Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Kontraksi


__ADS_3

"Apa Nona baik-baik saja?" Bik Lastri melihat Rengganis meringis kesakitan segera menghampiri wanita itu, membantunya untuk mengambil posisi yang nyaman berbaring di atas ranjang.


Bik Lastri meletakkan susu dan camilan sehat yang ia bawa di atas meja, lalu kembali menghampiri majikannya yang sesekali terlihat mengusap perutnya sendiri.


"Aku tidak apa-apa, Bik," jawab Rengganis dengan terbata, seraya menahan sakit yang kadang tiba-tiba datang.


"Tapi Nona terlihat sangat kesakitan. Apa perlu saya menghubungi Tuan Arya?" Bik Lastri terlihat cemas.


"Tidak usah, Bik. Tolong panggilkan Pak Supri untuk menyiapkan mobil. Saya yang akan menghubungi Mas Arya sendiri." Rengganis semakin kesakitan,karena kontraksi yang ia rasakan semakin sering datang.


"Baik, Nona." Bik Lastri segera turun dan mencari Pak Supri yang biasa berjaga di depan bersama satpam.


Rengganis mencoba bangkit dari duduknya. Dengan susah payah ia meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu mencoba menghubungi Arya agar segera pulang.


"Mas ... " Ia menggigit bibirnya pelan, mencoba meredam sedikit rasa sakit yang kadang menyerang.


"Sayang ..."


Dering ke tiga Arya langsung menjawab telepon Rengganis, karena ia juga sedikit was-was meninggalkan Rengganis di rumah. Mengingat HPL yang dokter sampaikan sudah sangat dekat.


"Mas, aku ... shhhh ..." Rengganis tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang begitu sangat hebat. Sekuat tenaga ia menahan semakin sakit pula yang ia rasakan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?"


"Cepat pulang Mas, aku udah nggak kuat." Akhirnya Rengganis hanya bisa mengatakan itu lantas ponsel langsung ia matikan secara sepihak.


Sedangkan Arya yang masih terkejut karena mendengar ucapan Rengganis langsung menyambar kunci mobil di sampingnya dan melangkah ke arah ruangan Alex.


"Lex, kau urus pekerjaan hari ini, sepertinya istriku akan melahirkan." Arya lantas bergegas menuju parkiran dan melajukan mobilnya dengan cepat agar segera tiba di rumah.


Semoga semuanya berjalan lancar Nona.


Hanya doa yang bisa Alex berikan untuk persalinan nona mudanya.


*****


Rengganis sudah ada di dalam mobil bersama Bik Lastri. Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Rengganis untuk sekedar memberinya kekuatan.


"Pak, tolong lebih cepat, Nona sudah sangat kesakitan." Bik Lastri meminta pada Pak Supri agar menambah lagi laju mobilnya. ia tidak tega melihat Rengganis yang terus merintih kesakitan.

__ADS_1


"Iya, Bik. Tapi di depan ada lampu merah, jadi kita harus sedikit bersabar." Rasanya Pak Supri ingin segera keluar mobil dan menyuruh semua pengendara lain untuk menyingkir sejenak, agar ia bisa secepatnya sampai di rumah sakit.


"Bik, tolong hubungi Mas Arya agar menyusul ke rumah sakit saja, tadi aku shhh ... " Suara Rengganis tertahan seiring datangnya rasa sakit yang tiba-tiba.


Tanpa berpikir panjang Bik Lastri langsung meraih ponsel dan lansung menghubungi Arya seperti permintaan Rengganis tadi.


"Bik, bagaimana keadaan istriku ?" tanya Arya tidak sabar. Ia segera mengangkat telepon saat tahu yang menghubunginya adalah Bik Lastri.


"Nona Rengganis baik." Bik Lastri menengok ke arah Rengganis. Haruskah ia mengatakan baik-baik saja, sedangkan yang ia lihat wanita itu sangat kesakitan.


"Ada apa, Bik?" Terdengar helaan napas kasar dari seberang sana. Arya sampai harus menepikan mobilnya lebih dulu agar bisa berbicara dengan tenang.


"Sebaiknya Tuan Arya menyusul Nona ke rumah sakit. Saya dan Pak Supri sedang dalam perjalanan menuju ke sana." Bik Lastri berbicara setenang mungkin agar tidak membuat Arya semakin panik.


Astaga! Arya mengusap wajahnya kasar. Padahal lima menit lagi ia akan sampai di rumah, tapi kini ia harus putar balik dan melajukan mobilnya lagi menuju rumah sakit. Arya terpaksa memutar mobilnya lagu dan segera menancap gas menuju rumah sakit.


20 menit kemudian....


Arya tiba di depan lobby rumah sakit dan memarkirkan mobilnya secara asal. Ia segera berlari menerobos beberapa orang yang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Arya menuju ruang persalinan tempat di mana istrinya sedang melakukan pemeriksaan.


Di depan ruang bersalin tampak Bik Lastri dan juga Pak Supri yang tengah menunggu dengan wajah cemas. Arya segera menghampiri mereka dan menanyakan bagaimana kondisi istri dan anaknya yang masih di dalam ruangan.


Arya bertambah frustasi saat sudah lebih dari lima belas menit tidak ada kabar sama sekali dari dalam sana. Pikirannya sudah melayang entah kemana, memikirkan kejadian buruk yang tengah menimpa istri dan anaknya.


"Sabar, Tuan. Bibik yakin Nona Rengganis akan baik-baik saja." Bik Lastri terus berusaha menenangkan majikannya, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Rasanya Arya ingin sekali mengumpat dan memaki siapa pun yang mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja. Kalau memang itu yang terjadi, kenapa bisa selama ini. Tapi Arya masih menahan diri untuk tidak menyakiti siapa pun. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ruangan itu terbuka.


"Dokter, bagaimana keadaan anak dan istri saya?" Arya langsung menghampiri sang dokter dan memberondong dengan begitu banyak pertanyaan.


"Istri dan anak Anda baik-baik saja, Tuan."


"Tapi kenapa lama sekali? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arya lagi.


"Nona Rengganis tadi sempat panik saat mengalami kontraksi, hingga kami harus melakukan tindakan untuk menenangkan. Itu bisa berdampak buruk bagi bayi yang ada di dalam kandungannya."


"Tapi sekarang sudah baik-baik saja kan, Dok? Apa saya bisa menemuinya sekarang?"


"Silahkan, Nona Rengganis juga tengah menunggu Anda."

__ADS_1


Arya bisa sedikit bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter. Ia bergegas masuk karena ingin segera melihat istrinya.


Arya membuka pintu pelan, membuat orang yang ada di dalam menengok seketika. Rengganis tersenyum menyambut kedatangan Arya meski wajahnya terlihat sedikit pucat. Arya lantas memeluk tubuh Rengganis, menciuminya beberapa kali.


"Apa masih sakit?" Arya membingkai wajah Rengganis dengan kedua tangannya. Di tatap lekat wajah wanita itu, lalu pandangannya beralih ke perut, mengusapnya pelan lantas memberinya kecupan lembut.


Rengganis hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia masih menikmati usapan lembut tangan Arya yang membuatnya tenang.


"Anak Ayah baik-baik saja, kan?" Seakan pertanyaan itu di tujukan untuk anak yang ada di kandungan istrinya, dan siapa snagka yang ada di dalam sana memberi respon dengan gerakan yang lembut.


"Anak pintar." Arya tersenyum seraya bangkit dan duduk di samping Rengganis.


"Apa Ibu belum datang, Mas?" Rengganis tampak beberapa kali melihat ke arah pintu, berharap ibunya cepat datang dan menemaninya juga.


"Mungkin sebentar lagi. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Arya seraya merapikan rambut istrinya.


Rengganis kembali menggeleng. "Aku hanya ingin mandi."


Arya tersenyum, lalu mengusap pipi Rengganis pelan."Tunggu di sini." Lantas melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" Rengganis terkejut saat Arya tiba-tiba mengangkatnya.


"Kamu ingin mandi, kan? Tidak perlu menunggu Ibu, biar aku yang akan membantumu mandi," ucap Arya seraya menurunkan tubuh Rengganis saat sudah ada di dalam kamar mandi. Membantunya melepas pakaian, lantas memandikan dengan air hangat yang sebelumnya telah ia siapkan.


Rengganis hanya pasrah sambil sesekali menyembunyikan wajah malunya. Rengganis sangat bersyukur memiliki suami sebaik Arya yang mau menemaninya di saat seperti ini.


Rengganis keluar dari kamar mandi di bantu Arya sudah dengan pakaian yang rapi.Memang Bi Lastri telah menyiapkan semua keperluan wanita itu,dan juga calon bayi yang akan lahir nanti.


Tak lupa juga ia mengabari Keluarga Pratama saat tadi tengah menunggu di luar ruangan.


Tak lama pintu ruangan terbuka, terlihat Nyonya Anggi dan Tuan Pratama datang di susul dengan Nyonya Rani dan Ibu Siti di belakangnya. Mereka terlihat cemas saat mendengar kabar Rengganis di bawa ke rumah sakit.


Mereka mengelilingi Rengganis dan bergantian menanyakan keadaan wanita itu, hingga Arya di buat bingung sendiri karena tidak di beri kesempatan sama sekali untuk bisa dekat dengan istrinya.


Setelah satu jam mengobrol, Nyonya Anggi meminta ijin pulang, karena mengingat kesehatan Papa Pratama yang akhir-akhir ini sempat menurun. Begitu dengan Nyonya Rani yang pamit sebab sudah ada Bu Siti dan Arya yang akan menemani Rengganis.


"Sebaiknya Ibu istirahat, biar Mas Arya yang menemani Rengganis di sini."


Bu Siti mengangguk paham, ia lantas menyibak gorden yang ada di ruangan itu.Ternyata Arya telah menyiapkan satu ranjang kosong lengkap dengan bantal dan selimut. sedangkan Bik Lastri di antar pulang oleh Pak Supri.

__ADS_1


"Tidurlah aku akan menjagamu di sini," ucap Arya seraya membantu Rengganis berbaring dan menyelimutinya.


__ADS_2