
Elisa terbangun setelah dirinya tadi kelelahan dan sempat tertidur di ruangan dokter. Saat itu hari sudah menjelang siang, terlihat dari jendela kamar yang di biarkan terbuka begitu saja. Elisa mendengar suara kedua orang tuanya yang sepertinya tengah mengobrol di depan pintu. Mereka seperti membicarakan dirinya, tapi entah soal apa yang mereka bicarakan.
Elisa ingin beranjak, tapi tubuhnya sedikit lemas. Elisa memaksa untuk dudukdengan kepala yang sedikit pusing. "Mi ...."
Seketika pintu terbuka menampilkan wajah Nyonya Sintia yang terlihat kecewa. "Kamu sudah bangun, El?" Nyonya Sintia mendekat dan duduk di samping Elisa.
"Papi di mana, Mi?" Elisa melihat ke arah pintu yang terbuka. Tapi sejak tadi sang papi belum juga masuk menemuinya.
"Papi sedang keluar sebentar, El. Ada yang harus Papi urus." Lantas Nyonya Sintia mengambil minuman yang berada di atas meja dan di sambut baik oleh Elisa. Elisa meneguk air dalam gelas hingga tidak tersisa sedikitpun.
"Apa tadi Papi yang membawa El ke kamar?" tanya Elisa ragu. Pasalnya tidak mungkin papinya sendiri yang menggendongnya ke kamar, kecuali ada yang membantu.
"Bukan."
"Lalu, siapa yang membawa El dari rumah sakit sampai ke kamar?" Elisa semakin bingung dengan jawaban Nyonya Sintia. Kalau bukan sang papi, lalu siapa?
"Roy."
"Roy?" ulang Elisa.
"Iya, Roy yang menggendongmu dari rumah sakit sampai ke kamar," jelas Nyonya Sintia. Elisa membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin mereka membiarkan Roy menggendongnya langsung. "Nggak mungkin! Mami pasti bohong, kan? Papi nggak mungkin biarin Roy menggendong El!" Elisa menggeleng tak percaya.
"Kenapa nggak mungkin? Papi sendiri yang menyuruh Roy untuk menggendongmu."
Apa, Papi?
"Nggak! Elisa nggak percaya!" Elisa kembali menggeleng. Ia yakin Roy tidak akan mau melakukannya.
"Apanya yang nggak mungkin? Sebentar lagi juga kalian akan menikah."
"Menikah ...?"
"Iya, kalian akan menikah!" jawab Nyonya Sintia penuh penekanan.
"Mi, tapi ... ?"
__ADS_1
"Ini udah jadi keputusan Papi, El."
"Tapi Elisa nggak mau, Mi! Elisa nggak cinta sama Kak Roy." rengek Elisa lagi.
"Cinta udah nggak penting, El. Sekarang kamu udah hamil, dan Roy akan segera menikahimu."
"Tapi, kenapa harus dengan Kak Roy?" tanya Elisa dengan bodohnya.
"Kamu pikir ada laki-laki lain yang mau menikahi perempuan yang udah hamil, hah!" geram Nyonya Sintia mendengar jawaban putrinya.
"Tapi, bukan dengan Kak Roy, Mi. El, nggak mau nikah sama pria dewasa. Aalagi El nggak cinta sama dia," ucap Elisa kembali, kali ini ia memasang wajah memelas.
Nyonya Sintia menghela napas berat. Ia memijit pelipisnya yang sedikit pening. "Karena Roy ayah dari bayi yang kamu kandung. Jadi dia harus segera menikahimu, El!" jawab wanita itu dengan nada yang sedikit meninggi.
"Tapi El tetep nggak mau, Mi! El akan bilang sama Papi nanti setelah kembali." Elisa tetap bersikeras pada pendiriannya sendiri.
"Terserah kamu saja, El Mami tidak mau ikut campur lagi kalau sampai Papi memarahimu!" Nyonya Sintia beranjak dari duduk, dan segera keluar dari kamar Elisa.
*****
Rengganis sangat merindukan rumahnya. Ia berjalan perlahan, mengimbangi tubuhnya yang sudah berisi karena kehamilannya yang kini menginjak delapan bulan.
Ia tatap satu persatu tanaman hias yang sempat ia tanam sendiri waktu itu. Bahkan semua terlihat tumbuh subur dan terawat. Mungkin Bik Lastri yang merawat saat dirinya tidak ada.
Rengganis masuk ke dalam rumah, menatap sekeliling ruangan itu yang sempat ia tinggalkan hampir dua minggu. Semua masih sama, tidak ada satu pun yang berubah.
"Nona apa kabar?" tanya Bik Lastri yang muncul dari arah dapur seraya membawa minuman dan camilan.
Tadi Arya memang menghubungi Bik Lastri saat di jalan. Arya mengatakan kalau akan segera tiba bersama Rengganis sebentar lagi. Tentu saja wanita paruh baya itu sangat gembira mendengar kabar kepulangan majikannya. Itu karena Bik Lastri sudah menganggap Rengganis seperti anaknya sendiri.
"Aku baik. Bik Lastri apa kabar?" Rengganis memeluk tubuh wanita itu dengan haru, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca. Rengganis tidak menyangka akan kembali ke rumah ini lagi setelah semua masalah yang terjadi menimpa rumah tangganya.
"Bibik juga baik, Non. Apa Non Rengganis memerlukan sesuatu?" tanya Bi Lastri setelah mereka duduk dan Rengganis menikmati minuman yang tadi ia bawa.
"Tidak, Bik, saya akan langsung ke kamar dan istirahat saja," jawab Rengganis pelan.
__ADS_1
"Baik, Non, mari Bibik antar." Bik Lastri segera mengantar Rengganis untuk naik ke lantai dua menuju kamar. Setelah sampai, wanita itu segera pamit dan menuju ke lantai bawah untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Rengganis masuk ke kamar dengan hati yang berdebar. Bahkan ia sempat berdiam beberapa saat sebelum ia meraih handle pintu dan membukanya. Rengganis melangkah masuk bersamaan dengan Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Terlihat Arya hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang. Wangi tubuh pria itu menyebar mengusik indera penciuman Rengganis dan membuat pikiran wanita itu langsung berkelana.
Ah, kenapa perasaan itu tiba-tiba datang? Apa mungkin karena Arya jarang sekali menyentuhnya, hingga otaknya menjadi berfantasi liar saat melihat tubuh telanjang Arya. Seketika membuat wajah wanita itu merona.
Rengganis masih terdiam saat tiba-tiba Arya datang mendekat dan memeluknya. Ia semakin bisa merasakan wangi tubuh Arya yang membuatnya semakin hilang akal.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arya seraya mengecup puncak kepala Rengganis. Ia menatap wajah Rengganis yang terlihat gugup.
"Aku tadi ngobrol sebentar sama Bik Lastri." Rengganis memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Arya melihat wajahnya yang sedikit memerah.
"Kenapa wajahmu memerah?" Arya tersenyum simpul sembari mengusap pelan pipi sang istri. Arya tahu kalau Rengganis tengah malu karena ketahuan memandanginya.
"Aku ... "
"Kamu pakai baju, Mas." Rengganis mengalihkan topik pembicaraan agar Arya tidak kembali menggodanya.
"Tidak perlu!"
"Maksudnya?" tanya Rengganis tak mengerti.
"Aku tidak perlu pakai baju." Mendadak Rengganis terkejut, apalagi dengan kedekatan mereka dan keadaan tubuh Arya yang hanya tertutup selembar handuk.
"Kamu harus membayar tuduhan kamu selama ini."
"Apa?" tanya Rengganis gugup. Bukan ia tak tahu apa maksud Arya, hanya saja Rengganis belum sempat untuk meminta maaf.
"Mas Arya mau apa?"
Arya tidak perlu menjelaskan untuk Rengganis mengerti apa maunya, karena di detik selanjutnya Arya langsung menyerang Rengganis tanpa aba-aba.
LIKE
KOMEN
__ADS_1
JANGAN LUPA!