
Rangga merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah ia membersihkan tubuh dan mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan. Menghela napas lega dan meraih ponsel yang sudah kembali nyala di atas nakas, Rangga memeriksa beberapa pesan yang masuk ke dalam ponsel, tak lupa mentransfer uang yang tadi ia janjikan pada rentenir demi menyelamatkan gadis tadi.
Ah, iya, tadi siapa nama gadis itu, bahkan Rangga tidak mengingatnya sama sekali, karena ia terlalu buru-buru untuk sampai di rumah. Meletakkan ponsel kembali, Rangga melirik foto berbingkai yang memperlihatkan seorang gadis cantik tengah tersenyum. Memandang sekilas, lalu ia bangkit dan meraih foto itu. Dipandanginya sejenak, lantas memasukkan ke dalam laci.
Mungkin aku memang harus belajar melupakan Rengganis.
Mengedarkan pandangan, Rangga menatap satu persatu foto yang menempel di dinding kamar. Rangga mengambil semua foto hingga tidak tersisa satu pun, memasukkannya ke dalam boks dan menyimpan di sudut kamar. Rangga merebahkan kembali tubuhnya ke atas ranjang, dan terlelap saat waktu menunjukkan hampir pagi.
*****
Pagi menyapa dengan mentari yang masih tampak malu-malu di ufuk timur. Rangga menggeliat, melirik jam yang ada di atas meja. Bergumam pelan, lalu kembali menarik selimut kembali melanjutkan tidur. Rangga tidak peduli, hari ini Rangga ingin sejenak melupakan tanggung jawabnya di kantor dan melanjutkan mimpi indahnya.
Pukul 09.00 Rangga turun dengan pakaian yang sudah rapi. Ia melangkah menuju meja makan melewati dua orang tuanya yang tengah asik menonton tv. Tanpa mempedulikan mereka, Rangga terus melangkah menuju meja makan.
"Dari mana saja kamu semalam?" Suara bariton Papa Wijaya terdengar dari arah ruang tengah. Rangga berhenti dan berbalik. "Ada urusan sedikit, Pa." Ia ingin melanjutkan langkahnya.
"Dengan menghabiskan uang sebanyak itu?"
"Pa ... " Nyonya Yuni langsung menahan pundak suaminya yang hendak bangkit. Ia tidak ingin melihat suami dan anaknya kembali bersitegang. "Kamu tidak sedang mengencani wanita malam kan?"
"Aku tidak seburuk itu, Pa." Meraih segelas susu, lalu meneguknya hingga tandas. Rangga tidak habis pikir, kenapa papanya bisa punya pikiran sejauh itu.
"Lalu, untuk apa kamu menghabiskan uang sampai 200 juta kalau tidak untuk membeli wanita?" Kali ini Tuan Wijaya sudah dengan suara normal. Ia tidak ingin kembali emosi dan berakibat buruk untuk kesehatannya.
"Untuk membantu teman yang sedang membutuhkan."
"Teman?" Tuan Wijaya berpikir sejenak, mengira-ngira siapa teman yang di maksud oleh putranya. Karena yang ia tahu Rangga tidak memiliki banyak teman.
"Siapa?"
"Papa tidak perlu tahu."
__ADS_1
"Apa dia kekasihmu?" Tuan Wijaya terus saja bertanya tanpa mempedulikan wajah Rangga yang terlihat mulai jengah.
"Bukan."
"Lalu ...?"
Rangga meletakkan selembar roti yang baru saja ia gigit. Napsu makannya tiba-tiba menghilang. "Berhenti ikut campur urusan pribadi aku, Pa." Rangga beranjak berdiri, meraih tisu di samping, lalu mengusap kasar sisa makanan di sudut bibir.
"Rangga, jaga bicaramu!" Nyonya Yuni menarik cepat lengan suaminya yang ingin beranjak menghampiri putranya. "Ayo, Pa, sebaiknya kita istirahat."
"Jangan buat malu keluarga." Tuan Wijaya menekankan ucapannya, lalu beranjak mengikuti ajakan sang istri untuk istirahat.
Rangga hanya mendengus kesal. Kenapa keluarga yang selalu menjadi masalah. Padahal ia selalu berusaha menjaga nama baik keluarga dan tidak pernah sedikitpun berbuat ulah. Hingga ia harus mengorbankan perasaannya dan cintanya.
Rangga melangkah melewati pintu utama, berjalan menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman depan, ia menarik pedal gas menuju kantor membawa sejuta kenangan yang akan ia buang secara perlahan.
*****
Roy masih asik berkutat di atas meja kerjanya tanpa mempedulikan suara dering ponsel yang terus berbunyi. Sepertinya pria itu sama sekali tidak terganggu. Bahkan Roy sama sekali tidak melirik atau sekedar penasaran untuk melihat siapa yang menghubungi. Ya, saat panggilan pertama Roy sudah menebak bahwa yang menghubunginya pasti Elisa, siapa lagi?
Roy hanya tidak ingin gadis itu kembali merengek perihal pernikahannya yang akan di adakan besok pagi. Walaupun sebenarnya Roy tidak terlalu menginginkan pernikahan ini, tapi ia tetap harus memastikan anak yang ada di dalam kandungan Elisa mempunyai keluarga yang utuh. Ia tidak ingin anak itu bernasib sama seperti dirinya.
Sedangkan di seberang sana seorang gadis terus memaki sambil berusaha menghubungi pria itu lagi. Namun nihil!Roy sama sekali tidak menjawab. Kesal, Elisa segera melempar ponsel miliknya ke atas ranjang dan ikut merebahkan tubuhnya di sana.
Ia menatap langit-langit kamar, menerawang akan seperti apa pernikahannya nanti. Seperti mendapat angin segar, Elisa melirik jam dinding yang tergantung di kamar.
Kenapa aku tidak datangi saja tempat tinggal Kak Roy. Gadis itu tersenyum licik memikirkan cara agar bisa keluar dari rumah mewah ini. Akhirnya dengan penuh percaya diri Elisa keluar dari kamar, ia menuruni tangga menuju dapur untuk menemui Mbok Nah yang akan mengantarnya ke tempat yang ia mau.
"Lho, Non kenapa kita kesini?" Mbok Nah mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tadi Elisa bilang ingin makan nasi goreng, tapi kenapa kini Elisa meminta mobil mengarah ke tempat lain.
"Tenang, Mbok, El cuma ada urusan sebentar." Elisa tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Tapi Mbok tidak berani, Non, bagaimana nanti kalau Tuan tahu?"
"Mbok Nah nggak usah bilang ke Papi dong. Gampang kan?"
Gampang? Iya, menurutnya. Tapi nanti kalau sampai Tuan Andreas tahu pasti akan marah besar. Mbok Nah meremas kedua tangannya, ia bingung antara ingin memberitahu majikannya atau tidak.
"Mbok tunggu di sini sebentar ya, aku ingin masuk." Elisa melepas sabuk pengaman dan bergegas membuka pintu mobil.
"Tunggu, Non. Sebaiknya Mbok ikut saja ya?" Wanita itu sudah bersiap melepas sabuk pengaman, tapi tangan Elisa menahan," Nggak usah khawatir, Mbok, aku cuma menemui Kak Roy sebentar."
"Tuan Roy?" Mbok Nah akhirnya mengalah, membiarkan gadis itu melangkah sendiri menuju bangunan apartemen mewah di depannya.
"Tuan ... " Mbok Nah memutuskan untuk melapor pada Tuan Andreas, karena nantinya tidak ingin di salahkan jika terjadi sesuatu pada nona mudanya.
"Ya, Mbok, Ad apa?" jawab Tuan Andreas di seberang sana.
"Anu, Tuan ... " Mbok Nah kembali bimbang antara ingin memberitahu atau tidak, hingga beberapa kali Tuan Andreas memanggil, "Mbok?"
"Eh, iya, Tuan."
"Elisa baik-baik saja kan, Mbok?" Tuan Andreas paham betul jika Mbok Nah sampai menghubunginya, apalagi kalau bukan menyangkut tentang Elisa.
"Iya, Tuan, Nona Elisa baik-baik saja." Terdengar helaan napas lega dari seberang sana. Hingga Mbok Nah melanjutkan kalimatnya, "Nona Elisa menemui Tuan Roy di apartemennya, Tuan."
Hening ...
Mbok Nah takut-takut menunggu reaksi majikannya. Ia terlihat mengusap wajahnya beberapa kali karena terlalu gugup.
"Biarkan saja, Mbok."
Apa? Mbok Nah masih diam dengan segala ketakutannya. Sampai terdengar suara Tuan Andreas kembali, "Biarkan saja Elisa menemui Roy, memang apa yang bisa dia lakukan sekarang? Toh, besok pagi mereka akan menikah."
__ADS_1
Ah, lega. Mbok Nah mengusap dadanya berulang kali. Ketakutannya sedari tadi sirna begitu saja. Yang harus ia lakukan sekarang hanya menunggu sampai Elisa kembali dan membawanya pulang dengan selamat.