
Sinar mentari menerobos masuk melalui celah jendela.
Rengganis terbangun karena merasakan panggilan alam yang harus segera ia tuntaskan.
Setelah mandi dan semua siap Rengganis keluar dari kamar melangkah menuju dapur bermaksud mengambil minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering sejak tadi.
Langkah nya terhenti ketika melewati meja makan dan beberapa masakan yang telah siap di atas meja.
"Pagi Non. Saya Bi Inah asisten rumah tangganya Tuan Arya yang setiap pagi akan datang kemari," ucap seorang wanita paruh baya memperkenalkan diri.
"Eh, iya Bi. Saya Rengganis. Saya em..." Rengganis bingung ingin memperkenalkan diri sebagai siapanya Arya.
"Tuan Arya sudah memberi tahu saya, Non. Silahkan sarapannya sudah siap. jalau begitu saya permisi ke belakang," ucap Bi Inah undur diri.
eh apa tadi sudah memberi tahu apa maksudnya.
Rengganis segera mendudukkan tubuhnya di meja makan dan memulai sarapan karena diri nya tak ingin terlambat berangkat ke kantor.
__ADS_1
πππ
Sehari sebelum pernikahan, Rengganis ingin berkunjung ke rumah keluarga Ardian sekaligus ingin menemui ibunya.
Rengganis sudah sangat rindu dengan masakan sang ibu. Mungkin setelah menikah Rengganis tidak bisa setiap hari mengunjungi ibunya karena ia juga harus mengurus keperluan Arya.
"Kau datang Nak. Di mana calon suami kamu?" Mama Rani dan Ibu Siti menyambut dengan gembira kedatangan Rengganis.
"Aku datang sendiri. Mas Arya masih ada urusan di kantor. jadi aku kesini di antar supir tadi."
"Oh ya sudah, ayo masuk. Sepertinya Bu Siti sangat merindukanmu. Mama akan kembali ke kamar," ucap Mama Rani sambil berlalu pergi.
"Aku baik-baik saja, Bu.Tak perlu cemas," ucap Rengganis tersenyum lebar.
Di tengah-tengah obrolan dua wanita itu tiba-tiba Mama Rani datang lagi dan memberikan suatu kabar.
"Rengganis, besok keponakan mama akan datang dari luar negri. Kebetulan dia sedang ambil cuti kuliah, dan rencananya akan tinggal di sini sampai pesta pesta pernikahan kamu nanti."
__ADS_1
Mama Rani memang mempunyai satu keponakan bernama Elisa yang kini sedang kuliah di luar negeri. Dia anak dari saudara perempuan suaminya yang bernama Sintia.
Ketika Nyonya Rani mengabari bahwa dia mengangkat seorang anak Elisa nampak tidak terima, karena selama ini Elisa menginginkan tinggal bersama keluarga itu. Namun Tuan Ardian menolak dengan alasan Elisa harus meneruskan pendidikannya dulu ke luar negeri.
πππ
Pagi itu seorang wanita cantik dan seksi turun dari pesawat yang baru tiba di bandara. Dengan menyeret koper Elisa berjalan keluar dari bandara sambil sesekali memandangi layar gawai. Sebuah foto laki-laki tampan yang tengah tersenyum.
Beberapa tahun sebelum keberangkatannya ke luar negeri Elisa berniat mengejar cinta laki-laki itu, tapi karena sikapnya yang terlalu dingin dan cuek membuat Elisa merasa lelah sendiri.
Kini dia mendengar kabar lelaki yang di cintainya juga telah kembali ke negara ini, makanya Elisa memutuskan untuk mengambil cuti kuliah demi bisa menyusul lelaki pujaan hatinya.
Elisa telah sampai di depan gerbang rumah mewah keluarga Ardian. Dengan percaya diri Elisa melangkah masuk memasuki pekarangan rumah itu. Rasanya Elisa sudah tidak sabar ingin istirahat dan segera membersihkan tubuhnya yang sudah lengket sedari tadi.
El berjalan menaiki anak tangga tangga menuju kamar yang biasanya ia tempati sewaktu menginap di rumah ini. Namun alangkah terkejutnya saat membuka pintu di dapati nya barang-barang peninggalannya sudah tidak ada di sana. Berganti dengan barang-barang yang sepertinya milik orang lain. Di atas meja terdapat sebuah foto wanita dengan senyum manis menggantikan fotonya yang entah sekarang ada di mana.
Cih, jadi dia anak angkat Tante Rani. Terlihat kampungan..
__ADS_1
El mendengus kesal dan berbalik menutup kamar itu. Kembali berjalan menuju ruang makan. Ia harus memikirkan cara supaya posisinya di rumah ini tetap aman.