Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Gadis Menyebalkan


__ADS_3

"Maaf, Nona, hari ini Tuan Andreas meminta Anda mengantarkan berkas ini ke perusahaan Tuan Wijaya." Roy menyodorkan berkas yang di bawanya tadi.


"Kenapa harus aku, bukan kau saja?" ucap Elisa santai.Gadis itu nampak asik dengan gawai di tangannya.


"Tapi, ini perintah langsung dari Tuan Andreas, Nona, saya hanya menjalankan perintah!" Roy menahan geram di hati melihat tingkah Elisa yang nampak menyepelekan.


Kalau saja dia bukan anak bos pasti aku sudah menyeretnya keluar dari sini.


"Baiklah, tapi, Om bisa mengantar saya, kan?" Elisa melirik pria di depan sana yang memasang wajah tidak suka.


"Om???"


"Iya. Om Roy bisa mengantar saya ke perusahaan Wijaya, kan? Tidak baik seorang wakil CEO menyetir sendiri." Elisa tersenyum menyeringai, berhasil membuat orang di depannya itu tidak berkutik.


"Mari, Nona, saya akan mengantarkan Anda sekarang," ucap Roy sopan. Meski sejak tadi berusaha menyembunyikan kekesalan. Roy hanya tidak ingin terprovokasi oleh omongan Elisa. Demi apapun Roy sangat geram dengan sikap gadis itu yang sangat manja dan terkesan menyebalkan.


(awas Roy, ntar bucin lho sama El, wkwkwkwk)

__ADS_1


Elisa pergi ke perusahaan Wijaya dengan mobil yang di kendarai oleh Roy. Dalam perjalanan mereka hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Apalagi bagi Roy, ia memang pria dingin yang jarang sekali berbicara, kecuali masalah pekerjaan.


Mobil Elisa telah sampai di area perkantoran milik keluarga Wijaya. Elisa langsung turun di ikuti oleh Roy di belakang. Mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 12 di mana ruangan CEO berada.


"Maaf, Nona, ada yang bisa saya bantu?" Sekretaris Sari menanyakan keperluan kedua tamunya itu.


"Tolong bilang sama Tuan Wijaya, saya Elisa Andreas ingin bertemu." Elisa menjelaskan kedatangannya.


"Tapi, maaf Nona, sekarang yang menjabat CEO di sini Tuan Rangga, putra Tuan Wijaya sendiri."


"Baiklah, siapapun itu, katakan saya ingin bertemu," ucap gadis itu kesal.


"Permisi, Tuan, di depan ada utusan Tuan Andreas ingin bertemu dengan Anda," ucap Sari sopan.


Rangga mengerutkan kening, ada apa Tuan Andreas mengutus orangnya untuk datang kesini, dan kenapa juga tidak ada pemberitahuan lebih dulu.


"Suruh masuk saja, Sar. Jangan lupa suruh OB bawa minuman ke ruanganku untuk tamu kita."

__ADS_1


"Baik Tuan, saya permisi."


Di luar ruangan Elisa menunggu dengan sangat gusar. Kenapa harus meminta ijin dulu untuk bertemu. Padahal ia termasuk orang penting. Sungguh menyebalkan!


"Silahkan Nona, Tuan Rangga menunggu Anda di ruangannya." Sari mempersilahkan Elisa dan Roy untuk masuk.


Pintu ruangan di buka, Elisa dan Roy masuk dengan membawa berkas yang akan di serahkan pada sang pemilik ruangan.


"Permisi, Tuan Rangga, saya di minta Papi Andreas mengantarkan berkas ini pada Anda." Elisa menyerahkan sesuatu di tangannya.


Papi Andreas??? Apa gadis ini putri Tuan Andreas, tapi kenapa sikapnya jauh berbeda sekali dengan ayahnya.


Rangga meneliti penampilan gadis di depannya. Melihat Asisten Roy yang berada di sampingnya sudah cukup membuat Rangga percaya, bahwa gadis ini memang putri Tuan Andreas.


"Terima kasih Nona, seharusnya Anda tak perlu repot-repot datang kemari, saya bisa mengirimkan sekretaris saya untuk mengambil berkas ini." Rangga mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tak lama seorang OB datang membawa minuman untuk mereka.


"Tidak masalah, Tuan Rangga, saya senang datang kemari, karena ini tugas pertama saya sebagai wakil CEO," ucap Elisa bangga.

__ADS_1


"Bangga sekali, cuma tugas sepele seperti ini," Roy membatin.


"Oh, baiklah. Terima kasih sekali lagi." Rangga hanya mengangguk, sesekali melirik Asisten Roy yang nampak memaksakan senyum.


__ADS_2