Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Rumah Sakit


__ADS_3

Arya menyetir seperti orang kesetanan saat dirinya mendapat kabar dari sang ibu kalau Rengganis tadi pingsan dan sempat mengalami pendarahan. Kedua orang tua itu langsung melarikan putrinya ke rumah sakit terdekat.


Tentu saja Arya panik setengah mati. Ia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dan beberapa kali menerobos lampu lalu lintas. Arya tidak bisa lagi berpikir jernih, yang ada di pikirannya kini adalah bagaimana kondisi Rengganis dan calon buah hatinya yang masih dalam kandungan.


Memarkir mobil secara asal-asalan, Arya lantas turun memasuki area rumah sakit. Ia berlari melewati lorong-lorong untuk tiba di ruang IGD seperti yang mama kabarkan.


Pendarahan? Arya bertambah panik saat mengingat perkataan mamanya tentang hal itu. Apa yang ia lakukan? Sungguh Arya merasa menjadi suami yang tidak berguna. Sang mama tidak menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Beliau hanya mengatakan tadi Rengganis datang ke rumah dan tiba-tiba pingsan.


Oh, astaga! Pantas saja saat Arya mencarinya ke rumah tidak menemukan istrinya.Ternyata Rengganis langsung pulang ke rumah Mama Rani setelah pertengkarannya di Supermarket tadi.


Tiba di depan ruang IGD, Arya bisa melihat kedua mama mertuanya dengan wajah cemas. Terlihat juga Mama Anggi yang tadi sempat Arya hubungi sebelum sampai di rumah sakit. Arya mendekat memanggil Bu Siti yang seketika tersentak dan berdiri. Nyonya Rani hanya bisa menatapnya sendu, sementara Mama Anggi hanya menatap dengan cemas.


"Bu, gimana keadaan Rengganis?


"Dokter masih memeriksanya, Nak," jawab Bu Siti.


"Maaf," ucap Arya lirih. Arya menggenggam tangan wanita paruh baya yang menjadi mertuanya itu. "Maaf, saya gagal menjaga putri Ibu."


Wanita itu menggeleng, "Tidak, Nak. Ibu percaya sama kamu." Bu Siti menahan sesak di dadanya, "Ibu yakin bukan kamu yang menghamili Elisa."


Arya tersenyum menatap wanita paruh baya itu. Setidaknya ada orang lain yang mempercayainya kini, "Makasih Bu."


Arya melihat dengan jelas dari balik kaca. Rengganis yang kini tengah berbaring di atas ranjang dengan wajah yang pucat, dan selang infus yang menempel di tangannya. Seorang dokter yang tengah memeriksa dan beberapa orang perawat. Arya menatap iba Rengganis. Sungguh Arya sangat menyesal sekali.


Bough! Arya terhuyung dengan tubuh yang hampir jatuh ke lantai saat dengan tiba-tiba sebuah pukulan mengenai wajahnya.


"Brengsek!" makinya seseorang yang baru datang dengan sangat keras.


Bough, bough, bough!!!

__ADS_1


Hasan datang langsung memukuli Arya dengan membabi buta. Ia sudah tidak bisa lagi menahan diri kala mendengar Rengganis masuk rumah sakit. Hasan langsung bergegas meninggalkan pekerjaannya tanpa peduli dengan tatapan bingung dari para karyawan kantor.


Hasan sangat marah saat mendengar alasan Rengganis pingsan dan sampai harus di rawat di rumah sakit. Ia bertambah murka saat mengetahui permasalahan rumah tangga Rengganisa saat tak sengaja mendengar percakapan mereka.


Haruskah ia kembali memperjuangkan perasaannya? Entahlah, yang pasti kini Hasan hanya ingin menghajar laki-laki brengsek itu. Dan, benar saja sesaat setelah tiba si rumah sakit Hasan langsung menghajar Arya tanpa mengenal ampun. Hingga Nyonya Anggi berteriak histeris, menyaksikan putranya yang sudah babak belur.


Bukan Arya tak bisa membalas, tapi ia merasa pantas mendapatkan semua ini. Rasa sakit yang ia rasakan belumlah sebanding dengan sakit hati Rengganis akibat dari perbuatannya.


"Seharusnya aku tak menyerah begitu saja!" Mencengkeram kerah baju Arya dan menghempaskan dengan kasar.


"Apa maksudmu?" balas Arya mengusap sudut bibirnya yang terluka.


"Lepaskan Rengganis!" teriak Hasan murka.


"Tidak akan!"


"Ck, kau terlalu pengecut."


"Dengan menyakitinya?"


"Aku akan memperbaikinya."


"Kau terlalu percaya diri!"


"CUKUP!!!" teriak Nyonya Rani dengan keras. "Jika kalian masih ingin bertengkar, sebaiknya kalian berdua keluar!"


Keduanya saling terdiam dengan perasaanya masing-masing, hingga seorang dokter terlihat keluar dari dalam ruang perawatan.


"Keluarga pasien?"

__ADS_1


Serentak semua menengok ke arah sumber suara. Mereka bergegas menghampiri seorang dokter wanita yang berdiri di depan ruangan Rengganis.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Bu Siti tidak sabar.


Dokter itu tersenyum menatap wanita paruh baya di depannya, "Nona Rengganis sudah lebih baik, dan kandungannya berhasil di selamatkan."


Syukurlah...


Sekarang semua bisa bernapas lega mengetahui keadaan Rengganis yang sudah lebih baik. Namun dokter melarang siapa pun untuk masuk ke ruangan itu agar waktu istirahat Rengganis tidak terganggu.


*******


"Bagaimana Lex, apa ada perkembangan?" tanya Arya pada seseorang di seberang sana.


"Begini Tuan, orang yang meminta rekaman CCTV pertama kali ternyata bukan orang suruhan Tuan Andreas."


"Lalu?"


"Kemungkinan dia hanya orang suruhan pelaku. Tapi saya tidak bisa menemukan alamatnya karena orang itu sudah menghilang entah kemana."


"Sial! Lalu apa rencanamu selanjutnya?"


"Tenang, Tuan, saat kejadian itu ternyata ada saksi mata yang melihat pria yang membawa Nona Elisa ke kamarnya."


Arya bergegas bangkit dan membenarkan posisi duduknya, "Lalu, apa lagi yang dia tahu?"


"Dia yakin bukan Tuan yang bersama Nona Elisa malam itu. Saya baru saja menunjukkan foto Tuan, tapi dia benar-benar yakin itu orang lain."


"Bagus. Kamu terus awasi saksi mata itu. Kalau perlu cari informasi sebanyak-banyaknya tentang kejadian malam itu."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Arya mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat dipermainkan. Ia bersumpah akan menghancurkan hidup laki-laki brengsek itu jika suatu saat ia menemukannya.


__ADS_2