
Dengan langkah penuh percaya diri, Elisa melangkah masuk ke dalam lift. Dia langsung menuju lantai 8 tempat di mana laki-laki itu tinggal.
Apartemen mewah yang Roy tempati sekarang adalah hadiah dari Tuan Andreas saat pertama kali diaa memenangkan proyek besar. Waktu itu usia Roy baru 23 tahun. Masih terbilang sangat muda untuk seorang pebisnis, namun Roy mampu membuat perusahaan Tuan Andreas berkembang pesat berkat kemampuannya.
Elisa sampai di depan pintu, sambil terus mengingat nomor kamar yang dulu pernah dia datangi. Memang Elisa pernah sekali berkunjung ke sini bersama dengan papinya waktu itu.
Gadis itu yakin, bahwa kamar yang dia tuju tidak lah salah, dia menekan bel apartemen, sekali...dua kali...tiga kali...
Tidak ada tanda-tanda akan di buka pintu itu.
Kemana Kak Roy? Apa aku salah kamar.
Elisa terus menekan bel pintu berulang kali, sampai dia jengah sendiri karena tidak ada respon dari dalam sana.
Sementara Roy yang tengah berada di kamar mandi menggerutu kesal, karena mendengar suara bel pintu berbunyi terus menerus.
Lelaki itu hanya melilitkan handuk sebatas pinggang, karena terlalu terburu-buru ingin melihat siapa orang yang datang ke tempatnya malam-malam begini.
Berjalan ke arah pintu, Roy terus mengumpat pada seseorang yang tidak sabaran itu. Sampai dia lupa melihat terlebih dahulu siapa yang datang.
Roy membuka pintu kamar dengan memasang wajah yang masih kesal. Dan benar saja, dia bertambah kesal saat tau siapa tamu yang datang ke tempatnya saat ini.
"Untuk apa kamu datang kemari?" Roy langsung bersikap tidak ramah saat melihat wajah Elisa yang tengah mematung di depan pintu.
Lain hal nya dengan Elisa, gadis itu malah shock melihat pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana bisa Roy membuka pintu hanya dengan menggunakan handuk seperti itu.
Seketika pikiran liar Elisa berkelana, kalau saja...
Ah, apa yang dia pikirkan. Memang benar dia telah melakukan dengan laki-laki yang ada di depannya ini, tapi waktu itu dia dalam keadaan tidak sadar.
"Hei....?" Roy menepuk pundak Elisa pelan, karena melihat gadis itu hanya diam dan menatapnya.
"Eh, iy-iya..." Elisa mengerjap berulang kali, mencoba mengembalikan kesadaran yang tadi sempat hilang.
"Apa yang ingin kamu katakan, hingga malam-malam datang kemari?" Roy kembali bersuara namun dengan pertanyaan yang berbeda.
"Aku_aku...?" Seketika Elisa menjadi gugup. Entahlah, semua rencana yang telah dia siapkan matang-matang sedari tadi seakan menguap begitu saja. Gadis itu masih fokus memandangi laki-laki di depannya dengan sesekali menunduk menyembunyikan rona merah di wajah.
"Apa yang kamu pikirkan?" Roy mendekat saat melihat Elisa yang semakin gugup, dia tau gadis di depannya ini tengah menyembunyikan rasa malunya.
__ADS_1
"Bisakah Kak Roy memakai baju?" Elisa memalingkan wajah, tidak ingin terus menerus berpikiran liar karena terlalu lama memandang tubuh seorang laki-laki.
"Kenapa...?" Roy pura-pura bodoh, seakan ia tidak mengerti dengan isi pikiran Elisa saat ini.
"Is...pakai baju sih, apa Kak Roy tidak malu?" Elisa mencebik kesal akan jawaban Roy yang tidak peka sama sekali.
"Malu..? Apa seorang gadis yang mendatangi tempat laki-laki juga tidak malu? Apalagi malam-malam seperti ini!" jawabnya telak, membuat Elisa menelan saliva nya kasar. Benar juga apa yang di katakan laki-laki itu, harus nya pertanyaan itu di tujukan untuk dirinya sendiri.
"Aku 'kan ada urusan," Elaknya,mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tidak semakin tersudut.
"Apa...?"
Elisa bungkam, dia kembali merangkai kata-kata nya yang tadi sempat dia persiapkan dari rumah.
Roy yang melihat Elisa diam, melangkah menuju tempat gadis itu berdiri..
"Apa yang Kak Roy lakukan?" Elisa mundur beberapa langkah karena melihat gelagat mencurigakan dari laki-laki di hadapannya ini.
"Kenapa..? Bukannya kamu sendiri yang datang kemari." Roy semakin mendekat, membuat Elisa terus mundur dan akhirnya membentur tembok.
Elisa bisa merasakan napas hangat Roy yang menerpa wajah,seketika tubuhnya meremang saat memandangi tubuh laki-laki di depannya dengan jarak yang begitu dekat.
Jantung Elisa berdegub sangat kencang, merasakan belaian lembut tangan Roy yang perlahan turun menyentuh pipinya. Darahnya berdesir hebat seakan merespon setiap perlakuan lembut laki-laki itu.
Perlahan Elisa memejamkan mata, menikmati semua perlakuan Roy yang secara tiba-tiba.
Jujur, dia belum pernah di perlakukan seperti ini, karena dari dulu dia terlalu sibuk mengejar cinta laki-laki yang bahkan sama sekali tidak pernah menganggapnya.
Elisa tersadar saat tangan Roy berhenti mengusap pipinya. Perlahan dia membuka mata dan melihat laki-laki itu tengah tersenyum mengejek.
"Ap-apa yang Kak Roy lakukan?" Tiba-tiba Elisa mendorong tubuh laki-laki itu hingga dia bisa terlepas dari kungkungan nya.
"Apa...?" Roy hanya menjawab santai tanpa mempedulikan wajah Elisa yang terlihat kesal. Entah karena tindakannya barusan atau karena ia tidak jadi mencium.
"Jangan macam-macam ya, Kak?"
"Maksud kamu...?" Roy menggeleng tak percaya akan sikap Elisa, padahal tadi gadis itu sama sekali tidak menolak saat dia menyentuhnya.
"Aku akan teriak jika Kak Roy berani macam-macam!" Ancam Elisa tidak tau malu, dia kehabisan kata-kata hingga kalimat itu lah yang akhirnya keluar.
__ADS_1
Roy hanya berdecak sambil berlalu masuk ke dalam kamar, kali ini dia keluar sudah dengan memakai pakaian santai.
"Sebenarnya, ala yang ingin kamu sampaikan?" Roy sudah duduk di sofa ruang tamu sembari memainkan ponsel di tangan.
"Apa Kak Roy yakin?" Kali ini Elisa kembali ke niat awalnya datang kemari.
"Tentang...?"
"Kita akan menikah besok."
"Lalu...?"
"Apa Kak Roy bisa janji, tidak akan mengingkari perjanjian kita?" Elisa mengingatkan syarat yang dia ajukan pada Roy. Dan saat itu Roy langsung menyetujuinya.
"Aku tidak akan menyentuhmu," ucap Roy santai. Laki-laki itu sama sekali tidak memandang Elisa saat mengatakan hal itu.
Elisa berbinar senang mendengar jawaban dari Roy untuk yang ke dua kalinya. Ternyata laki-laki itu tidak lupa dengan permintaannya dulu saat ia menyetujui untuk menikah.
"Makasih Kak," Elisa tersenyum. Sekarang tidak ada yang dia takutkan lagi. Setelah menikah nanti dia akan menjalani pernikahannya seperti biasa, tapi tidak akan saling mengurusi urusan pribadi masing-masing.
"Aku tidak akan menyentuhmu..."Roy kembali bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari layar gawai nya, "Kecuali jika kau juga menginginkannya."
Kali ini Elisa terdiam, mencerna setiap ucapan yang baru saja keluar dari bibir laki-laki itu.
Apa maksudnya, apaa dia berniat melakukannya lagi denganku...
Elisa membulatkan matanya, saat memahami ucapan Roy yang baru saja dia dengar. Gadis itu menatap tajam pada laki-laki yang tengah memandangnya dengan seulas senyum yang menyeringai.
"Kakkkkk......!!!!!"
ADAKAH YANG KANGEN MEREKA?
MAAF KISAH ELISA & ROY TERPAKSA SAYA PINDAHKAN, KALIAN DAPAT MEMBACANYA DI NOV*LAH DI SANA GRATIS
DAN ADA JUGA DI G**DNOVEL
DENGAN JUDUL "KITA HANYA MENIKAH"
PENA MAMA LANA
__ADS_1