
Dua bulan berlalu, kehamilan Rengganis sudah menginjak usia 4 bulan. Wanita itu terlihat semakin cantik dengan perut yang mulai membuncit. Sejak saat itu Arya mulai membatasi kegiatan Rengganis yang akan membuatnya kelelahan. Bahkan Arya kini melarang Rengganis untuk pergi ke kantor. Nyonya Rani juga sudah mempercayakan tanggung jawab perusahaan pada salah satu orang kepercayaannya. Meski awalnya Rengganis menolak karena takut bosan jika berada di rumah setiap hari, namun karena Arya terus memaksa, akhirnya wanita itu pun mengalah, dan memilih membantu urusan kantor dari rumah
Kediaman Andreas.
Elisa tengah menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini tubuhnya terasa begitu lemas. Padahal Elisa tidak pernah melakukan pekerjaan yang berat. Nafsu makannya pun sedikit berkurang. Elisa hanya suka makan-makanan yang asam dan pedas.
Seperti saat ini, Elisa hanya menatap makanan yang ada di hadapannya. Perutnya seakan menolak setelah mencium aroma roti bakar dan susu coklat yang ada di depannya. Padahal biasanya Elisa sangat menyukai kedua menu sarapan tersebut.
Elisa berusaha baik-baik saja, dan memulai sarapan. Ia tidak ingin terlambat datang ke kantor. Baru satu suap roti bakar masuk ke mulut, tiba-tiba perut Elisa seakan di aduk-aduk. Gadis itu segera berlari menuju wastafel, dan memuntahkan semua isi perutnya. Tuan Andreas dan Nyonya Sintia yang melihat kejadian itu nampak terkejut, sang mami segera berlari menyusul Elisa dan membantu memijit tengkuk putrinya.
"El, kamu sakit?" tanya sang mami.
"Tidak tau, Mi, dari kemarin kepala El pusing," jawab gadis itu.
"Mungkin kamu kelelahan, El, sebaiknya hari ini kamu istirahat di rumah saja."
"Tapi El banyak kerjaan, Mi."
"Biar pekerjaanmu Roy yang menggantikannya," sela Tuan Andreas karena kasihan melihat wajah pucat Elisa.
"Tapi, Pi ... ?"
"Benar kata Papi, El. Kamu sementara istirahat dulu di rumah." Nyonya Sintia menambahi.
"Baiklah." Elisa beranjak kearah tangga menuju kamarnya, Elisa ingin segera beristirahat agar badannya cepat pulih. Baru dua langkah, tiba-tiba Elisa merasa pusing, badannya semakin lemas, dan pandangannya tiba-tiba buram. Lalu, semua terasa gelap.
Brukkk!
"ELISA ... !" Nyonya Sintia berteriak histeris, melihat anaknya jatuh tak sadarkan diri. Tuan Andreas langsung berlari menghampiri tubuh anaknya yang sudah tergeletak di lantai.
"Elisa, bangun Nak." Menepuk pipi Elisa pelan.
"Elisa kenapa, Pi?" Nyonya Sintia panik. Wanita itu sudah menangis ketakutan melihat wajah Elisa yang semakin pucat. Tanpa memperdulikan ucapan istrinya, Tuan Andreas segera membopong tubuh Elisa dan membawanya ke kamar. Tuan Andreas segera menghubungi dokter pribadi untuk segera datang.
Nyonya Sintia mondar-mandir menunggu dokter yang kini tengah memeriksa Elisa. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan putrinya, kenapa bisa sampai pingsan.
__ADS_1
"Maaf Tuan dan Nyonya, bisa kita bicara di luar?" Dokter meminta keduanya keluar kamar.
"Apa tidak bisa bicara disini saja, Dok?" tanya Nyonya Sintia tidak sabar.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja, Mi." Tuan Andreas membujuk sang istri untuk mengikuti kemauan dokter. Ia tidak mau berlama-lama mendengar kabar tentang kondisi Elisa.
"Baiklah." Mereka meninggalkan Elisa yang belum sadarkan diri.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putri saya, Dokter?" tanya Tuan Andreas pada pria yang memakai jas berwarna putih itu.
"Begini Tuan dan Nyonya, sebenarnya Nona Elisa tidak sakit, dia hanya ...?"
*****
Nyonya Sintia yang tadinya hendak marah kini hanya bisa menangis tergugu di samping Elisa. Sebagai seorang ibu tentunya tidak tega melihat keadaan putrinya yang masih terbaring lemah dengan infus yang menancap di sebelah tangannya.
"Mi, kenapa menangis?" Elisa yang beberapa menit lalu sudah sadar merasa bingung, karena melihat maminya menangis. Kini Elisa bertambah ketakutan kalau-kalau dirinya mengidap sebuah penyakit yang berbahaya.
"Mi ...?" tanya Elisa kembali karena melihat wanita itu malah menangis semakin kencang.
"Mi, katakan, ada apa? Apa aku terkena penyakit yang berbahaya?" tanya Elisa dengan terisak. Ia tidak bisa menahan tangisnya saat melihat sang mami menangis tersedu.
Nyonya Sintia melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang menetes di pipi Elisa. "El, katakan pada mami, siapa yang melakukannya?"
"Siapa yang melakukannya?" Elisa mengulangi pertanyaan wanita itu dengan bingung.
"Iya, Sayang, siapa yang melakukannya padamu? Katakan pada mami!" tuntut Nyonya Sintia dengan tangis yang kembali pecah.
"Melakukan apa, Mi?" Elisa kembali bertanya dengan mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Siapa lria yang sudah menghamilimu!" teriak Nyonya Sintia Emosi.
Deg!
Jantung Elisa berdetak tidak karuan saat mendengar perkataan Mami Sintia. "Ha–hamil?" lirih Elisa dengan wajah yang pucat."
__ADS_1
"Mi ... aku ... "
"Ya, Sayang kau sedang hamil, dan katakan, siapa pria itu?" Elisa masih terkejut dengan kabar yang di dengarnya. Elisa justru terdiam, dan tidak tahu harus berkata apa. Elisa tidak menyangka kejadian saat malam itu bisa membuat dirinya hamil, padahal ia melakukannya hanya sekali, itupun dengan keadaan dirinya yang sangat mabuk.
"ELISA ANDREAS!" sentak Nyonya Sintia emosi, melihat putrinya yang hanya diam saja.
"Mi ... " Elisa menangis dengan wajah bingung dan ketakutan.
"Jangan menangis,El! Kau cukup mengatakan siapa pria itu!" Elisa menggelengkan kepalanya, sambil terus menangis.
"Elisa, cepat katakan!" Nyonya Sintia mengguncang bahu putrinya dengan emosi.
"Mi ... aku tidak bisa mengatakannya, karena ... " Elisa menutup wajahnya dengan tangis yang semakin keras.
"Ya Tuhan ... " Nyonya Sintia mengusap air matanya sambil menarik napas panjang. Ia berusaha sabar dalam menghadapi Elisa.
"Dengarkan mami, El! Mami tidak akan marah pada pria itu, tapi kau harus mengatakan siapa dia, sebelum Papi lebih dulu menemukannya."
"Tapi, Mi ... " Elisa kembali menggeleng dengan air mata yang semakin deras.
"Kau pasti tahu sendiri apa yang akan Papi lakukan pada orang yang berani menyakitimu, kan? Jadi, lebih baik katakan pada mami sekarang juga!" Nyonya Sintia menatap serius wajah putrinya.
"Tidak, Mi, aku mohon cegah Papi! Pria itu tidak bersalah, aku yang menggodanya, karena saat itu aku mabuk." Elisa memohon.
"Astaga! Kamu mabuk, El?" Nyonya Sintia hampir limbung saat mendengar kelakuan putrinya itu.
"Maaf, Mi."
Nyonya Sintia menghela napas berat saat mendengar perkataan Elisa. Memang bukan sepenuhnya salah pria itu, tapi tetap saja dia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya.
"Oke, Mami akan mencegahnya, dan meminta Papi kembali kesini. Tapi kau harus berjanji untuk mengatakan semuanya dengan jujur."
Elisa mengangguk. Nyonya Sintia menghubungi suaminya untuk kembali ke rumah. Setelah menutup ponsel, kini Nyonya Sintia menatap tajam pada putrinya,
"Sekarang katakan, siapa dia!" Nyonya Sintia berkata dengan sangat tegas.
__ADS_1