Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Baby Kay


__ADS_3

Tiga hari berada di rumah sakit akhirnya Rengganis di perbolehkan pulang oleh dokter karena keadaannya sudah membaik. Terlihat juga Nyonya Rani dan Bu Siti yang sudah menunggu di depan. Sedangkan Nyonya Anggi dan Bik Lastri entah kemana dua wanita itu.


Dengan menggunakan kursi roda Arya mendorong Rengganis menuju parkiran. Arya membantu istrinya untuk masuk ke mobil dengan sangat hati-hati. Di kursi belakang terlihat Nyonya Rani dan Bu Siti yang sudah lebih dulu masuk menggendong Baby Kay yang tertidur pulas.


Arya melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit dan menuju arah rumah mereka. Sepanjang jalan ia tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali menengok kebelakang karena ingin selalu melihat anaknya yang tengah tertidur.


Bu Siti yang menyadari itu hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala. Ternyata begitu bahagia menjadi seorang ayah. Mungkin itulah yang tengah Arya rasakan.


Mobil sampai di pekarangan rumah dan langsung di sambut oleh Nyonya Anggi dan Papa Pratama yang sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi.


"Selamat datang cucu nenek yang cantik." Nyonya Anggi langsung menghampiri baby Kay yang berada di gendongan Bu Siti.


"Hai ... Nenek?" Rengganis menyapa Nyonya Anggi yang terlihat begitu bahagia dengan kedatangan cucunya.


"Ayo bawa masuk dulu." Tuan Pratama mengajak mereka untuk masuk ke dalam karena di luar udara sudah sedikit panas.


Rengganis menatap sekeliling ruang tamu yang di hias dengan pernak-pernik khas bayi, tak ketinggalan juga ucapan SELAMAT DATANG BABY KAY tertempel jelas di dinding ruangan.


Ternyata Nyonya Anggi tidak bisa menjemput karena ingin memberinya kejutan, dan Bik Lastri yang sedari tadi tidak terlihat muncul dari arah dapur membawa nampan berisi makanan dan minuman.


****


Pagi sekali Rengganis terbangun dengan keadaan tubuh yang lebih segar. Ia meraba ranjang di samping yang ternyata sudah kosong.


Kemana Arya membawa Baby Kay sepagi ini.


Rengganis melangkah ke arah jendela, menyibak gorden kamar agar sinar matahari pagi bisa masuk ke ruangan. Ia memandang keluar jendela, terlihat Arya tengah duduk di samping kolam renang tengah berjemur dengan Baby Kay dengan santai. Rengganis tersenyum, kemudian melangkah keluar dari kamar menyusul suami dan anaknya yang lebih dulu duduk di sana.

__ADS_1


"Hai anak Mama." Rengganis duduk di samping Arya yang masih asik dengan Baby Kay di pangkuannya. Rengganis mengecup kening bayi mungil itu dengan perasaan bahagia.


Arya tersenyum melihat kedatangan Rengganis dengan wajah yang lebih segar. "Kamu sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?" tanya Arya kemudian.


Rengganis mengangguk. "Kenapa tidak membangunkanku?"


"Kamu tidur sangat pulas. Jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu. Lagipula aku ingin belajar jadi Ayah yang baik." Jawaban Arya sontak membuat Rengganis terharu, hingga terlihat matanya tampak berkaca-kaca.


"Jangan sedih. Aku tidak suka melihatmu menangis." Arya kembali tersenyum seraya mengangkat tubuh anaknya, menyerahkannya pada Rengganis.


"Terima Kasih. Kamu Ayah yang hebat," ucap Rengganis memandang Arya penuh cinta.


"Kamu juga Mama yang hebat." Mengecup kening Rengganis sekilas lalu beralih ke pangkuan istrinya. "Dan kamu putri kecilku yang cantik." memberi satu kecupan lembut di pipi anaknya.


*****


"Rengganis sudah melahirkan? Kapan?" tanya Elisa pada Roy yang memberitahunya kabar itu.


"Oh." Elisa hanya menjawab santai lalu kembali menatap majalah yang sedang ia baca.


"Apa kau tidak ingin menjenguknya?" Yang di tanya masih asik dengan majalah di tangan, hingga Roy geram dam merampas majalah itu dari tangan Elisa.


"Apa sih, Kak!".Elisa bangkit ingin meraih kembali majalah yang ada di tangan suaminya, namun tetap saja ia tidak berhasil.


"Kembalikan majalahku!" Elisa masih terus berusaha meraih majalah itu, meski terlihat kesusahan dengan perutnya yang membuncit.


"Katakan, kau akan ikut bersamaku besok." Roy mencoba berbicara baik-baik dengan Elisa agar mau pergi bersama ke rumah Rengganis.

__ADS_1


"Tidak akan!" Elisa menolak. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kita akan pergi ke rumah Rengganis besok!" ulang Roy sekali lagi.


"Aku sibuk." Elisa masih kekeh pada pendiriannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa Ia tidak akan menginjakkan kakinya di rumah wanita itu. Sungguh ia masih membenci Rengganis.


"Ini bukan penawaran lagi, El, tapi perintah!" ucap Roy tanpa mau di bantah.


"Untuk apa? Bukankah sebentar lagi aku juga akan melahirkan. Kak Roy bisa melihat anakku dengan puas nanti," balas Elisa dengan bibir yang mencebik. Ia tidak tahu saja saat pernikahannya kemarin Rengganis mengiriminya hadiah, tapi Roy sengaja menyembunyikan karena tidak ingin Elisa semakin sedih mengingat cintanya yang tak kesampaian.


"El....!"


"Aku benci wanita itu, Kak!" teriak Elisa emosi. Ia meluapkan kemarahannya di depan suaminya. Hingga Mbok Nah yang ada di dapur berlari keluar saat mendengar sang majikan. Wanita paruh baya itu mengintip dari balik pintu.


Memang Elisa dan Roy sering bertengkar, apalagi semenjak kedua orang tua Elisa berangkat ke luar negeri. Elisa kembali seperti dulu, menjadi gadis manja dan menyebalkan.


"Berhenti membenci siapapun, El. Dan belajarlah menerima kenyataan."


Berulang kali Roy menyadarkan Elisa ntuk mengubur dalam-dalam masa lalunya. Agar ia bisa menatap masa depan yang baru. Namun Elisa sama sekali tidak peduli, bahkan ia masih menyimpan banyak foto Arya di dalam galeri ponselnya.


"Maaf, aku nggak bisa Kak." Elisa menggeleng, lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Aku belum bisa lupain Kak Arya sampai saat ini."


Roy memejamkan mata, seakan dadanya tengah di himpit oleh batu yang amat besar.


kenapa sesakit ini.


Benarkah aku sama sekali tidak punya tempat di hatimu, El??

__ADS_1


"Kamu belum mencobanya, El," ucap Roy lirih. Sungguh, ia berharap Elisa tidak berbicara apapun lagi yang akan membuatnya semakin terluka.


Elisa menggeleng, dan terus menggeleng. Ia masih pada pendiriannya tadi, Arya yang tetap menguasai hati dan pikirannya saat ini, entah sampai kapan.


__ADS_2