The Housemaid

The Housemaid
ayah baru Rio


__ADS_3

semua orang melihat tuan Zein, siapa pria yang begitu baik itu, padahal dari pengakuan orang tua Riana, pria itu hanya tuan rumah di tempat Riana bekerja.


"Rio sekarang makan kemudian minum susu ya," kata tuan Zein pada bocah itu.


"minum susu saja ya ayah, Rio masih kenyang," jawab bocah itu.


"baiklah," jawab tuan Zein.


setelah minum susu, bocah itu pun tidur di kamar milik Riana, dan nanti akan tidur bersama tuan Zein.


Tian Zein duduk di luar untuk memeriksa beberapa laporan tentang usahanya.


Riana memberikan teh hangat untuk Yuan Zein, dia pun duduk di samping pria itu.


"tuan terima kasih atas semuanya," kata Riana dengan lirih.


"tak perlu berterima kasih, kamu harus mulai mengawasi putra mu, dia itu hidup mu bukan, jangan seperti ku, yang menyesal di kemudian hari karena telah mentelantarkan putriku yang begitu baik dan hebat," kata tuan Zein.


"iya tuan," jawab Riana.


tuan Zein meminum tehnya dan kemudian masuk, terlihat Rio sudah tidur sambil memeluk guling.


tuan Zein pun tidur di sebelah bocah itu, dan suasana rumah perlahan mulai sepi.


terlebih semua orang sudah pamit pulang, Riana pun merebahkan dirinya di samping Ainun sang adik.


"mbak, pasti beruntung banget jika jadi istri tuan Zein mu itu ya, lihat saja tadi dia begitu panik saat melihat Rio yang begitu kurus dan terluka, bahkan dia begitu menyayanginya," kata Ainun.


"iya dek, tapi dia memang orang baik, jadi jangan mimpi ketinggian," ledek Riana.


"huh... dasar mbak ini, di bilangin gak percaya, siapa tau saja dia kecantol sama mbak," kata Ainun.


"kamu jangan ngaco, masak iya dia suka sama mbak yang wanita kampung, kalau kamu tau wanita di kota, mereka itu cantik, tubuhnya juga bagus dan bersih, gak pantes banget jika tuan bersanding dengan ku," kata Riana yang minder.


"alah mbak saja yang tak mengakuinya,"


"sudah jangan banyak omong, cepet tidur gih, besok kamu gak bangun mbak siram," ancam Riana.


malam itu mereka pun tidur, tuan Zein dan Rio bahkan kini berpelukan tanpa sadar.


keesokan harinya, Rio sudah siap dengan sepatu miliknya yang kemarin di belikan oleh tuan Zein sebagai oleh-oleh.


saat ini Rio ingin menemani tuan Zein lari keliling desa, bukan apa jika tuan Zein olahraga sendiri dia takut kesasar.


"sudah siap nak?"

__ADS_1


"siap ayah, ayo kita lari," kata Rio semangat.


mereka pun berkeliling kampung, Rio terus tertawa sambil menunjukkan beberapa tempat dan menjelaskannya.


tuan Zein tak mengira jika bocah itu begitu pintar bicara, "tunggu Rio kita istirahat dulu, kamu tak capek atau haus," tanya tuan Zein yang terlihat sedikit ngos-ngosan terlebih mereka sudah memutari satu desa, dan ini sudah putaran kedua.


"tidak kok, tapi Rio ingat dulu kakek pernah ajak Rio ke tempat penjual es bubur kacang ijo yang enak banget," kata bocah itu.


"dimana, kenapa ayah jadi pingin," kata tuan Zein.


"Deket kok ayah, ayo kita kesana sebelum habis," tarik bocah itu tidak sabar.


tuan Zein menurut, dan mereka sampai di sebuah bangunan dari bambu yang menyangga atap yang terbuat dari barisan daun tebu yang di tata sedemikian rupa.


"itu tempatnya ayah," ajak Rio.


Keduanya pun masuk kedalam warung sederhana itu dan duduk berdampingan.


"Rio mau pesan apa?" tanya tuan Zein.


"bubur komplit," jawab bocah itu.


"Bu tolong bubur komplit satu, dan bubur kacang ijo tanpa santan satu ya," pesan tuan Zein.


"baik juragan, ngomong-ngomong anda ini siapanya Rio, gak gak pernah lihat," tanya penjual bubur itu penasaran.


"tapi saya dengar anda calon suami dari Riana ya, wah... Alhamdulillah loh kalau tuan bisa menyayangi Rio, karena bocah ini kasihan tuan, dia dulu itu sering di siksa sama ayah kandungnya," kata penjual itu.


"ayah... Rio boleh ambil gorengan juga?" tanya bocah itu takut.


"Rio, ayah sudah pernah bilang, apapun yang Rio inginkan, Rio bisa dapatkan, jadi ambil gorengan sesuka Rio, nanti biar ayah bayar," kata tuan Zein.


Rio pun begitu senang dan mengambil pisang goreng dan mengambilkan untuk tuan Zein juga.


"iya ibu benar, kemarin saya juga terkejut saat mengetahui di tubuh Rio banyak luka, tapi sayang Riana tak mau melaporkan semua itu,"


"ya Allah tuan, bisa di bunuh satu keluarga jika berani melakukan itu, keluarga pria itu terkenal jahat di desa ini, karena merasa paling kaya," jawab ibu penjual bubur.


Rio sudah sibuk makan bubur, sedang tuan Zein menikmati buburnya sambil berbincang-bincang dengan penjualnya.


"kalau saya bisa mohon ya tuan, tolong bawa Rio ini ke kota saja, kasihan jika dia tetap di sini, dia bisa terluka terus," kata ibu penjual itu dengan nada memohon.


"iya Bu nanti saya pikirkan, karena saya harus membicarakan semua dengan Putri saya dulu," kata tuan Zein.


saat mereka masih makan, seorang wanita yang dandanannya super menor datang ke warung bubur itu.

__ADS_1


bahkan Tuan Zein mengira dia itu toko emas berjalan, "Bu bubur komplitnya lima ya, eh ada Rio, itu siapa Rio, kok Tante gak pernah lihat,"


"Tante ini ayah Rio, Tante gak boleh kebal karena ayah Zein milik ibu," kata Rio memeluk tuan Zein


"tenang Rio... aku juga tak berminat dengan undur-undur model begitu, wajahnya saja bikin orang takut," batin tuan Zein


"perkenalkan saya ibu sambung Rio, istri dari juragan Nanang, pria terkaya di kampung ini, dan aku Lusiana wanita paling sosialita di sini," kata wanita itu dengan sombong.


"halo... salam kenal, ayo Rio ibu mu bisa mengomel jika kita tidak pulang, jadi semuanya berapa Bu, buburnya dua dan gorengan tiga," kata tuan Zein yang tak nyaman.


"tujuh ribu lima ratus tuan," jawab pemilik warung.


"hah..." kaget tuan Zein mendengar harga yang murah itu.


dia pun mengeluarkan uang pecahan seratus ribu, "ya Allah tuan, saya baru buka belum punya kembalian,"


"buat ibu saja, anggap rejeki ibu, ayo Rio, ayah gendong sampai rumah," kata tuan Zein yang mengendong Rio di punggungnya.


"terima kasih tuan, semoga Allah yang bales ya," kata ibu itu dengan senang hati.


wanita itu pun merasa jengkel, pasalnya pria itu terlihat lebih kaya dari suaminya, dan lagi terlihat tampan juga.


tubuhnya juga sangat bagus saat kaos basahnya mencetak tubuh yang six pack itu.


"ini ibu juragan buburnya," kata ibu penjual.


"ini uangnya, si Riana itu hoki banget sih,punya kekasih kaya begitu, dasar wanita udik, awas aja," gerutu Lusiana


wanita itu pergi sambil kesal, sedang selama perjalanan Rio dan tuan Zein terus tertawa.


semua orang pun tak percaya bocah yang selalu terlihat murung itu bisa tertawa ceria seperti itu.


"selamat pagi ibu ..." sapa tuan Zein dan Rio bersamaan.


"pagi... bagaimana joging nya, kenapa Rio minta gendong?" tanya Riana.


"ayah sendiri yang mau gendong Rio, sudah jangan di marahi, sekarang temani aku mandi, aku tak mau di intip orang," kata tuan Zein yang langsung memancing semua orang beriuh gemas.


"aduh aduh... minta di temenin mandi, di gosok sekalian Riana, biar makin ganteng, bisa betah aku bantu rewang di sini, lihat calon suamimu," kata ibu RT.


"ibu RT, tuan hanya tak terbiasa mandi dengan kamar mandi setengah badan," jawab Riana malu.


"Rio juga mau mandi bareng ayah," teriak Rio.


"aduh lengket ya, seneng banget lihat Rio yang sekarang, bisa tersenyum ceria," kata ibu-ibu.

__ADS_1


"karena Rio punya ibu dan ayah yang sayang Rio,"


__ADS_2