Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Wakil CEO


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, hubungan Rengganis dan Arya tampak semakin dekat. Pagi ini Rengganis tengah menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya itu.


Klak,


Pintu kamar mandi terbuka, Arya keluar dengan handuk yang melilit di pinggang.


"Mas, aku kangen Ibu, bolehkah aku mengunjunginya?" tanya Rengganis meminta ijin pada Arya.


"Tentu saja boleh. Tapi, tidak sekarang, nanti setelah pulang kantor kita akan berangkat bersama," jawab Arya sambil mengenakan pakaiannya.


"Benarkah? Mas mau ikut mengunjungi Ibu?" tanya Rengganis dengan mata berbinar.


"Tentu saja, kenapa tidak?"


Rengganis tersenyum senang mendengar jawaban Arya. Setelah keduanya rapi, mereka beranjak menuju meja makan untuk sarapan pagi.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Elisa mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilan sendiri. Gadis itu tersenyum sumringah, hari ini untuk pertama kalinya Elisa akan datang ke kantor. Bukan sebagai gadis manja beberapa tahun yang lalu, tapi sebagai gadis yang lebih nampak dewasa, apalagi kini El di bebani tanggung jawab sebagai wakil CEO.


Tuan dan Nyonya Andreas sudah sedari tadi menunggu kedatangan putrinya di meja makan untuk sarapan bersama. Bahkan 30 menit yang lalu Mami Sintia telah menyuruh pelayan memanggilkan Elisa untuk segera turun, tapi nampaknya gadis itu masih betah berlama-lama berada di kamar.


"Pi sebenarnya Elisa ngapain aja sih dari tadi belum turun juga?" tanya Mami Sintia pada suaminya.


"Mungkin Elisa sedang bersiap, Mi, hari ini 'kan pertama kali masuk kantor." Papi Andreas memberi alasan.


"Tapi, kenapa lama sekali?"


"Yah, seperti Mami tidak tau saja, perempuan memang lama kalau berdandan," ucap Papi Andreas keceplosan.

__ADS_1


"Apa Papi bilang?!" Mami Sintia melotot tidak terima dengan perkataan suaminya.


"Maaf, Mi. Tapi, papi tidak bermaksud seperti itu."


Nyonya Sintia mendengus kesal. Jika di lanjutkan berdebat dengan suaminya bisa-bisa moodnya hancur. Nyonya Sintia memilih beranjak meninggalkan suaminya dan menaiki anak tangga menuju kamar Elisa.


"Kenapa wanita kalau marah benar-benar menyeramkan," kata Tuan Andreas dalam hati.


"Elisa ...!"


"Ada apa, Mi?" Elisa keluar dari kamar dengan pakaian yang tampak rapi, sembari menenteng tas kecil berwarna hitam di tangannya.


"Apa El sudah siap? Papi sudah ada di meja makan dari tadi lho," ucap Mami Sintia menggandeng tangan Elisa menuruni anak tangga.


"Apa El terlihat cantik hari ini?" Elisa menatap pakaiannya ragu.


"Issss ... Mam, nanti makeup El rusak."


"Maaf, Sayang, mungkin mami terlalu senang."


Mereka melanjutkan sarapan pagi dengan bahagia. Setelah selesai Elisa berangkat ke kantor satu mobil dengan Tuan Andreas.


Di kantor semua karyawan telah di kumpulkan oleh asisten Roy, karena hari ini akan ada sesi perkenalan wakil CEO baru yang tak lain adalah putri dari Tuan Andreas sendiri.


"Selamat pagi semua. Saya selaku CEO disini akan memperkenalkan seseorang pada kalian," ucap Tuan Andreas di hadapan para karyawannya.


"Silahkan maju Nona Elisa." Asisten Roy mempersilahkan Elisa untuk maju ke depan.


"Perkenalkan, dia putri saya–Elisa yang mulai hari ini akan menjabat wakil CEO di kantor ini. Jadi, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan menghormatinya."

__ADS_1


"Selamat bergabung bersama kami Nona Elisa," ucap para karyawan serempak.


"Baiklah, kalian boleh kembali ke pekerjaan masing-masing." Roy membubarkan para karyawan.


"El, ikutlah dengan Roy, dia akan menunjukkan di mana ruangan kerjamu," titah Tuan Andreas pada Elisa


"Baik, Pi."


"Mari, Nona, saya akan mengantar ke ruangan Anda." Roy menunduk mempersilahkan Elisa untuk mengikutinya.


Ruangan Kerja Elisa.


"Hemmm ... ternyata seperti ini rasanya jadi bos, eh ... maksudnya wakil bos." Gadis itu terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri. Tadi setelah Roy mengantarkan Elisa sampai di ruangannya, Roy langsung pamit untuk pergi. Elisa kini meneliti setiap sudut ruangan itu, begitu luas dan mewah. Pantas saja banyak orang yang betah menjadi menjadi bos.


"Astaga ... kenapa aku bisa lupa tujuan awalku kerja di kantor Papi!" Elisa menepuk keningnya sendiri.


Ah, aku masih punya banyak waktu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€*


" Apa Tuan yakin, meminta Nona Elisa datang ke kantor Tuan Rangga demi berkas ini?" tanya Roy memastikan.


"Apa kau sedang meragukan kemampuan putriku?" balas Tuan Andreas tidak terima.


"Bukan begitu, maksud saya ... "


"Kau laksanakan saja perintahku, sisanya biar aku yang mengurusnya!" ucap Tuan Andreas, laluberdiri meninggalkan ruangannya.


"Kenapa Tuan Andreas menjadi aneh begini, bagaimana berkas sepenting ini di percayakan pada anak ingusan itu?" gumam Roy dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2