The Housemaid

The Housemaid
JN_bibit pelakor


__ADS_3

Riana dan tuan Zein sudah berangkat, mereka hanya melihat dari lantai dua rumahnya.


"apa kamu tak masalah ayah pergi dari sisi kita, kita akan sulit mengawasinya?" tanya Jimmy memeluk Vita.


"tentu saja tidak takut, memang mas pikir aku tak menaruh orang ku di sekitar mereka," kata Vita tersenyum.


Benny baru pulang ke rumahnya dengan wajah syok, pasalnya dia melihat Yuniar mati di tangan Vita dengan kejam.


sedang Dwi di rumah di layani oleh seorang pemuda tampan yang mengantikan sang ayah.


"loh mas sudah pulang, katanya satu bulan di Amerika?" tanya Dwi.


"tidak jadi, ternyata semuanya sudah beres, sekarang aku ingin tidur, bisa tolong ikut dengan ku," ajak Benny.


"tentu," jawab Dwi.


dokter Iwan kini juga semakin sibuk di rumah sakit dan Tika juga sudah mulai belajar tentang bisnis dari beberapa buku yang di kirimkan oleh Vita.


Rika merasa jika sebentar lagi dirinya pasti di depak, terlebih setelah dokter Iwan bertemu dengan seorang gadis yang dia tolong dari jalanan.


"eh pelayan, ambilkan minum dong," kata gadis itu dengan nada memerintah.


"kamu tak cacat ambil sendiri, lagi pula aku bukan pembantu mu," kata Rika yang langsung beranjak ingin pergi.


.ya dokter Iwan menolong gadis itu karena mobilnya yang menabrak gadis malang itu.


Bu Lia selaku pengasuh dokter Iwan pun selalu mengawasi perilaku para wanita di rumah itu.


selama ini Rika adalah gadis yang penurut dan tenang, tapi setelah kedatangan dari gadis batu bernama Bella.


Rika sekarang menunjukkan ketidaksukaannya, terlebih dia terlihat ketus pada gadis itu.


"kamu itu pelayan mas Iwan bukan, sedang aku adalah tamu di sini, jadi kamu harus mengikuti keinginan ku," kata Bella tak suka.


"aku memang pelayan mas Iwan, tapi aku tak melayani gadis tak tau diri seperti mu," kata Rika yang langsung pergi.


dia memilih berganti baju dan mulai berolahraga di gym, sedang Bella merasa kesal.


pasalnya semua pelayan di rumah ini tak suka padanya, dan hanya mau mengikuti semua perintah dari Rika.


dokter Iwan pun pulang dari rumah sakit, dia melihat Bella yang duduk sendirian sambil menangis, "ada apa Bella?"


"aku ingin pergi mas, di sini aku terus di perlakukan dengan buruk oleh Mbak Rika, dia bahkan meminta pelayan untuk tidak melayaniku," kata Bella

__ADS_1


"sudah tenanglah, hei kamu... bantu dia dan mulai sekarang kami melayani Bella, dan dimana Rika?" tanya dokter Iwan.


"Mbak Rika ada gym tuan," jawab pelayan wanita itu.


Bella pun tersenyum senang, sekarang pasti dokter Iwan akan memarahi Rika dan sebentar lagi mengusirnya.


terlebih Rika tak semenarik dirinya yang daun muda, dokter Iwan sampai di ruang gym.


tapi dia kaget saat membuka pintu, suara musik terdengar begitu keras memekakkan telinga.


dia pun langsung masuk dan menafikan musik itu, "ada apa sih, bikin orang gak mood Saha," kata Rika yang menoleh.


dia pun kaget melihat sosok dokter Iwan yang berdiri menatapnya tajam, "kenapa sudah dapat aduan dari kekasih barumu, aku membuatnya menangis, dia tak di layani semua pelayan, bullshit,"


dokter Iwan hanya diam melihat Rika dengan diam, "dokter kenapa butuh tubuhku, kenapa bukankah aku sudah tak enak lagi, terlebih kamu punya barang baru di sampingmu, jadi untuk apa mencariku?" kata Rika yang ingin pergi


tapi dokter Iwan menarik wanita itu dan langsung mengecup bibir wanita itu.


"siapkan air hangat untuk aku mandi, itu sudah jadi tugas mu bukan," kata dokter Iwan.


"iya iya aku siapkan," jawab Rika


Bu Lia datang menghampiri pria itu di ruang gym, dan menutup pintu, "jadi bagaimana laporan mu Bu?"


"tapi kalau aku dengar dari suaramu, sepertinya anda juga tak menyukai Bella, apa aku benar?" tanya dokter Iwan.


"iya, karena dia tak bisa menjaga sikap terlebih dia pernah menghinaku di depan semua pelayan rumah ini," kata Bu Lia.


"baiklah aku mengerti, dan akan membuatnya memahami sesuatu," kata dokter Iwan.


Rika sudah menyiapkan semua keperluan dokter Iwan mandi, pria itu sudah berdiri di belakangnya tanpa mengenakan apapun.


"mulai bersihkan," kata dokter Iwan. Rika pun membuka jubah mandi dan berjongkok di depan pria itu.


dokter Iwan benar-benar menyukai Rika dan dia tak mau jika wanita itu pergi dari sisinya.


setelah itu mereka pun melakukannya, dan kali ini Rika yang duduk di atas tubuh pria itu.


setelah itu, mereka berdua turun untuk makan malam, saat tiba ingin duduk di kursinya.


Bella dengan sengaja menduduki kursi itu, tapi Rika tak keberatan dia bisa pindah, tapi tanpa di duga dokter Iwan menarik tubuhnya hingga terduduk di pangkuan pria itu.


"jangan seperti ini, aku berat," kata Rika.

__ADS_1


"sudah mulai suapi aku, jangan buat aku mengulangi ucapan ku," kata dokter Iwan.


"mas Iwan, apa kita bisa bicara berdua nanti," tanya Bella.


"maaf tidak bisa, aku harus menemani Rika, karena dia sudah mulai melupakan tugasnya, dan jika kondisi mu sudah sehat, kamu bisa di antar supir untuk pulang," kata dokter Iwan dingin.


Rika ingin sekali tertawa mendengar ucapan itu, "dasar tak sadar diri, kamu ingin merebut tempat ku, itu tak mungkin,"


Rika pun langsung lari mengejar dokter Iwan, mereka pun sedang memadu kasih di kamar utama.


sedang Bella ke dapur dan langsung mencari sesuatu untuk membuat kondisinya memburuk.


"ada apa nona mencari sesuatu?" tanya pelayan gadis itu.


"tidak ada, kamu pergilah jangan menggangguku," marah Bella


"ini sudah seharusnya anda tidur, sela... seret dia ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar kamar," kata Bu Lia.


"baik Bu," jawab pelayan itu.


Bella berontak, tapi dia ingat jika dia membuat masalah pasti dia akan di depak dari rumah mewah ini.


saat Iwan sedang menikmati servis terbaik, ponselnya berbunyi ternyata itu adalah Ferdi yang menelponnya.


saat dia mengangkat telpon itu, ternyata itu adalah panggilan video call.


Jimmy dan dokter Iwan sedang tak mengenakan pakaian,p dan keduanya menunjukkan ekspresi yang hampir sama.


"hei jangan bilang kalian sedang melakukannya?" tanya Ferdi.


"memang terlihat bagaimana, itu biasa karena kami berdua sudah menikah, jadi kamu menghubungi ingin bicara apa," tanya Jimmy yang menahan suara.


"aku ingin mengundang kalian melakukan pesta minum di rumah ku, dan Benny masih belum mengangkat panggilannya," kata Ferdi.


"sepertinya dia terlalu syok, uh...." saut dokter Iwan yang tau segalanya.


"hei... dokter kau lemah, jangan bilang kamu duluan," kata Jimmy menggoda dokter Iwan.


tapi yang terlihat ada kepala dan rambut panjang yang tertidur di dada dokter Iwan.


"bukan aku, tapi pasangan ku, dia lemas, sudah nanti aku kesana pukul sepuluh, aku bawa makanan, Jimmy bawa minuman mahal milikmu," perintah dokter Iwan.


"itu gampang, nanti minta pengawal untuk menjemput Benny dan menyeretnya segera saja, dia tak boleh duduk di rumah terus seperti orang gila begitu, toh yang mati bukan istrinya kenapa dia syok berat begitu, tak pantas untuknya," Hata jimmy

__ADS_1


"baiklah, biar nanti aku menyuruh anak buah ku," jawab Ferdi yang kemudian menutup telponnya.


__ADS_2