
Setelah hari itu mereka semakin dekat. Rengganis mulai memberikan sedikit perhatian pada Arya. Walaupun pada awal pernikahan Rengganis nampak terpaksa, tapi perlahan Rengganis bisa menerima secara perlahan.
"Kau mau kemana sepagi ini sudah bersiap?" tanya Arya pada Rengganis yang sudah nampak rapi.
"Kemana lagi kalau bukan ke kantor," jawab Rengganis sambil memoles wajah di depan cermin.
"Ini masih terlalu pagi, Sayang." Arya memeluk sang istri dari belakang.
"Ada meeting pagi ini, jadi aku tidak mau terlambat." Rengganis melepaskan pelukan Arya dengan lembut.
"Tunggulah sebentar, aku akan mengantarmu."
"Tidak. Aku berangkat bersama sopir saja, Mas tak perlu mengantarku." Rengganis hanya tidak ingin merepotkan Arya.
"Berangkat bersama, atau tidak sama sekali!" cap Arya sebelum masuk ke kamar mandi.
Rengganis menghela napas panjang. Mengalah mungkin lebih baik daripada harus berhenti bekerja dan tidak melakukan apapun. Ya, Arya pernah mengancam untuk tidak memberikannya ijin bekerja apabila Rengganis tidak mematuhinya. Agak berlebihan memang, namun kata Arya semua demi kebaikan Rengganis sendiri. Arya hanya tak ingin ia kelelahan.
Memang setelah menikah, Arya memberi syarat pada Rengganis jika masih ingin bekerja. Salah satunya adalah tidak boleh lembur. Rengganis harus ada di rumah sebelum Arya pulang kantor, dan mau tidak mau Rengganis harus mematuhinya, karena Mama Rani sendirilah yang meminta Arya memberikan syarat tersebut. Sungguh orang tua dan suami yang sangat kompak.
__ADS_1
Setelah 10 menit berlalu Arya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Tak dapat di pungkiri bahwa Arya memiliki wajah yang sangat tampan, dengan bentuk tubuh yang atletis karena rajin berolah raga. Dengan rambut yang masih basah Arya mendekati Rengganis yang sejak tadi terpaku di tempatnya. Senyumpun terlihat di sudut bibir Arya saat tahu bahwa Rengganis sedang diam-diam memperhatikannya .
"Apa yang kau pikirkan?" Arya menyentil kening Rengganis yang nampak gelagapan.
"Kenapa Mas menyentilku lagi, ini sakit tahu," ucap Rengganis mengerucutkan bibirnya.
"Jangan memandangku seperti itu, nanti kau tergoda." Arya mengambil pakaian dan melepaskan handuk yang melilit pinggangnya.
"Apa yang Mas lakukan, kenapa ganti pakaian disini!" Rengganis memekik karena melihat tubuh polos suaminya.
Arya hanya menggeleng dan melanjutkan kegiatannya bergan tanpa memperdulikan Rengganis yang sejak tadi mengomel di sampingnya.
*****
Sampai di kantor Rengganis segera turun dari mobil. Arya mengekor di belakang Rengganis sampai tiba di ruangannya. Tari–sang asisten bahkan sampai melongo melihat kedekatan mereka, karena yang ia tahu hubungan antara sang bos dengan suaminya belum sedekat ini. Tapi, pagi ini semua seperti menguap begitu saja setelah melihat kedekatan mereka berdua.
"Aku sudah sampai di kantor, sekarang Mas bisa pergi." Rengganis meletakkan tas di meja kerja lalu bersedekap menatap Arya.
"Kau senang sekali mengusir suami mu ini?" Arya pura-pura kesal.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa? Bukankah Mas juga harus bekerja?"
"Perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena aku tidak masuk kerja sehari saja." Arya menjawabnya dengan sombong.
"Ck! Kenapa ada manusia sesombong ini, sih!" Rengganis mengedikkan bahu tidak peduli.
"Baiklah, aku akan pergi setelah mendapatkan sesuatu." Arya tersenyum penuh arti. Tanpa banyak kata Arya membenamkan ciumannya pada bibir Rengganis yang membuat wanita itu terlonjak kaget. Saat sedang asik keduanya di kejutkan dengan suara pintu yang terbuka dari luar.
Brukkkk!
"Ma–maaf, Nona. Saya tidak bermaksud mengganggu," ucap Tari sambil memunguti berkas-berkas yang tadi terjatuh lalu berbalik menutup pintu kembali. Di luar sana Tari masih memegangi dadanya yang berdebar tidak karuan karena melihat adegan romantis kedua bosnya.
"Aihhhh ... mata polosku telah ternoda," umpat gadis itu sambil berlalu menuju ruangannya kembali.
*****
"Mas bisa tidak jangan melakukan hal aneh-aneh saat di kantor." Rengganis begitu kesal karena Arya tiba-tiba menciumnya tadi, dan sampai kepergok oleh Tari pula.
"Oke, aku tidak akan mengulanginya lagi, kecuali kalau di rumah," jawab Arya sambil berlalu meninggalkan ruangan Rengganis.
__ADS_1
Ih menyebalkan!
Mau di taruh di mana mukaku nanti kalau bertemu Tari.