
"Jawab, Nak, kenapa kau diam saja?" Nyonya Anggi mengusap sisa air mata di pipi, berharap Arya bisa membuktikan bahwa pria dalam CCTV itu bukanlah dirinya.
"Aku tidak melakukan apapun pada Lisa, Ma." Arya menggenggam tangan sang mama, berharap wanita itu percaya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Papa Pratama.
"Aku akan cari bukti, kalau pria dalam rekaman CCTV itu bukan Arya, tolong beri Arya waktu."
"Tidak bisa!" jawab Tuan Andreas seraya bangkit dari tempat duduknya. "Bagaimana dengan nasib Elisa? Saya minta Arya segera menikahinya." Tuan Andreas kembali memaksa.
"Tapi bukan Arya yang melakukannya, Om." Arya menjawabnya sangat yakin.
"Cih, kau bisa saja mengelak, tapi apa kau bisa membuktikan kalau dirimu tidak bersalah?" Tuan Andreas tersenyum sinis.
"Aku tidak mungkin mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan."
Semua kembali hening. Elisa yang dari tadi diam hanya bisa tertunduk malu di tempatnya.Jujur saja, Elisa begitu terluka saat mendengar Arya sama sekali tidak mengakui perbuatannya malam itu.
"Cukup!" Tuan Pratama menengahi perdebatan antara Tuan Andreas dan Arya.
"Kita akan tes DNA," ucap Tuan Pratama tiba-tiba.
Tes DNA? Mata Elisa membulat sempurna, membayangkan bagaimana nasibnya nanti selama menjalani kehamilan tanpa seorang suami.
"Apa maksud Anda?" tanya Tuan Andreas
"Kita akan menunggu usia kandungan Elisa sampai bisa melakukan tes DNA."
"Tidak. Saya tidak akan mengijinkan Elisa menjalani tes DNA," sela Tuan Andreas.
"Kenapa? Apa Anda takut hasil tes itu ternyata tidak cocok dengan Arya?" tanya Tuan Pratama menyeringai.
"Bu-bukan seperti itu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Tes DNA terlalu beresiko untuk bayi yang ada di kandungan Elisa, saya hanya tidak mau terjadi sesuatu padanya," jelas Tuan Andreas cukup masuk akal.
"Tuan tenang saja, saya akan mencarikan dokter khusus untuk merawat Elisa." Tuan Pratama berusaha meyakinkan.
"Dan, kalau memang benar anak yang di kandung Elisa adalah darah daging Arya, saya sendiri yang akan menyeret Arya untuk menikahi Elisa," ucap Tuan Pratama lagi.
Elisa berbinar senang mendengar perkataan Tuan Pratama. Tidak masalah bagi Elisa untuk menunggu beberapa bulan lagi, toh nanti ia pasti akan menikah dengan Arya.
Sedangkan Arya bisa bernapas lega, setidaknya ia masih punya waktu untuk mencari bukti, bahwa dirinya bukan pria yang merusak Elisa.
πππππ
"Lex, apa kau sudah menemukan bukti lain?" tanya Arya pada Alex yang ia tugaskan mencari bukti.
"Belum, Tuan. Petugas hotel bilang dua bulan terakhir ini ada dua orang yang meminta rekaman CCTV hotel itu," jawab Alex di seberang sana.
"Dua orang?" Arya mengernyit heran.
"Iya, Tuan. Menurut saya salah satu orang itu pasti suruhan Tuan Andreas, tapi kalau yang satu lagi saya kurang tahu."
"Mungkin saja. Saya curiga ada yang sengaja sabotase rekaman CCTV itu, hingga Tuan Andreas mendapat rekaman yang berisi potongannya saja."
"Lalu, apa rencana kita?"
"Tuan tenang saja, saya akan berusaha mendapatkan bukti itu dan menemukan siapa pelakunya."
Arya memijit pelipisnya yang berdenyut. Saat ini Arya tidak tahu harus melakukan apa. Arya khawatir semakin lama Rengganis akan mengetahui kabar ini. Apalagi kini Rengganis tengah hamil, Arya khawatir masalah ini akan mempengaruhi kesehatannya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Mas, kamu udah pulang." Rengganis tersenyum senang menyambut kedatangan Arya, wanita itu segera memeluk tubuh suaminya dengan perasaan rindu.
"Iya." Arya membalas pelukan Rengganis, mengecup kening wanita itu, lalu beralih ke perut. "Hai, anak ayah apa kabar?" Arya kembali memberikan kecupan pada perut istrinya. Rengganis hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya itu.
"Kenapa sampai selarut ini?" tanya Rengganis yang tengah menyiapkan pakaian ganti untuk Arya. Biasanya pukul lima sore Arya sudah sampai rumah. Tapi akhir ini Arya sering pulang terlambat, bahkan pernah sampai larut malam.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang banyak pekerjaan,." Arya terpaksa berbohong. Sebenarnya Arya terlalu sibuk mencari bukti kebenaran masalah dirinya dan Elisa, sampai terkadang membuat pekerjaannya sedikit tertunda. Arya harus lembur untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Di tambah lagi Elisa yang kadang terus mengganggu dengan menghubungi berkali-kali hanya untuk mengatakan sesuatu yang tidak penting. Arya ingin mengabaikan, tapi Elisa terus mengancam akan mendatangi Rengganis dan mengatakan semuanya. Tentu saja Arya tidak akan membiarkan sampai Rengganis mendengar masalah ini dari orang lain. Arya akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu masalahnya pada Rengganis.
Arya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang di pilihkan istrinya. Ia melirik ke arah tempat tidur, terlihat Rengganis sudah tertidur pulas. Arya pandangi wajah wanita itu, tak terasa air matanya lolos begitu saja. "Maaf," ucapnya lirih mengecup kening sang istri.
Arya segera merebahkan tubuh lelahnya di samping Rengganis. Memeluk tubuh wanita itu yang membuatnya merasa sangat nyaman. Tak berselang lama Arya sudah terbang menuju alam mimpi.
*****
tring!
Arya mengerjap membuka mata, merasakan kepalanya yang sedikit pusing. Arya meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu membukanya.
"Kak, aku merindukanmu."
Ah, sial! Lagi, pesan dari Elisa sungguh membuat Arya sangat muak. Kenapa pagi sekali Elisa sudah mengganggunya? Arya bergegas menghapus pesan itu, dan beranjak masuk ke kamar mandi.
"Sudah aku katakan, jangan pernah menghubungiku saat aku sedang ada di rumah!" bentak Arya pada Elisa di seberang sana.
"Aku hanya kirim pesan, Kak, lagian Rengganis tidak bakalan tahu."
"Tetap saja, kau tidak boleh!" Arya mendengus kesal. Jika saja Rengganis tidak sedang keadaan hamil, Arya tidak akan setakut ini dengan ancaman Elisa.
"Iya, maaf. Apa Kakak mau aku bawakan sarapan?" tanya Elisa lagi.
"Kau tak perlu sepeduli itu, ada istriku yang menyiapkan segalanya!" Arya menjawabnya dengan ketus.
"Jangan mimpi, Lis, istriku hanya Rengganis, dan selamanya hanya dia!" jawab Arya tegas.
"Kak ... !"
"Cukup, Lis, aku banyak kerjaan." Arya langsung menutup teleponnya.
Arya menjambak rambutnya kasar, bagaimana ia bisa berurusan dengan wanita seperti Elisa. Dan, apa tadi, istri? Membayangkannya saja tidak pernah.
__ADS_1