yang sudah acak-acakan, hingga suara bariton Tuan Andreas mengagetkannya.
"Cepat katakan, siapa yang melakukannya padamu!" Tuan Andreas sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Ia sangat malu pada Arya Pratama yang terlanjur ia tuduh habis-habisan.
Elisa menggeleng lagi, "Aku benar-benar nggak tahu, Pi," ucap Elisa dengan tangis yang semakin kencang.
Tuan Andreas mengusap wajahnya kasar. Tidak tahu akan semalu apa keluarganya nanti, jika berita kehamilan Elisa yang tanpa suami sampai tersebar.
"ELISAAA ... !!!" Suara Tuan Andreas menggema memenuhi seluruh sudut ruangan. Tangan besar pria itu sudah melayang siap mengenai pipi Elisa.
"Tunggu!"
Tuan Andreas menoleh seketika ke arah pintu. Ia melihat Roy yang datang di ikuti dengan Alex dan dua orang berbadan besar. "Maaf, Tuan Andreas, saya hanya mengantarkan asisten Anda," ucap Alex sopan. Alex lantas segera undur diri meninggalkan ruangan itu.
*****
Dua nam sebelumnya.
"Hei, lepas brengsek! Siapa kalian!" teriak Roy dengan wajah yang sudah di tutupi kain hitam serta tangan yang sudah terikat di kebelakang. Saat Roy keluar dari apartemen dan ingin menuju tempat kerja, tiba-tiba saja dari arah belakang ada dua orang yang memegangnya, lantas memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil. Roy terus berontak dan melawan, tapi percuma saja tenaganya tidak sebanding dengan dua pria besar yang tengah memegang di kanan kiri.
"Siapa kalian? Sebenarnya aku mau di bawa ke mana?"
"DIAM! Atau peluru pistol ini akan segera menembus kepalamu!" ucap salah satu orang yang membawanya.
Roy sendiri tidak tahu mereka akan membawanya kemana, karena wajah Roy sudah di tutup dengan kain hitam. Ia hanya sekilas mendengar suara salah satu dari mereka yang sepertinya tidak asing lagi.
Alex? Roy berbisik pelan, ia mengingat bahwa yang ia dengar memang suara Alex, asisten dari Arya Pratama. Sial! Mau di bawa ke mana aku ini.
Hingga mobil berhenti, mereka membuka tutup kepala serta ikatan di tangan Roy. Roy mengerjap, memastikan kembali penglihatannya yang masih tampak kabur. Rumah Sakit? Untuk apa mereka membawaku kesini?
Roy hanya pasrah saat dirinya di paksa ikut masuk kedalam melewati lorong-lorong rumah sakit itu. Hingga mereka sampai di lantai dua yang nampak sepi, bahkan tidak ada orang satu pun. Kali ini Alex yang mendekat dan menarik tangan Roy untuk ikut masuk ke salah satu ruangan.
****
__ADS_1
"Roy? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tuan Andreas kebingungan. Pasalnya ia sudah menyuruh Roy menggantikan tugasnya hari ini di kantor.
"Tuan ... " Roy menunduk, tidak berani menatap wajah tuannya sama sekali. Ia lantas menatap Elisa yang masih terduduk di lantai dengan muka sembab.
"Maaf ..." Roy ikut bersimpuh di hadapan Tuan Andreas dan Elisa yang tengah menatap dengan bingung.
"Apa yang kau lakukan, Roy?"
"Kak!" Elisa juga ikut bingung dengan kedatangan Roy yang tiba-tiba, dan sekarang malah meminta maaf.
"Sebenarnya ...... "
Hening..... Roy merasa lidahnya seakan kelu. Ia berhenti sejenak menetralkan kembali napasnya yang memburu. Roy mengumpulkan keberaniaannya yang tadi sempat hilang.
"Sebenarnya malam itu ...."
Plak! Satu tamparan keras mendarat sempurna mengenai wajah Roy. Terlihat sudut bibirnya yang sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
"Kurang ajar! Beraninya, kau ....!" Tuan Andreas sangat murka saat mendengar semua pengakuan dari Roy. Pria itu menjelaskan dengan detail kejadian yang menimpa Elisa saat di hotel malam itu. Roy mengaku ia bersalah. Seharusnya ia tidak tergoda dengan Elisa saat itu. Roy malah terlena hingga merusak Elisa, melupakan kebaikan Tuan Andreas yanng selama ini telah merawatnya dari kecil.
"Maafkan saya, Tuan."
"Apa maafmu bisa mengembalikan Elisa seperti semula, hah!" teriak Tuan Andreas berang. "Gara-gara kau, aku malu di hadapan seluruh keluarga Pratama!" maki Tuan Andreas menggebu-gebu.
"Kak, jadi yang melakukannya ... ?" Sedari tadi Elisa masih mencerna semua penjelasan dari Roy yang di rasa tidak masuk akal. Elisa masih tidak percaya bahwa bayi yang ia kandung adalah darah daging dari Roy.
"Kamu bohong, kan, Kak!"
"El ... ?"
"Nggak! Nggak mungkin!" Elisa malah kembali menangis seraya memukul perutnya sendiri dengan membabi buta. "Aku nggak mau, Kak! Aku nggak mau anak ini ada di perut aku!" teriak Elisa lagi. Nyonya Sintia yang sejak dari tadi diammelihat kejadian itu langsung berlari menghampiri Elisa. "Sadar, El! Tklong jangan seperti ini!" ucap Nyonya Sintia seraya mengusap pelan punggung Elisa.
"Aku nggak mau anak, ini, Mi! Aku benar-benar nggak sanggup!" Elisa terus menangis di pelukan sang mami. Hingga sedetik kemudian Elisa sedikit tenang dan tertidur karena terlalu lelah menangis.
LIKE
KOMEN
VOTE
BERSAMBUNG...
__ADS_1