
Roy menatap cemas ruangan yang ada di depannya ini,setengah jam yang lalu Roy mengantar Elisa sampai di depan ruangan dan mencoba menguatkan gadis itu yang terlihat sangat ketakutan.Ingin sekali Roy menemaninya ke dalam,tapi itu tidak mungkin karena Dokter melarang siapa pun untuk masuk sebelum proses operasi sesar selesai.
Kenapa lama sekali...
Roy terus mondar_mandir,tak peduli dengan penampilannya yang acak_acakn dan perut yang sudah keroncongan karena dari tadi siang ia memang belum sempat makan.Membuat Mbok Nah yang melihat merasa tidak tega,Mbok Nah mendekat dan mencoba berbicara perlahan dengan laki_laki itu.
"Tuan,sebaik nya Anda makan lebih dulu,biar saya dan Pak Kasim yang bergantian menunggu di sini."Ucap Mbok Nah,wanita paruh baya itu berusaha membujuk Roy pelan_pelan agar mau beristirahat sejenak dan mengisi perutnya yang pasti sangat lapar.
Roy hanya menggeleng samar,sungguh ia tidak ingin beranjak sedetik pun sebelum melihat Elisa keluar dari ruangan itu bersama anaknya.
"Tidak,kalau Mbok Nah lapar silahkan makan lebih dulu."Jawab Roy lirih.
Mbok Nah tidak bisa berbuat apa_apa lagi selain terus menunggu sampai proses persalinan itu selesai.
Tidak berapa lama ruangan operasi pun terbuka,Roy langsung melangkah cepat menghampiri Dokter yang menangani persalinan Elisa tadi.
"Selamat Tuan,bayi Anda laki_laki."Ucap Dokter yang menangani persalinan Elisa.Keduanya sekarang berada di depan ruang operasi setelah setengah jam yang lalu proses persalinan selesai.
"Lalu bagaimana keadaan anak dan istri saya?Mereka baik_baik saja 'kan,Dokter?"Roy sangat bahagia mendengar anaknya yang ternyata laki_laki seperti hasil USG waktu itu,tapi ia masih khawatir dengan kondisi Elisa yang ia lihat sangat ketakutan saat akan masuk ruang operasi.
"Kedua nya baik_baik saja Tuan,dan sebentar lagi Nona Elisa akan kami pindahkan ke ruang rawat kembali."Ucap sang Dokter kemudian.
"Terima kasih,Dokter."
Roy tampak lega mendengar semuanya dalam kondisi baik,ia jadi tidak sabar ingin melihat seperti apa wajah anaknya itu.
"Roy....?"
Dari arah lorong terlihat Tuan Andreas dan Nyonya Sintia berjalan tergesa menuju arahnya.Keduanya tampak terlihat cemas saat melihat Roy berada di depan ruangan operasi.
"Bagaimana Roy?Elisa baik_baik saja kan?"Tuan Andreas langsung memberondong menantunya itu dengan berbagai pertanyaan.Beliau memang langsung mengambil penerbangan saat Roy mengabari bahwa Elisa akan melahirkan.
Roy menatap kedua mertuanya itu lantas tersenyum."El baik_baik saja Pi?Dan anak kami_....?"
Roy menjeda ucapannya,mungkin karena teramat gembira sampai ia tidak bisa berkata apa_apa lagi.
"Anak kalian tidak apa_apa 'kan?Anak kalian_...?"Nyonya Sintia sudah panik dengan apa yang akan Roy sampaikan,Ia berharap cucu pertama nya dalam keadaan baik_baik saja.
"Anak kami laki_laki,Pi."Ucap Roy kemudian.
Entah sebahagia apa sekarang kedua orang tua itu,sampai_sampai butuh waktu sejenak bagi Tuan Andreas untuk bisa mencerna setiap ucapan Roy baru saja.
__ADS_1
"A_anak kalian_....?"
"Iya Pi,anak kami laki_laki,dan lahir dengan selamat."
"Jadi cucuku laki_laki...?"Nyonya Sintia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar,ia sampai menengok ke arah suaminya berkali_kali bahwa sekarang yang ia alami bukan lah mimpi.
"Benar,cucu Mami laki_laki."Ucap Roy memastikan.
Tuan Andreas langsung memeluk tubuh Roy dan mengucapkan kata terimakasih berulang kali,bahkan sampai meneteskan air mata karena merasa sangat bahagia.
"Terima Kasih,"ucapnya sekali lagi.
"Terima kasih telah bertahan di samping Elisa selama ini."
Ada rasa haru yang menyeruak ke dalam dada laki_laki itu,bagaimana pun apa yang di ucapkan Tuan Andreas itu benar.
Mungkin kalau laki_laki lain,tidak akan bertahan menghadapi sifat Elisa yang kekanakan.Apalagi ia memperlakukan suaminya dengan seenaknya.
Namun Roy menyadari,bahwa sifat Elisa yang seperti itu mungkin karena ia belum bisa menerima dirinya selama ini,dan Roy yakin jika suatu saat Elisa akan berubah dan bisa menerimanya seiring berjalannya waktu.
Lalu Roy mengajak kedua mertuanya itu berjalan menuju ruang rawat Elisa,mereka sudah tidak sabar ingin segera melihat seperti apa wajah bayi mungil itu.
"Mami...?"Elisa berbinar senang saat melihat kedatangan kedua orang tuanya itu,lantas segera memeluk erat Mami Sintia yang baru saja datang.
"Bagaimana keadaan mu,El?"Mami Sintia menangkup kedua wajah Elisa,memeriksa nya berulang_ulang.
"Aku sudah lebih baik,Mi."
"El,Papi merindukanmu."Papi Andreas tak mau kalah,ia segera membawa Elisa ke dalam dekapannya lantas memberikan ciuman di puncak kepala gadis itu.
"Papi...?"Elisa merengut karena masih saja di perlakukan seperti anak kecil."Aku sudah besar,Pi?Dan lihat,Elisa sudah punya anak sekarang."Gadis itu lantas mencebik.
"Bagi Papi,kamu tetap putri kecil kami."Papi Andreas memberikan satu ciuman lagi,tapi kali ini di kening Elisa.
"Papi....!!!!"auw......"Elisa meringis saat merasakan perutnya yang tiba_tiba terasa nyeri.
"Pelan_pelan,El?Kamu baru saja operasi,bekas jahitan di perutmu masih baru."Mami Sintia sudah khawatir saat melihat Elisa yang tiba_tiba kesakitan.
"Aku tidak apa_apa,Mi,Ini hanya sedikit sakit."Elisa tersenyum mencoba menenangkan.
"Lagian Papi apa_apaan sih?El 'kan sudah punya suami,kenapa masih saja di perlakukan seperti itu."Wanita itu sudah melayangkan protes,namun Papi Andreas tetap saja tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Maafkan Papi,El?Mungkin Papi terlalu senang."
Roy hanya menggeleng melihat adegan lucu istri dan kedua mertuanya itu,andai saja pernikahan mereka layaknya pasangan normal sama seperti yang lain,pasti ia akan sangat bahagia sekarang.
Laki_laki paruh baya itu lantas berjalan ke arah box bayi yang ada di samping ranjang putrinya,ia melihat bayi mungil itu sedang tertidur pulas setelah di berikan ASI melalui botol,karena Elisa belum bisa menyusuinya langsung.
Sedangkan Mami Sintia sudah berada di dekat box bayi sedari tadi,ia tidak henti_hentinya tersenyum sambil terus membelai pipi mungil bayi itu.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama...?"tanya Papi Andreas menatap ke arah Roy.
"Kami sudah menyiapkannya,Pi."Jawab Elisa cepat,ia tidak mau kalau Roy sampai menamai anak mereka lebih dulu,karena ia sudah menyiapkan satu nama yang di anggap cocok untuk anaknya itu.
"Siapa...?"tanya Papi Andreas penasaran,sedangkan Mami Sintia hanya diam menatap keduanya.
"El....?"
Roy menyela cepat,karena ia juga telah menyiapkan satu nama yang cocok untuk anaknya.
"Kalian...?"Papi Andreas menatap bingung.Ia yakin pasti keduanya sedang berebut untuk menamai anak mereka lebih dulu.
"Elvaro,Pi..?El mau kasih nama Elvaro buat anak kami."Elisa tidak ingin membuang waktu lagi,sebelum Roy mengatakannya lebih dulu.
"Jadi kalian akan menamai nya Elvaro?"Ulang Mami Sintia.
Elisa mengangguk cepat,dengan senyum penuh kemenangan.Ia menatap wajah Roy yang tampak terlihat masam.Ia tidak peduli,Elisa bahkan mengejek laki_laki itu dengan menjulurkan lidah ke arahnya.
Merasa menang karena sudah lebih cepat memberikan nama untuk bayi kecil itu.
"Tidak,Pi...?"Roy angkat bicara,ia merasa lebih berhak untuk memberikan nama untuk anaknya.
"Reymond....!Roy akan memberi nama itu untuk anak kami."Ucap laki_laki itu kemudian.
"Kak.....?"
Kedua nya saling menatap dengan pandangan yang sama_sama sulit di artikan,membuat Tuan Andreas dan Mami Sintia menggeleng tak percaya melihat perdebatan anak dan menantunya itu.
"Jadi kalian ingin menamai nya siapa...?"
LIKE
KOMEN DONG???
__ADS_1