
Roy merapikan beberapa berkas yang masih tercecer di meja kerjanya. Hari ini lumayan menguras tenaga, ia yang menjabat sebagai asisten Tuan Andreas sekaligus baru saja menghadiri meeting dengan salah satu koleganya. Apa mau di kata, seharusnya tugas ini bukan lagi menjadi urusannya, jika saja Elisa–putri tunggal Keluarga Andreas tidak tiba-tiba menghilang dengan alasan yang tidak jelas.
Menghela napasnya pelan, Roy melirik arloji di pergelangan tangan. Waktu menunjuk pukul lima sore, artinya jam kantor telah usia dari setengah jam yang lalu. Roy bergegas menuju lift yang akan membawanya menuju lantai bawah.
Bunyi lift berhenti membuatnya Roy terhenyak, dan pintu yang terbuka lebar membawa langkah pria itu untuk segera keluar menuju loby kantor.Roy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sore ini sehabis pulang kantor ia memang berniat untuk mampir sebentar ke salah satu supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan yang telah habis.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Roy untuk sampai di salah satu supermarket yang biasa ia kunjungi. Roy segera memarkirkan mobil miliknya di parkiran yang memang sudah di sediakan oleh pihak supermarket itu. Roy turun dan menuju pintu setelah menekan sensor pada kunci mobil, dan seketika terpaku. Matanya memandang lurus pada sosok yang baru saja keluar dari supermarket tersebut.
Tubuhnya mendadak beku, pun dengan sosok di depannya. Mata mereka bertemu, lalu saling pandang. Keduanya sama-sama memberi sorot mata tercengang, hingga Roy menurunkan pandangannya menatap bagian tubuh yang paling menonjol dari wanita itu.
"Elisa," gumamnya pelan, bahkan hampir seperti berbisik. Elisa menunduk takut pada sorot mata pria di depannya ini. Ia takut orang lain akan mengetahui kebohongannya yang selama ini ia dan keluarganya sembunyikan.
Elisa takut Roy menceritakan pada orang-orang tentang kebohongannya. Sungguh saat ini ia berniat kabur dan menghindar dari hadapan pria itu. Tapi tidak mungkin, Roy pasti tidak akan membiarkan Elisa pergi begitu saja, tanpa mendapatkan penjelasan yang sebenarnya dari gadis itu
Akhirnya Elisa memilih pasrah dan akan menjawab apa pun yang akan Roy tanyakan nanti padanya. Setelah lima belas menit yang lalu mereka bertemu tidak sengaja di depan supermarket, Elisa memilih diam dan tidak mengatakan apapun. Ia memaksa Roy untuk tidak berbicara dengannya di tempat umum. Maka di sinilah Roy mengajak Elisa ke sebuah restoran terdekat yang kebetulan tidak terlalu ramai, dan memilih ruangan VIP agar mereka bisa berbicara bebas, tanpa ada orang lain yang mendengar.
Sebenarnya ada banyak hal yang Roy ingin tanyakan pada Elisa. Terutama tentang kebohongannya yang mengatakan ia berangkat ke luar negeri untuk meneruskan kuliahnya secara tiba-tiba. Padahal Roy tahu kalau sebelumnya Tuan Andreas sendiri yang meminta Elisa untuk meneruskan pendidikannya di sini. Bahkan Roy sendiri yang membantu saat gadis itu mengalami kesulitan saat pertama bekerja di kantor.
Berulang kali Elisa nampak memperhatikan sekitar. Entah apa yang sebenarnya gadis itu khawatirkan,mungkin dia ketakutan apabila ada orang lain yang mengenalinya,atau salah satu rekan bisnis papinya yang tak sengaja melihatnya di sini.
Padahal kini mereka berdua berada dalam ruangan khusus yang tidak sembarangan orang bisa melihatnya,lalu apalagi yang gadis itu takutkan?
"El ..." Roy menyadarkan gadis di depannya ini yang tampak merasa tidak nyaman. Elisa lantas menoleh menatap Roy yang sepertinya siap menghujamnya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Jadi, kenapa kamu berbohong?" tanya Roy memulai pembicaraannya. Bahasanya pun tidak seformal saat pertama kali mereka bertemu.
Masih dengan raut wajah yang khawatir dan tangan yang saling meremas satu sama lain, perlahan Elisa mengangkat wajahnya, menatap Roy yang masih menunggu penjelasan darinya.
"Aku minta maaf." Elisa menunduk menyembunyikan wajah malunya.
"Apa maksudmu?"
Elisa tahu kalau pria di depannya ini menginginkan penjelasan yang lebih, bukan hanya sekedar permintaan maaf saja.
"Aku minta maaf udah bohongin kamu, eh ... " Elisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Maksud aku, udah bohongin kalian," ucapnya lagi.
"Lalu?"
__ADS_1
"Maaf ..." Elisa semakin menunduk.
"El ... !" Roy menghentak meja di depannya hingga membuat gadis itu sedikit berjengit ke belakang.
"Aku malu," ucap Elisa memandang wajah pria di depannya dengan ragu. "Aku hamil ... " Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga.
Roy membeku mendengar jawaban Elisa tentang kehamilannya. Memang apa yang di takutkan lagi? Bukankah semua wanita memang kodratnya hamil?
"Lalu, di mana suamimu? Mengapa kamu sendirian disini?" Dengan bodohnya Roy melontarkan pertanyaan seperti itu, tanpa memandang wajah Elisa yang sudah semakin tersiksa.
Elisa memilih diam tanpa berniat menjelaskan apa-apa lagi. Lagipula apa urusannya dengan Roy? Toh, dia juga hanya pegawai di perusahaan papinya.
"El ...?"
Elisa menggeleng. "Kamu nggak perlu tahu. Tapi, aku mohon jangan kasih tahu siapapun tentang masalah ini." Kali ini dengan air mata yang semakin deras di pipinya.
"El ...?" Roy meraih tangan Elisa, menggenggamnya erat seakan memberinya kekuatan. Roy mengingat tentang kejadian malam itu. Rasanya ia sangat merasa bersalah pada gadis di depannya ini. Jika kejadian malam itu membuahkan seorang anak, apa mungkin Elisa mengira anak yang di kandungnya adalah anak Arya? Dan pasti, Arya menolaknya karena memang dia tidak melakukannya. Apa hal itu yang membuat Elisa dan keluarga sampai berbohong pada semua Orang?
"El, sebenarnya malam itu ..." Roy menjeda kalimatnya, memikirkan kata-kata yang cocok untuk menjelaskan pada Elisa.
"Hah?" Elisa menghela napas pelan. Ia mencoba menenangkan perasaannya yang masih tidak menentu. Dering ponsel di dalam tas milik Elisa menyadarkan keduanya. Elisa segera meraih ponsel dan membuka isinya.
"Di jemput? Siapa?"
"Supir suruhan Papi." Elisa beranjak dari duduknya dan merapikan sedikit riasannya yang berantakan akibat tadi ia menangis.
"Tapi, El ....?" Roy belum sempat meneruskan kalimatnya, namun gadis itu sudah menghilang di balik pintu.
Ah Sial, kenapa aku tidak jujur sedari awal ..
*******
Nyonya Rani sedang duduk di sebelah ranjang rawat Rengganis. Wanita itu sedang menggantikan Bu Siti yang kebetulan pulang untuk mengambil beberapa pakaian ganti putrinya. Menatap Rengganis yang tertidur akibat obat penenang yang tadi di suntikan oleh perawat, Nyonya Rani tidak bisa menahan tangisnya saat melihat kondisi Rengganis saat ini.
Wanita paruh baya itu ikut sedih mendapati kenyataan bahwa Rengganis harus menghadapi masalah seberat ini. Di tengah isak tangisnya, Nyonya Rani mendengar lenguhan Rengganis. Lalu mata Rengganis perlahan terbuka, buru-buru NyonyRani menghapus jejak air mata yang membekas di pipi.
"Sayang ... " Nyonya Rani menyapa lembut. "Gimana keadaan kamu?"
__ADS_1
Rengganis yang belum sepenuhnya sadar menatap mama angkatnya itu dengan senyuman kecil. "Baik Ma." Ia mencoba menyembunyikan perasaannya yang benar-benar hancur.
"Kamu mau minum?"
"Aku nggak haus, Ma," jawabnya pelan seraya menatap langit-langit kamar. Setiap mengingat kejadian yang menyakitkan di supermarket itu, dada Rengganis merasa sesak. Mengapa baru sekarang ia mengetahuinya? Kenapa ia terlalu bodoh menyadari sikap Arya yang berubah? Seandainya ia tahu lebih cepat, mungkin tidak akan sesakit ini.
"Ma ... "
"Iya, Sayang."
"Aku lagi mimpi nggak, sih? Ini nggak nyata kan, Ma?"
"Nak ... " Nyonya Rani langsung memeluk Rengganis erat, "Kamu yang kuat ya."
Rengganis menggeleng pelan. "Ini pasti mimpi."
"Mama yakin kamu pasti bisa ngelewatin ini, kamu harus semangat."
"Mas Arya udah hianatin aku, Ma." Bahkan sampai saat ini Rengganis tidak mempercayai itu, jika mengingat bagaimana dulu Arya sangat menginginkannya.
Nyonya Rani dapat merasakan betapa terlukanya hati putrinya itu. Rengganis harus menghadapi masalah seberat ini dengan keadaan dirinya yang sedang hamil.
"Mama percaya Arya tidak melakukannya," balas Nyonya Rani meyakinkan.
Rengganis menggeleng kembali. "Tapi kenyataannya kaya gitu, Ma. Elisa hamil anak Mas Arya." Hancur sudah pertahanannya. Rengganis meraung, terisak sambil meremas erat bajunya. Air matanya mengalir kian deras.
Nyonya Rani yang melihat itu semakin memeluknya erat. Wanita mana yang tidak terluka saat mengetahui suaminya menghamili wanita lain, apalagi wanita itu orang yang sangat di kenalnya.
"Jangan terlalu sedih, Nak, kasihan bayi yang ada di perut kamu." Nyonya Rani mengusap perut Rengganis dengan lembut.
Rengganis tersadar dengan apa yang ia lakukan. Sungguh ia merasa sangat berdosa telah mengabaikannya. Mengusap perutnya lembut, lantas ia berkata, "Maafin Mama ya, Sayang."
Nyonya Rani tersenyum melihat Rengganis yang sudah tampak lebih tenang. "Sekarang kamu istirahat ya, Mama akan jagain kamu di sini." Rengganis hanya mengangguk lemah, dan berusaha menyusut tangisnya.
"Nyonya Rani beranjak dari duduknya, mengambil selimut dan ia berikan pada Rengganis.
"Ma ... " Rengganis memegang tangan sang mama yang hendak menyelimutinya. Seketika Nyonya Rani menoleh menghadapnya.
__ADS_1
"Aku nggak kuat, Ma, " ucap Rengganis terbata. "Aku ingin pisah dari Mas Arya."
KASIH LIKE NYA DONG JANGAN PELIT NAPA!!!