
Jimmy sedang bersiap untuk berangkat ke perusahaannya,dia harus mengikuti rapat dengan beberapa orang.
terlebih semua novel keluaran dari perusahaannya akan di jadikan sinetron dan film.
tapi Jimmy benar-benar pada orang yang bekerja untuknya harus menyembunyikan tentang identitasnya.
"aku berangkat ya sayang, kamu baik-baik di rumah, ingat jangan nakal," kata Jimmy mengecup kening Vita dan bibirnya sekilas.
"sudah hentikan atau nanti kamu akan terlambat," kata Vita tersenyum manis.
"baiklah," jawab Jimmy yang pergi dengan kotak bekal miliknya.
pria itu mengenakan setelan jas yang kemarin Vita pilihkan untuknya, bahkan pria itu terlihat begitu tampan dengan setelan jas berwarna mocca.
Jimmy terus mengembangkan senyumnya, karena pria itu merasa senang karena sekarang dia makin bersemangat terlebih setelah memiliki Vita di hidupnya.
sesampainya di kantornya, dia langsung menunggu di ruangannya, dan dua asistennya memberikan semua berkas perjanjian.
tapi keduanya sedikit kaget melihat penampilan dari Jimmy,pria itu begitu tampan dengan setelan jas baru itu.
"tumben bos, tidak memakai baju gelap?" tanya Fredy.
"karena ini pilihan wanita yang aku cintai," jawab Jimmy tanpa ragu.
"tapi anda begitu tampan bos, itu bagus untuk kesan pertama dengan klien kita ini," kata Juan.
"kamu benar, ingat jangan sampai ada kesalahan di proyek ini, karena ini bisa membuat perusahaan kita bangkit dan tembus kancah internasional atau malah bangkrut karena gagal," kata Jimmy.
"baik bos, kami mengerti," jawab keduanya.
pasalnya mereka tak hanya akan bekerja sama dalam dunia hiburan saja, tapi majalah dari perusahaan Jimmy akan di pasarkan ke seluruh dunia.
siang itu para klien itu datang, seorang wanita cantik, berambut pirang dan berkulit putih bersih, berpenampilan seksi berjalan terlebih dahulu di antara semua orang berjas hitam.
wanita itu bahkan begitu menarik mata untuk fokus pada dirinya yang seperti patung berjalan, Jimmy menyapanya di lobi perusahaan.
"selamat siang pak Jimmy, wah... tak ku kira klien ku kali ini begitu muda," sapa wanita itu membuka kaca mata hitamnya.
"aku juga senang bertemu dengan anda, Miss Yuniar Angkasa," sapa Jimmy.
"benarkah, tapi tenang saja kita kaan sering bertemu kedepannya, jadi semoga perusahaan anda bisa bergerak maju bersama Sky corp." Jawab Yuniar tersenyum menggoda.
"jika kamu berani menggodanya, aku kan membuat mu mati," suara yang dari tadi tersambung dengan Yuniar memalui earphone.
Yuniar tersenyum dan langsung berjalan berdampingan dengan Jimmy.
__ADS_1
Juan sempat terpesona dengan sosok Yuniar, pasalnya wanita itu bertubuh sempurna bak gitar spanyol.
mereka pun langsung menuju ke ruang rapat, Jimmy dan Yuniar saling menjelaskan semuanya yang akan jadi poin dalam perjanjian mereka.
Jimmy tak mengira jika perusahaannya akan secepat ini debut ke ranah internasional.
bahkan perjanjian itu sangat detail dan sangat mematuhi semua unsur dalam hukum.
keduanya pun saling menandatangani kontrak masing-masing.
"baiklah, kerjasama kita sudah berjalan baik, bagaimana kalau sekarang kita makan siang bersama," tawar Yuniar.
"tapi sebenarnya di perusahaan sudah di sediakan, jadi anda-anda bisa menikmati makan siang tanpa harus keluar lagi," kata Jimmy.
"wah.. anda begitu efisien ya tuan Jimmy, kalau begitu apa boleh anda mentraktirku minum," kata Yuniar mengusap paha Jimmy sambil menggodanya.
"tentu, tapi tidak saat ini, sekarang kura fokus makan," kata Jimmy yang menghindar.
dia membuka bekal yang tadi di buatkan oleh Vita, bahkan bekal itu terlihat begitu mewah.
"wah sepertinya istri anda begitu mencintai anda, lihatlah bahkan bekal itu saja berbentuk hati," kata Yuniar memujinya.
"ya dia memang begitu mencintai diriku, itulah kenapa aku tak bisa membuatnya kecewa," kata Jimmy.
Fredy Dan Juan saling pandang, yang mereka tau jika Virnie tak bisa memasak.
Jimmy sering di hina olehnya, tapi pria itu tetap tenang, hanya karena menjunjung tinggi perasaan orang tuanya.
"dasar wanita tua men-ji-jik-kan," batinnya geli.
"berhenti mengumpat padaku, atau aku akan memotong uang gaji mu," saut suara di dalam earphone Yuniar.
"hemm..." kesal Yuniar yang selalu kalah dari bos-nya itu.
akhirnya siang itu mereka makan bersama di kantor, tak lupa Jimmy dan Yuniar bertukar nomor telpon.
dan malam nanti Jimmy mengundang Yuniar dan beberapa orang untuk datang ke rumahnya.
"bos yakin, bagaimana dengan Bu virnie, apa dia akan setuju dan tak marah?" tanya Fredy.
"tenang saja, dia tak akan marah saat tau jika bisnis ini akan menghasilkan uang banyak," jawab Jimmy.
"baiklah kalau begitu, kami akan membeli beberapa daging, jadi kita akan masak dengan cara barbeque," usul Juan.
"aku setuju," tambah Fredy.
__ADS_1
"baiklah, aku akan berbelanja dan ingat kalian berdua jangan telat oke," kata Jimmy.
"baik bos," jawab Jimmy.
dia pun memutuskan untuk pulang dan memberikan kabar bahagia itu, Vita sedang membuat beberapa kue di dapur.
bahkan mulai dari cookies dan cake, entahlah dia hanya sedang ingin saja.
Jimmy pulang dari kantor, Vita membukakan pintu gerbang, setelah menutup pintu.
Jimmy langsung merangkul wanita itu erat, "akhirnya kontrak perusahaan ku dengan perusahaan media luar negri itu berhasil, ini semua berkat doamu," kata Jimmy mengecup bibir Vita sekilas.
"selamat tuan," jawab Vita.
"tunggu, kenapa bibir mu manis dan rasa stroberi," tanya Jimmy.
"aku baru saja membuat kue-kue, dan aku mencicipi krim dan stroberi segar, jadi mungkin karena itu," jawab Vita.
"baiklah sayang, sekarang kamu bersiap, juta berangkat untuk belanja, karena nanti malam mereka akan mengadakan pesta di rumah ini," kata Jimmy dengan gembira.
"baiklah tuan," jawab Vita
dia mengenakan setelah gaun berwarna peach, meski gaun itu tertutup tapi tak menutupi bentuk tubuhnya yang indah.
Jimmy dan Vita membeli.berbagai jenis daging, bahkan Vita akan membuatkan kebab untuk semua orang nanti malam.
setelah membeli keperluan makan, sekarang giliran ke tempat minuman.
Vita memilih red wine yang di produksi dari perkebunan anggur terbaik dunia.
Jimmy pun mengangguk dan menyetujui semua pilihan Vira yang memang memiliki cita rasa yang sangat baik.
bahkan Jimmy kadang tak percaya jika Vita itu hanya gadis miskin dan sekarang jadi Housemaid di rumahnya.
"ada apa tuan, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Vita tersenyum malu.
"kadang aku merasa jika kamu itu bukan pelayan, tapi seorang wanita hebat, terlihat dari caramu memilih anggur, bahkan Virnie saja tak bisa melakukannya," kata Jimmy.
"apa anda tak percaya, ya karena dulu suamiku yang mengajariku, sudah jangan membahasnya," kata Vita.
"kamu tak pantas di sebut Housemaid, tapi harusnya kamu di sebut nyonya Arvita Jimmy Alexander, akan terlihat pantas untuk mu," bisik Jimmy.
"tapi nama itu sudah milik wanita lain, tak pantas jika aku memakainya," jawab Vita tersenyum.
"aku akan menceraikan dia sesegera mungkin," kata Jimmy.
__ADS_1
"aku tunggu itu tuan," kata Vita mengedipkan matanya.