
Jimmy pun gemas sendiri melihat tingkah istrinya itu, dia pun menghampiri Vita yang sedang mengusap perutnya.
"sayang ... kamu kenapa? kok terlihat begitu lelah?" tanya Jimmy.
"tidak aku hanya tak sabar menunggu dia hadir di dunia ini, dan rumah ini akan di penuhi tangisan bayi," jawab Vita.
"aku juga, terlebih setelah beberapa tahun tak pernah mrngendong bayi, mungkin aku harus belajar lagi, maklum mungkin aku sudah terlalu kaku," jawab Jimmy.
"iya mas, tapi aku yakin kamu pasti mau membantuku jika anak kita lahir kan?"
"tentu sayang, apapun untuk mu dan anak kita," jawab Jimmy.
setelah bekerja, mereka pun memutuskan untuk tidur dan menikmati waktu mereka.
karena seminggu lagi Jimmy harus ke luar kota untuk melihat pengerjaan dari proyek resort di pulau itu.
di tempat lain, tuan Zein sedang berjalan bersama dengan Riana, keduanya menyusuri bibir pantai yang cukup sepi itu.
terlebih pantai ini memang sudah tak tersohor seperti dulu, mereka pun menikmati senja.
"tuan bisakah kita pulang, angin sudah mulai cukup dingin," ajak wanita cantik di sampingnya itu.
"mari, tapi sebelum itu kita beli lumpia dulu ya," kata tuan Zein.
Riana mengangguk, tuan Zein ingat jika Vita suka ngemil malam, pukul tujuh malam mereka baru sampai.
tuan Zein meminta Riana untuk memberikan lumpia pada putrinya, kebetulan Vita sedang ada di lantai satu.
"mbak Riana baru pulang? apa ayah baik-baik saja mbak?" tanya Vita yang melihat Riana masuk kedalam rumah utama
"iya mbak, tuan baik-baik saja, tadi sempat ke pantai sebentar untuk menyegarkan pikiran dulu, jadi kami telat, oh ya tuan membeli lumpia daging ayam, apa mau aku siapkan nyonya," tanya Riana.
"boleh mbak, aduh ayah tau saja aku suka ngemil, ayah beli banyak kah?" tanya Vita yang bangun dan menghampiri Riana.
"beli tiga puluh, katanya nyonya dan tuan suka ngemil malam, jadi di taruh di sini dua puluh dan sepuluh ada di rumah, soalnya tadi tuan Syam pas di telpon tak mau," terang Riana.
"wah mbak Riana begitu dekat dengan ayah, apa jangan-jangan kalian ehem..." goda Vita.
"aduh nyonya, jangan seperti itu, saya ingat peraturan di rumah ini, jika tak boleh menggoda para majikan, jadi saya gak berani nyonya," jawab Riana gemetar.
"bagus deh, tolong buatkan lima ya mbak, oh peraturan itu untuk para pria beristri di rumah ini," bisik Vita pada Riana.
__ADS_1
mendengar itu mata Riana melotot dan melihat Vita yang menaruh jari telunjuknya di bibir seksi wanita itu.
"jangan bilang-bilang," kata Vita yang kemudian pergi.
Jimmy turun dari lantai atas dengan baju santai, Riana juga sudah selesai menyiapkan lumpia itu dan kemudian pamit.
"dia baru pulang, berarti ayah juga?" tanya Jimmy yang duduk bersama Vita.
"iya, mereka baru pulang dari Kenjeran, sudah mau tidak lumpia ini, jika tidak aku makan sendiri loh," kata Vita yang kaget karena lumpia yang dia makan tak terasa msg sama sekali
sebuah pesan masuk, "tenang itu lumpia yang bebas msg khusus untuk putri ayah," isi pesan itu.
"siapa sayang?"
Vita menunjukkan ponselnya, "dia benar-benar berubah sekarang, seandainya dari dulu pasti aku tak harus menderita dulu baru memiliki kalian semua," lirih Vita.
"tapi jika tidak seperti ini, tak mungkin kisah cinta kita bisa penuh drama begini," kata Jimmy yang membuat Vita tertawa.
memang benar, cerita cinta mereka sangat ruwet jika di nalar. beruntung cinta mereka kuat dan Vita bukan wanita seperti Virnie yang bisa mengobral tubuh pada sembarang pria.
Riana masih terngiang-ngiang ucapan dari Vita, wanita itu benar-benar mengatakan hal tadi.
"ah maaf tuan, saya hanya sedang terpikirkan sesuatu," jawab Riana.
"ada apa? coba bilang jangan di simpen sendiri," kata tuan Zein uang melihat wanita itu.
"itu orang tua saya di kampung bilang jika adik saya mau menikah, dan saya di minta pulang, tapi saya baru bekerja masa sudah pulang saja," kata riana.
"tak masalah dong, besok biar aku yang izinkan pada Vita ya," kata tuan Zein.
"tapi tuan, saya takut, karena mantan suami kadang masih memaksa saya bercinta, jika tidak mau dia melampiaskannya pada anak kami," kata Riana sedih.
tak terduga tuan Zein memeluk wanita itu, "sudah jangan menangis, nanti kita cari solusinya," jawab tuan Zein.
********
pagi ini semua sedang sarapan di rumah utama, mereka meniadakan kursi kepala rumah tangga.
jadi semuanya duduk tanpa ada yang merasa memimpin, Vita melihat tuan Zein yang seperti memikirkan sesuatu.
setelah selesai, Vita mengajak ayahnya itu untuk berjalan-jalan di pinggir kolam, sedang Jimmy masih bersama tuan Syam untuk bekerja.
__ADS_1
"ada apa ayah? sepertinya ayah ada yang di pikirkan?" tanya Vita khawatir.
"sebenarnya, ayah ingin bilang jika ayah ingin memberikan libur pada Riana, karena adiknya menikah dan dia harus pulang," kata tuan Zein
"silahkan ayah, memang apa yang membuat ayah khawatir, takut aku tak mengizinkan ya, padahal selama pekerjaannya bagus aku akan memperlakukan semua pelayan dengan baik," jawab Vita.
"bukan begitu, sebenarnya ayah ingin mengantarnya pulang karena khawatir dia itu di siksa oleh mantan suaminya, terlebih anak mereka ada di tangan Suaminya," jawab tuan Zein.
"silahkan ayah, jika ayah mau juga bisa menikahinya loh, asal dia bisa menjaga ayah, aku tak keberatan, pasti mama juga tak mau melihat mu sendirian di usia tua, dan lagi aku juga sudah bahagia bersama suamiku, jadi ayah juga berhak," kata Vita.
"kenapa kamu bisa berfikiran sejauh itu, ayah hanya mengantarkan dia pulang honey," kata tuan Zein tersenyum
"ya barang kali ayah sudah tak kuat," jawab Vita yang mengundang gelak tawa.
sedang Jimmy pun merasa kesal pada adiknya, pasalnya Jefry terlalu bersenang-senang saat tak ada orang tuanya.
hingga beberapa hasil produksi menjadi anjlok karena tanpa pengawasan.
Jimmy langsung memarahi Jefry dan langsung memblokir semua kartu adiknya itu.
dan sudah di pastikan jika besok pria itu ajan datang dengan keadaan marah karena ulah Jimmy.
tapi ini semua demi kebaikannya, pasalnya Jimmy ingin adiknya itu bisa bertanggung jawab dan tak hanya berfoya-foya saja.
karena pabrik itu adalah warisan turun-temurun dan keluarga mereka tak bisa kehilangan pabrik itu.
jadi Jimmy meminta Fredi mengatur seseorang untuk ke pabrik milik keluarga mereka untuk menanggani semuanya.
Vita pun datang dan duduk di samping Jimmy, dia menghela nafas, karena melihat itu tuan Syam pamit karena sang mama mungkin sendirian sekarang.
"ada apa sayang, sepertinya kamu lelah?"
"bukan lelah, tapi aku sedang ingin ini, dia merindukannya," kata Vita mengusap perutnya dan memegang Joni kecil yang masih tidur.
"hei ini masih jam sembilan pagi,"
"apa salahnya, dulu kamu melakukannya tanpa melihat waktu," jawab Vita memohon.
Jimmy pun tersenyum dan menutup semua pekerjaannya dan mulai mengajak Vita ke lantai atas, dan mereka mulai melakukannya dengan sangat baik dan perlahan.
Vita pun menikmati setiap sentuhan suaminya itu, bahkan dia sampai terlebih dahulu baru kemudian Jimmy.
__ADS_1