
MAAF SEMUA BARU BISA UP,AKU HARUS MENATA HATI AKU DULU YANG KEMARIN SEMPET KEPOTEK-POTEK.
MOGA KALIAN TETEP DUKUNG AKU YA, BIAR AKU BISA LANJUT NULIS LAGI...
"Ada apa?"
"Tidak!" Arya berbalik kesamping membelakangi sang istri, lalu mengambil selimut dan memakainya.
"Mas ... " Memegang pundak Arya, mencoba membalik tubuh kekar sang suami, tapi sedikitpun tak bergeming.
"Kamu masih marah?" tanya Rengganis lagi.
"Tidak..!" jawab Arya singkat.
Rengganis menggeser tubuhnya mendekati Arya, memeluknya dari belakang. Jari-jari lentik Rengganis bermain-main di atas dada bidang Arya.
Arya terus mengumpat dalam hati. Ia ingin menghindar agar bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya lagi, namun sepertinya Rengganis malah sengaja menggoda Arya dan membuatnya semakin tersiksa.
"Pakai bajumu!" Arya menahan tangan Rengganis yang masih asik bergerilya.
"Iya nanti, aku masih ingin seperti ini." Rengganis semakin mengeratkan pelukannya, kali ini jemari wanita itu berpindah menyusuri punggung polos Arya.
Arya lantas berbalik dan mencekal tangan Rengganis, di tatapnya wajah sang istri yang hanya berjarak berapa senti. Hempusan napas keduanya saling menerpa wajah masing-masing, membuat Rengganis menjadi gugup.
"Kenapa?" Arya tersenyum melihat wajah malu sang istri.
"Tidak!" Rengganis bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan ingin mengulang permainan kembali.
"Kenapa diam?" tanya Arya kemudian.
"Aku ... " Rengganis menggigit bibir pelan, ia tertunduk meremas buku jarinya yang terlihat memutih.
"Apa?" Arya masih terus saja menggoda Rengganis, membuat wanita itu semakin malu.
__ADS_1
"Mas, aku ingin ...?"
"Apa...?"
Ah, rasanya Rengganis ingin tenggelam saja ke dasar bumi. Kenapa ada manusia tidak peka seperti suaminya ini. Harusnya Arya tahu kalau wanita itu enggan mengatakan karena malu.
"Aku ingin minta maaf." Akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Rengganis. Ia menatap wajah di depannya yang terlihat sedikit kecewa. Rengganis tahu sedari tadi Arya sudah mengerti keinginannya, namun Arya sengaja terus menggodanya, hingga kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir Rengganis. "Maaf karena sempat meragukan dirimu," ucap Rengganis lagi.
Arya menangkup kedua sisi wajah Rengganis dengan dua tangannya, lantas mengecup bibir istrinya pelan, "Jangan katakan apapun lagi. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuatmu salah paham."
Rengganis mengangguk, mengusap wajah Arya dengan tangannya yang lembut, "Aku percaya padamu." Ia tersenyum menatap wajah suaminya yang tepat berada di depan wajah.
"Aku mencintaimu Rengganis Ayudia," ucap Arya lirih, tapi penuh makna. "Apapun yang terjadi, jangan pernah lari dariku, dan biarkan aku membuktikannya." Arya menatap Rengganis dengan sorot mata penuh damba.
Rengganis hanya mengangguk sembari tersenyum. Wanita itu lantas menarik tengkuk Arya dan memberikan kecupan lembut.
Arya yang masih belum siap menerima serangan Rengganis hanya diam terpaku. Ia membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati. Arya masih tidak menyangka Rengganis akan memulainya terlebih dulu.
"Aku juga mencintaimu, suamiku ... " Rengganis membalas ucapan Arya dengan sorot mata yang menyiratkan keseriusan, tidak ada lagi keraguan di hati di sekarang. Ia percaya sepenuhnya pada pria yang kini tengah ia peluk.
Arya menyibak selimut dan beranjak berdiri,lantas mendekat ke arah Rengganis dan menggendong wanita itu yang membuatnya memekik pelan, "Mas, apa yang kamu lakukan!" Rengganis terkejut merasakan tubuhnya yang melayang.
"Jangan banyak bergerak, atau kita akan jatuh."
"Aku bisa jalan sendiri."
Arya tidak menghiraukan teriakan istrinya yang memintanya turun. Ia terus saja melangkah ke arah kamar mandi. Arya mendudukkan Rengganis ke dalam bathtub, dan mengisinya dengan air hangat. Arya segera membasuh tubuh istrinya lembut dan menggosoknya pelan.
Setelah selesai Arya membawa Rengganis keluar dari kamar mandi, dengan piyama mandi yang sama-sama membalut tubuh mereka. Sungguh Arya memperlakukan Rengganis dengan amat istimewa hingga membuat wanita itu tersipu malu.
"Kenapa?"
"Tidak!"
__ADS_1
Arya menyadari tatapan Rengganis selalu tertuju ke arahnya dan tersenyum. Entah apa maksud dari senyum itu.
"Sudah puas memandanginya?"
Rengganis memalingkan wajahnya, merasa malu karena tertangkap basah tengah memperhatikan Arya diam-diam.
"Ayo kita turun." Arya mengulurkan tangannya, mengajak sang istri untuk segera turun untuk makan malam yang sempat tertunda. Karena sebenarnya waktu makan malam telah lewat, akibat kegiatan mereka tadi.
"Turun?" ulangnya tak mengerti.
"Ayo!"
Rengganis masih mematung, duduk di depan meja riasyang membuat Arya kembali mendekat.
"Kita akan makan malam, memang apa yang kamu pikirkan?" Arya menyunggingkan sedikit bibirnya.
"Oh ... "Rengganis bangkit dan menerima uluran tangan suaminya.
"Kalau kamu ingin mengulangnya, nanti setelah kita makan," ucap Arya kemudian.
Rengganis membulatkan matanya, melirik ke arah Arya yang tengah tersenyum penuh arti.
"Bukan itu maksud aku." Rengganis kembali merona mendengar ucapan Arya. Ia segera menarik tangan Arya untuk segera keluar dari kamar dan turun ke bawah.
"Aku bercanda." Arya menghentikan langkah Rengganis yang pura-pura tidak mendengarnya. "Aku hanya bercanda, tapi kalau kamu menginginkan, aku tidak keberatan mengabulkannya," ucapnya lagi, seraya melangkah meninggalkan Rengganis yang masih terdiam dengan wajah merah merona.
MAAF YAH AKU NGGAK PINTER BIKIN ADEGAN YANG UWU-UWU...
MOGA INI CUKUP MENGISI KEBORINGAN KALIAN SEMUA...
LIKE
KOMEN
__ADS_1
DUKUNGAN
JANGAN LUPA!