
Roy mengendarai mobil menuju kantor dengan sedikit tergesa. Ia menarik pedal gas dengan kecepatan penuh, berharap agar jangan sampai terlambat tiba di kantor.
Akibat terlalu memikirkan masalah itu, Roy sampai tidak bisa tidur hingga menjelang pagi, alhasil hari ini Roy harus kesiangan dan tidak sempat mengunjungi rumah kediaman Andreas. Padahal kegiatan sepele itu seakan jadi penyemangatnya selama beberapa hari ini.
Tiba di parkiran, Roy segera memarkirkan mobil lantas keluar terburu-buru menuju lobby kantor. Ternyata sudah lumayan banyak karyawan yang datang pagi ini. Biasanya Roy akan datang paling pagi sebelum para karyawan kantor tiba.
Bergegas masuk, Roy merasa ada yang janggal saat beberapa karyawan tengah menatapnya, seakan mengintimidasinya yang tengah berjalan di hadapan mereka.
Roy masih bersikap biasa saja, karena memang ia yakin penampilannya hari ini tidak ada yang salah. Mungkin mereka sedang merasa bosan dan sedikit mencari topik obrolan yang menarik.
Hingga sebelum masuk lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangan kerjanya berada, Roy sempat mendengar salah satu karyawan yang berbisik dengan teman yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti Roy hanya mendengar kata istri yang selalu mereka sebutkan berulang-ulang.
Tak peduli dengan tatapan aneh dan gunjingan yang sama sekali tidak ia tahu, Roy lantas membuka pintu ruangan kerjanya seperti biasa, hal pertama yang ia lihat adalah kursi yang biasa ia duduki. Tapi, siapa itu? Apa Tuan Andreas sudah datang? Tapi tidak mungkin! Karena tadi pagi saat ia hendak berangkat ke kantor, Tuan Andreas sudah menghubunginya, dan mengatakan hari ini beliau tidak bisa masuk kantor sebab ada sedikit urusan.
Apa mungkin bosnya itu membatalkan rencananya dan tiba-tiba datang ke kantor? Ah, bukan! Jelas ini bukan Tuan Andreas. Roy mendekat, meneliti orang asing yang sudah berani menduduki kursi kebesarannya.
"Hei, siapa kamu!" teriak Roy tanpa basa basi. Kursi itu berbalik menghadapnya, dan memperlihatkan seorang wanita yang tengah duduk dengan santai. Merasa ada yang berbicara, lantas wanita itu berdiri dan tidak sengaja memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit.
"Aku?" tunjuk wanita itu pada dirinya sendiri. "Tentu saja aku istrimu? Memang kau pikir siapa?"
"Istri?" Roy melongo tak percaya akan ucapan wanita di depannya ini. Apa katanya tadi, istri? Sejak kapan ia menikah? Dan, kenapa wanita itu terlihat sedang Hamil.
Wanita itu terkikik geli melihat wajah pucat Roy. Ia tidak menyangka Roy akan sepanik itu merespon ucapannya.
"Jangan bercanda! Siapa kamu!" ucap Roy dengan sorot mata yang tajam. Berani sekali wanita di depannya ini mempermainkannya.
"Sudah aku katakan, aku ya istrimu." Wanita itu masih berusaha menahan tawanya. Ia senang melihat wajah marah Roy yang di anggapnya sangat menggemaskan.
Roy mengepalkan kedua tangannya, lantas maju dan menghampiri wanita itu.
"Hei, stop! Atau, aku akan berteriak!" ancamnya.
Roy terhenyak terpaku di tempatnya. Tidak mungkin ia melawan wanita itu dengan kekerasan. Apa jadinya nanti kalau sampai wanita itu benar-benar berteriak, dan menimbulkan keributan seisi kantor. Apa yang akan ia jelaskan nanti jika Tuan Andreas mengetahui kekacauan ini?
__ADS_1
Wanita itu sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia lepaskan begitu saja hingga suara tawa nyaringnya menggema memenuhi isi ruangan. Ia lantas melepas kaca mata serta masker yang menutupi di wajahnya, lalu membuang kain penutup kepala yang tadi ia gunakan untuk mengelabuhi para karyawan kantor.
"Elisa ... " Roy tergugu melihat Elisa yang tengah berdiri menantang depannya. Bagaimana mungkin ia tidak mengenali sosok menyebalkan di depannya ini. Pantas saja, tadi Roy seperti tidak asing mendengar suara itu. Namun karena penampilannya, Roy sama sekali tidak mengenali bahwa wanita itu sebenarnya Elisa.
"Iya, memang kak Roy pikir aku siapa?" ucap Elisa tersenyum mengejek, lantas ia kembali tertawa menampilkan deretan giginya yang putih bagaikan susu. "Apa aku terlihat berbakat?"
"Iya bakat menipu!" ucap Roy spontan.
"hahhh! Apa katamu!" teriak Elisa tidak terima. Elisa sampai melotot dan berkacak pinggang, lantas memasang wajah cemberut yang malah membuatnya terlihat lucu.
"Untuk apa kamu datang kesini?"
"Memangnya ada yang melarangku untuk datang kesini?"
"Apa Tuan Andreas tahu, kalau kamu datang ke sini?" Tanpa menjawab pertanyaan Elisa, Roy malah membalasnya dengan pertanyaan kembali.
"Tentu saja tidak. Papi tidak mungkin kasih ijin aku keluar rumah," jawab Elisa sendu. Semenjak ia hamil orang tuanya memang melarang Elisa untuk keluar rumah jika tidak terlalu penting. Elisa bisa keluar menemui Arya tentu saja dengan diam-diam menyelinap tanpa sepengetahuan siapapun. Dan sekarang, ia yang mendengar kalau papinya akan ada urusan di luar merasa sangat senang, Elisa punya kesempatan untuk menyelinap dan keluar rumah dengan aman.
"Tapi itu sangat berbahaya, El. Kamu tahu kondisimu sedang hamil." Roy tanpa sadar memberikan perhatiannya pada Elisa. Ia tahu Elisa mungkin sangat bosan jika terus-menerus di kurung di dalam rumah. Tapi ini demi kebaikan Elisa dan calon anak yang ada di kandungannya.
Roy masih asik menikmati khayalannya tentang calon anak yang ada di dalam kandungan Elisa. Upsss, salah! Tapi calon anaknya, mungkin bahasa itu lebih cocok ia gunakan, karena memang itu calon anak mereka.
"Kak, hellowww ...!" Elisa mengibaskan kedua tangannya di depan wajah Roy yang sedari tadi tengah melihat ke arah perutnya.
"Kak Roy ngapain sih?"
Roy tersentak kaget. Di usapnya wajah dengan kedua tangannya, lantas ia menatap ke arah wajah Elisa dengan perasaan tidak menentu.
"Tidak. Aku hanya ... ?"
"Jangan bilang Kak Roy pengen juga punya bayi," ucap Elisa polos. Ia tidak tahu sih, sebenarnya apa yang Roy pikirkan. "Makanya buruan nikah, Kak! Jangan kelamaan jomblo!"
Dasar! Roy terus mengumpat dalam hati. Rasanya ia ingin segera mengusir Elisa dari ruangannya saat ini juga.
__ADS_1
"Kak ... !"
Melangkah menuju kursi kerjanya yang sudah Elisa tinggalkan sedari dari, dan segera mendudukkan tubuhnya untuk memulai bekerja. "Sebaiknya kamu cepat pulang, El, aku banyak kerjaan."
"Jadi Kak Roy ngusir aku?" tanya Elisa tidak terima. Elisa sudah bersiap mengambil ponsel yang ada di dalam tas yang ia bawa.
"Halo, Pih ... "
"El ... !" Roy segera merampas ponsel milik Elisa. Roy tidak akan membiarkan Elisa menghubungi papinya, dan berakhir Roy yang terkena marah.
Elisa tersenyum penuh kemenangan. Ternyata rencananya berhasil. Padahal tadi Elisa hanya pura-pura menghubungi papinya hanya untuk membuat Roy takut. Benar saja, Roy hanya diam menghela napasnya dengan berat, tanpa berani lagi mengusirnya dari ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Roy, ia menebak pasti Elisa punya maksud tertentu sampai berani menyamar dan datang ke kantornya.
"Sebenarnya aku ..."
"Aku apa? Cepat, katakan!" tanya Roy dengan nada yang sedikit meninggi.
"Kak Roy bisa tidak anterin aku ke rumah ... ?"
"Aku sibuk, El! Kamu tahu kan hari ini Tuan Andreas tidak bisa datang,dan otomatis semua pekerjaan kantor aku yang harus handle."
"Sebentar aja, Kak, please ... "Elisa sudah merengek seperti anak kecil yang hendak minta uang jajan pada orang tuanya.
"Untuk apa kamu datang ke sana?" tanya Roy menyelidik, ia menatap wajah Elisa yang terlihat gugup.
"Aku hanya merindukan Tante Rani." Elisa meremat gaun panjang yang ia pakai, berharap Roy tidak akan mencurigainya.
"Baiklah. Satu jam saja, tidak lebih." Roy lantas berdiri dan mengambil kunci mobil. Sebelumnya ia menghubungi Sekretaris agar mengurus semua pekerjaannya selama ia pergi.
Elisa bersorak senang karena berhasil membujuk Roy untuk mengantarnya ke rumah Tante Rani.
BESOK LAGI AKUHNYA NGANTUK.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SAYYY...