Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Bertemu


__ADS_3

Hari ini Rengganis malas sekali. Sejak tadi pagi ia hanya berbaring di ranjang sambil mengotak-atik ponsel miliknya.Ingin pergi jalan-jalan, tapi Rengganis malas, lagipula Arya belum tentu juga mengijinkan. Entahlah, mendadak ia gemar sekali rebahan. Sejak kemarin hanya itu yang Rengganis lakukan. Berbaring sambil mengscroll media sosialnya, lalu sesekali membaca novel online kesukaannya.


Ah, sekarang ia malah ingin makan ayam krispi, saat tak sengaja melihat postingan di salah satu akun media sosial. Air liur Rengganis hampir menetes karena memikirkan itu. Sangking inginnya, ia sampai meminta Bi Lastri untuk membelikan bahan-bahan yang di butuhkan. Rengganis akan membuat makanan itu dan membawanya ke kantor Arya.


Ketika semua bahan sudah siap, dengan lincah Rengganis membuat ayam krispi itu di dalam dapur. Bahkan Bi Lastri di larang untuk membantunya.Rengganis akan membuat bekal makan siang untuk suaminya tercinta.


Sesaat setelah selesai membuat makan siang untuk sang suami, Rengganis bergegas merapikan diri. Dress lengan pendek dengan panjang sampai lutut menjadi pilihan Rengganis untuk di kenakan ke kantor Arya. Tidak lupa ia padukan dengan flatshoes berwarna putih, serta make up tipis di wajah, Rengganis terlihat sangat cantik dan elegan walau dalam keadaan hamil. Ia tidak ingin membuat Arya malu di depan semua karyawannya.


Rengganis harus tampil mempesona dan menunjukan identitas diri sebagai Nyonya besar di perusahaan itu.


"Kita ketemu ayah ya, Sayang." Rengganis bergumam pelan seraya mengelus perutnya yang membuncit.


Selesai merapikan diri, Rengganis lantas bergegas keluar dari dalam kamar dan pergi menuju kantor Arya, setelah sebelumnya meminta supir untuk mengantarnya ke sana. Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi Rengganis untuk tiba di lobby gedung perusahaan. Ia melangkah masuk kedalam yang langsung di sambut oleh satpam. Mengenalkan diri sebagai istri dari pemilik perusahaan, Rengganis di sambut dengan sangat hormat oleh semua karyawan.


Bunyi lift berhenti membuat Rengganis terhenyak, dan pintu terbuka lebar, membawa langkah gadis itu untuk keluar. "Selamat siang Nona," sapa sekretaris bernama Susi itu.


"Iya, siang, suami saya sedang sibuk?" tanya Rengganis pada wanita itu.


"Maaf, Nona, tapi Tuan Arya sudah keluar kantor dari dua jam yang lalu."


"Dua jam?" Rengganis melirik jam di pergelangan tangan, sekarang pukul sebelas siang. Artinya Arya sudah meninggalkan kantor dari jam sembilan pagi.


"Apa kamu tahu pergi kemana?"


"Maaf, Nona, tapi saya kurang tahu," jawab Susi dengan sopan.


"Lalu dimana Alex? Aku akan menanyakan padanya." Rengganis hendak bergegas menuju ruangan Alex, namun Susi kembali bersuara.


"Tuan Alex sedang rapat, Nona, karena menggantikan Tuan Arya yang tidak bisa hadir."


Rengganis nampak terdiam. Kalau sampai Arya meninggalkan rapat dan menyerahkannya pada Alex, berarti memang ada sesuatu yang lebih penting.


"Oh baiklah, nanti tolong sampaikan pada Tuan Arya kalau saya kesini," ucap Rengganis dan menitipkan bekal makan siang yang ia bawa tadi pada Susi.


Rengganis mendesah kecewa, mendapati Arya tidak ada di kantor. Padahal Rengganis sudah bersusah payah memasak bekal makan siang untuk suaminya itu. Memilih pulang ke rumah, Rengganis melangkah menuju ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai bawah. Rengganis bergegas menuju mobil dan meminta sang supir untuk pulang.


Dalam perjalanan Rengganis bertanya-tanya kemanakah perginya Arya, hingga dia tidak mengabarinya sama sekali. Bukankah kalau hal penting Rengganis juga berhak tahu? Melempar pandangannya keluar jendela, Rengganis menatap jalanan siang ini yang lumayan padat.


"Pak, tolong nanti berhenti di supermarket depan yah, ada yang ingin saya beli."


"Baik, Nona." Supri mengangguk patuh.


Tak berselang lama mobil berhenti di parkiran sebuah supermarket yabg cukup besar. Rengganis segera keluar dari dalam mobil dan meminta sang supir menunggunya di depan.

__ADS_1


Itu bukannya mobil Mas Arya? Rengganis mendekat dan mengamati sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Iya, aku tidak mungkin salah, ini memang mobil Mas Arya, ucap Rengganis dalam hati.


Memastikan benar atau tidaknya Rengganis lantas memanggil Pak Supri yang tengah berdiri tidak jauh darinya, "Pak!"


"Iya, Nona." Supri lari tergesa-gesa saat mendengar panggilan dari nona mudanya.


"Ini mobil Mas Arya kan, Pak?" Rengganis menunjuk mobil yang terparkir di depannya.


"Buโ€“bukan, Nona, mungkin hanya mirip." Supri sedikit ugup, keringat dingin sudah mengalir di sekujur tubuhnya. Supri ingat kalau tuannya selalu berpesan untuk tidak boleh mengantarkan kemana pun Rengganis pergi, tanpa seijinnya, dan kalau benar itu mobil sang majikan, pasti pria itu akan marah besar.


"Ah, tapi aku yakin ini mobil Mas Arya." Rengganis meneliti kembali mobil itu, dan ia yakin kalau memang itu milik suaminya.


"Maaf, Nona, sebaiknya Nona segera pulang, saya takut Tuan marah." Supri mengalihkan perhatian Rengganis yang masih mengamati mobil di depannya.


"Iya, sebentar Pak, saya akan masuk sebenta. Pak Supri tunggu di sini saja." Rengganis hampir melangkah masuk.


"Tunggu, Nona, apa tidak sebaiknya Nona tunggu di mobil saja, biar saya yang membeli apa yang Nona butuhkan."


"Tidak, Pak." Rengganis menggeleng. "Aku ingin membelinya sendiri." Lalu melangkah meninggalkan parkiran mobil menuju pintu supermarket.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Dua jam sebelumnya.


"Kak...."


"Ada apa, aku banyak kerjaan!"


"Aku ada di depan lobby."


"Apa!"


"Kakak ingin aku yang naik ke atas, atau Kak Arya yang turun menemuiku?"


"TIDAK!!!"


"Baiklah, Kakak ingin aku membuat keributan lagi seperti kemarin?"


Oh, astaga! Arya benar-benar bisa gila kalau sampai Elisa naik dan membuat keributan lagi seperti beberapa waktu lalu. Apalagi kini perut Elisa yang sudah kelihatan membuncit, apa yang akan di pikirkan para karyawan kantor, jika melihat Elisa sering bolak-balik datang kemari?


Padahal dua jam lagi ada rapat penting yang harus di pimpin oleh Arya sendiri. Ah, sial! Terpaksa Arya harus turun dan menemui wanita sialan itu, agar dia tidak sampai naik dan membuat keributan lagi. Sedangkan untuk rapat, Arya terpaksa menyerahkan semuanya pada Alex.

__ADS_1


Elisa tersenyum menang melihat Arya yang berjalan tergesa menghampiri. Elisa lantas menggandeng tangan Arya dan bergelayut manja layaknya sepasang suami istri.


"Cepat katakan, apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya ingin berbelanja di temani oleh calon suamiku," jawab Elisa dengan manja.


"Aku benar-benar tidak bisa, Lis! Kenapa kau selalu mengganggu pekerjaanku!" ungkap Arya geram.


"Aku cuma ingin berbelanja sebentar, Kak." Elisa berbisik lirih dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca, siap menumpahkan cairan bening. Beberapa karyawan yang tak sengaja melihat mereka saling pandang dan berbisik.


Oh, Ya Tuhan ... apalagi ini, Arya sungguh bingung harus bagaimana. Ia harus segera membawa Elisa pergi agar tidak menimbulkan gosip buruk.


Akhirnya Arya menuruti kemauan Elisa yang mengajaknya masuk ke sebuah supermarket. Tempat itu letaknya tidak terlalu jauh dari kantornya. Entah apa sebenarnya yang akan di beli Elisa, yang Arya lihat Elisa hanya bolak-balik tanpa membeli barang apapun di dalam sana. Tidak tahu sudah berapa lama mereka terus berkeliling, hingga Elisa pamit untuk pergi ke kamar kecil.


"Kak, aku ingin ke toilet sebentar." Elisa berbalik dan ingin melangkah menuju arah toilet.


"Tunggu!" Menarik tangan Elisa yang hendak pergi. "Apa sebenarnya yang ingin kau beli, sudah berapa lama kita di sini, tapi tak satu barang pun kau ambil." Arya menghempaskan tangan Elisa dengan kasar.


"Aku hanya ingin makan es krim," jawab Elisa gugup. "Tapi, aku akan ke toilet sebentar, Kakak tunggu di depan saja." Elisa bergegas meninggalkan Arya yang masih nampak kesal.


Arya menghela napas kasar, melihat Elisa yang perlahan menghilang di balik pintu. Arya memutuskan keluar dari supermarket itu dan menunggu Elisa di dalam mobil.


*****


"Tidak, Pak." Rengganis menggeleng. "Saya ingin membelinya sendiri." Lalu melangkah meninggalkan parkiran mobil menuju pintu supermarket. Rengganis bersikeras untuk masuk kedalam dan membeli barang yang dirinya inginkan.


Deg!


Pandangannya menajam saat melihat sosok pria yang ia kenal tengah berjalan menuju arahnya.


"Kan, aku tidak salah ngenalin mobil suami aku," gumam Rengganis pelan. Begitupun Arya, ia begitu terkejut melihat Rengganis yang kini berdiri di depannya.


"Mas, kamu ngapa ... ?"


Tiba-tiba seseorang menyusul di belakang suaminya.


"Kak, aku udah sele .... " Elisa mengikuti arah pandangan Arya yang dari tadi sama sekali tak menatapnya.


Dan ...


"Hai ... " Elisa melambaikan tangan, ia tersenyum dengan wajah tanpa dosa, dan langsung bergelayut manja di lengan Arya.


"Elisa ... " Rengganis terpaku melihat dua orang di depannya, lantas meneliti penampilan Elisa dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Kamu .... hamil .... ?"


__ADS_2