Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Keluar Kota


__ADS_3

"Sayang."


Rengganis terburu-buru keluar saat mendengar suara Arya memanggil. Ini belum jam pulang kantor, tapi suaminya itu tumben sekali sudah tiba di rumah.


"Mas, kamu sudah pulang?" Rengganis menyambut Arya dengan pelukan. Ia bahagia melihat Arya lebih awal berada di rumah, setelah tadi pagi di buat kesal karena Arya tidak mengijinkannya ikut ke kantor.


"Sayang, maafkan aku ya masalah tadi pagi." Arya membalas pelukan Rengganis dengan perasaan rindu.


"Tumben Mas Arya sudah pulang?" Rengganis bertanya tentang kepulangan Arya yang lebih awal.


"Aku hanya merindukanmu." Arya mengecup puncak kepala istrinya.


"Sayang, ada yang ingin aku sampaikan." Arya membawa Rengganis untuk masuk ke dalam.


"Apa?"

__ADS_1


"Besok aku akan berangkat ke luar kota, ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan di sana." Arya menatap wajah Rengganis yang seketika berubah.


"Keluar kota? Berapa hari, dan dengan siapa?" Rengganis sedikit kaget.


"Mungkin dua hari. Aku akan pergi bersama Alex dari kantor," jawab Arya.


"Apa hanya berdua?" Rengganis menatap Arya curiga.


"Tidak. Mungkin Elisa dan asistennya juga akan ada di sana, karena ini proyek baru antara perusahaan Papa dan Om Andreas."


"Karena Om Andreas sudah menyerahkan tanggung jawab perusahaannya pada Elisa," jawab Arya dengan sejujurnya.


"Kalau begitu aku akan ikut."


"Sayang ... "

__ADS_1


"Mas ... !" Rengganis menyambar cepat, ia hanya khawatir jika Elisa punya niat licik pada Arya. Apalagi kesempatan itu sekarang benar-benar terlihat di depan mata. "Aku hanya tidak mau Elisa mendekatimu lagi," ucap Rengganis lirih, matanya mulai berkaca-kaca, membayangkan apa saja yang akan terjadi pada suaminya nanti.


"Aku janji, setelah urusan ini selesai, aku akan langsung pulang." Arya mencoba menenangkan Rengganis. Bukan Arya merasa keberatan Rengganis ikut, tapi kondisi sang istri yang tengah hamil muda membuat Arya khawatir, dan ia tidak mau mengambil keputusan yang beresiko.


Wajah Rengganis merengut. Ia ingin sekali ikut, tapi memang ada benarnya juga. Di usia kehamilannya yang masih sangat muda, Rengganis juga khawatir akan membahayakan kesehatan janin dalam perutnya.


"Tapi, aku ingin sekali ikut." Rengganis merengek seperti anak kecil. Terlihat manja, padahal ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hal itu membuat Arya merasa gemas saat melihatnya. Arya menghujami wajah Rengganis dengan begitu banyak kecupan," Aku keluar kota tidak akan lama, Sayang. Kau baik-baik di rumah. Jangan lupa minum vitamin yang di berikan oleh dokter kemarin. Kalau kau ikut, yang ada aku semakin mencemaskanmu. Jagalah calon anak kita. Aku juga sudah meminta Mama untuk menemanimu selama aku di luar kota."


"Ya sudah, aku akan menunggumu di rumah saja. Tapi kalau urusan kamu sudah selesai, Mas pasti akan pulang, kan?"


Arya tersenyum melihat wajah Rengganis yang masih saja cemberut. "Kenapa wajahmu menggemaskan seperti ini." Arya mencium kedua belah pipi istrinya lagi, sembari menggigitnya dengan gemas.


"Setelah semua urusanku selesai, aku pasti akan segera pulang. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkanmu sendirian."


Rengganis merasa lega karena Arya berjanji akan segera pulang setelah urusannya selesai, dia juga berjanji tidak akan dekat-dekat dengan Elisa selama ada di luar kota.

__ADS_1


"Baiklah."


__ADS_2