The Housemaid

The Housemaid
JN_foto keluarga


__ADS_3

Ferdi merasa hubungannya dan Farah makin membaik, terlebih semalam mereka kembali melakukannya tanpa paksaan siapapun.


Steve duduk di meja makan dan heran melihat Ferdi yang sudah senyum-senyum tak jelas.


"papa kenapa? kesambet?" tanyanya dengan heran.


"gak kok, papa tak kenapa-kenapa, sudah sarapan sana, oh ya bukankah kamu kena skorsing tiga hari?" tanya Ferdi melihat putranya itu sudah sangat rapi.


padahal masih sangat pagi untuk pria sepertinya beraktifitas di hari libur.


"oh ini, aku mau ikut mama ke rumah lama om Jimmy, dan nanti siang ada acara bersama anak jalanan, memang kenapa pa?" tanya Steve.


"baiklah kalau begitu, ingat jangan menyusahkan mereka dan bantu mereka ya," kata Ferdi.


"siap papa," kata Steve.


Farah pun keluar dengan sebuah tas kecil berwarna hitam, dan menaruhnya di samping Ferdi.


"apa ini?"


"itu adalah makan siang, biar mas gak malu bawanya, makanya aku taruh di tas kulit, kebetulan kemarin mbak Vita yang membelikan untuk kami semua," jawab Farah.


"ya sudah terima kasih, nanti suruh-suruh saja itu Steve buat bantuin, tapi kenapa kalian ke rumah lama Jimmy, bukankah rumah itu sudah lama di tinggalkan karena kejadian buruk itu?" heran Ferdi.


karena dia tau benar jika Jimmy benar-benar tak ingin siapapun mengungkit masa lalu.


ini malah mereka ingin main ke rumah yang penuh kenangan itu, "aku juga tak tau, ini di ajak mbak Vita, sepertinya dia ingin tinggal di sana tapi dengan suasana baru, karena kemarin dia sudah memanggil beberapa tukang untuk membenarkan rumah itu," kata Farah.


"ya sudah, aku ingin lihat bagaimana dia bisa mengajak Jimmy kembali ke rumah itu yang penuh kenangan itu," kata Ferdi tak sabar.


setelah selesai sarapan, dia pun pamit ke kantor, Farah dan Steve juga sudah siap pergi.


mereka memutuskan untuk membawa mobil yang cukup besar agar bisa membawa beberapa barang.


mereka langsung menuju ke rumah lama itu, ternyata mobil Vita sudah ada di garasi itu.


"selamat pagi mbak!!" teriak Farah yang tenyata Vita sedang mengawasi beberapa pekerja yang sedang mengantikan interior dapur dengan yang baru.

__ADS_1


"pagi... kalian datang juga, Steve aku ingin minta bantuan mu untuk mendekorasi dua kamar di atas, ya itu akan jadi kamar dari Jason dan Jayden."


"kami datang," kata Jefry dan Nat.


"terima kasih sudah datang, yuk bantu kerja yuk," ajak Vita.


Jimmy sedang duduk dan tak menyangka dengan apa yang di inginkan oleh Vita.


pasalnya Vita meminta untuk mereka pindah ke rumah lama Jimmy, padahal rumah itu penuh dengan kenangan baik dan buruk, terlebih setelah pembunuhan terhadap Tian dan Kris.


"ada apa tuan? apa ada masalah?" tanya Juan.


"ya... Vita merenovasi rumah lama ku untuk bisa di tinggali lagi, padahal aku masih belum siap untuk kembali ke rumah itu, terlebih kenangan dari tian dan Kris," jawab Jimmy.


"tapi aku yakin jika nyonya melakukan ini demi kebaikan anda tuan," kata Juan.


"ya, Vita terus meminta agar kami pindah rumah, dia tak nyaman tinggal di rumah mewah yang kami tinggali sekarang, terlebih dengan banyaknya asisten rumah tangga, itu membuatnya semakin risih," kata Jimmy yang sekarang curhat.


"bukankah itu lebih baik, kalian lebih saking memahami tuan, meski aku belum menikah, tapi dilihat dari ekspresi nyonya, dia begitu bahagia saat tuan masih di rumah dulu, di banding sekarang karena kesibukan anda," jawab Juan.


"tapi tuan saya mohon, tolong pilih orang yang tepat, jika tidak bukan maju malah hancur perusahaan anda di tangan yang salah," kata Juan dengan suara memohon.


"baiklah aku menahan tau siapa yang akan ku jadikan pengganti ku, lagi pula aku tak sepenuhnya melepaskan begitu saja, karena aku akan tetap mengawasi seperti dulu," jawab Jimmy.


Juan hanya mengangguk saja, "sudah sekarang ambilkan berkas untuk proyek pulau cinta, karena aku harus melihat progres dari proyek itu," kata Jimmy.


"baik tuan, kalau begitu permisi," jawab Juan undur diri.


Jimmy harus menyelesaikan proyek itu dan kemudian mencurahkan semua waktunya untuk istri dan kedua anaknya.


ternyata rumah itu sudah seminggu ini mengalami renovasi, bagian dapur, dan lantai dua yang mendapat bagian penting dalam renovasi.


tak ada lampu gantung, melainkan sebuah lampu yang bisa menerangi semua area rumah.


dapur juga semakin luas dengan meniadakan kursi dan meja makan, dan menggantinya dengan meja pantry yang luas.


suasana rumah pun sekarang terlihat makin ceria dan sangat adem.

__ADS_1


berbeda dengan dulu yang terlihat elegan, kini rumah itu benar-benar sangat berubah.


Vita sedang duduk bersama tamu, dan lagi semuanya sedang menikmati suasana rumah sangat nyaman.


"aku tak mengira rumah ini yang dulu interiornya sangat mewah, di tangan kakak ipar bisa jadi sangat ceria dan nyaman begini, meski mengunakan warna cerah tapi tak norak loh," kata Jefry merasa senang.


"hanya demi suasana baru, karena aku tak ingin papa anak-anak terus terpaku dalam masa lalu kelam itu," kata Vita.


tak lama dia orang pria membawa sebuah benda yang cukup besar. "nyonya, ini foto yang anda minta,"


"baiklah aku mengerti, tolong pasang di ruang tamu ya pak," kata Vita yang bangkit dari duduknya.


dia pun ingin menyaksikan foto keluarganya di pasang dengan baik di ruang itu.


dia juga sudah memasukkan tiga anak mereka, yaitu Tian, Kris dan juga Leon.


saat foto itu terpasang, terlihat foto itu sangat indah, Vita dan Jimmy sedang duduk memangku dua putranya.


dan tiga anak mereka juga ada di belakang keduanya juga sambil tersenyum.


semua pun tak menyangka jika Vita bisa membuat foto keluarga itu begitu lengkap.


"apa bagus menurut kalian?" tanya Vita meneteskan air mata melihat ketiga orang di dalam foto itu.


"sangat indah kak, lihatlah ketiganya juga tersenyum lebar seperti itu, bahkan Leon persis seperti kak Jimmy," kata Farah


"ya dia sangat mirip dengan papanya," kata Vita dengan sedih.


Jimmy datang tanpa memberitahu kepada Vita dan yang lain, dia membawa makanan untuk semuanya.


"nasi Padang disini..." kata Jimmy yang kaget melihat foto keluarga mereka.


"sayang ini..."


"iya mas, ini adalah foto kita bersama anak-anak," jawab Vita yang langsung memeluk Jimmy.


"ya Tuhan... foto itu begitu indah,bahkan lihatlah Leon yang tersenyum seperti diriku, seandainya dulu aku lebih cepat bertemu kalian, mungkin aku akan bisa memeluknya..." tangis Jimmy yang mengecup pipi Vita dan kemudian memeluknya erat.

__ADS_1


__ADS_2