The Housemaid

The Housemaid
tuan Zein masuk desa


__ADS_3

siang itu tuan Zein dan Riana susah siap untuk pergi ke desa tempat Riana tinggal.


perjalanan cukup memakan waktu setidaknya butuh dua setengah jam untuk sampai, padahal mereka lewat jalan tol.


perjalanan cukup jauh, tapi tuan Zein menghentikan mobil di sebuah rest area untuk mengisi bahan bapak dan sekedar ke toilet.


tapi tak di duga saat dia kembali ke dalam mobil, wanita itu sudah membeli dua kopi.


"kamu membelinya?"


"iya tuan, habis dari tadi tuan tak minum kopi sedikitpun, padahal biasanya sudah di gelas kalau jam segini," jawab Riana.


"tau saja kalau mulut saya udah pahit," kata tuan Zein.


mereka pun melanjutkan perjalanan, karena mobil mewah itu kembali menyusuri jalan raya itu.


tapi tuan Zein sedikit kaget saat mereka sudah masuk ke daerah kecamatan tempat tinggal Riana pelayannya, pasalnya jalan di sana mulai berlubang-lubang.


belum lagi debu di jalanan itu, "ya tuhan Riana, kamu tinggal di pedalaman, kenapa tidak bilang," kata pria itu terkejut.


"maaf tuan, saya juga tak tau kalau jalanannya sudah rusak separah ini, karena terakhir saya pulang belum separah ini," jawab wanita itu


"kamu memangnya pulang berapa tahun yang lalu?"


"empat tahun yang lalu tuan," jawab Riana tersenyum malu


"pantes," jawab tuan Zein.


tapi beruntung setelah itu jalanan berhantu dengan jalan paving blok yang cukup rata.


tapi sangat sempit, bahkan untuk lewat mobil papasan saja, harus mengalah salah satu terlebih dahulu.


semua warga kampung kaget melihat mobil sedan mewah berwarna hitam itu masuk ke kampung mereka.


karena tak ada orang kaya di kampung itu, paling kaya pun mobil yang di miliki adalah Avanza.


semua warga pun keheranan melihat sedan mewah itu. terlebih mobil itu berhenti di depan rumah orang tua dari Riana.


"loh yu... mandek Nok omah e Riana, diloken iku loh... (loh mbak, berhenti di rumahnya Riana, itu loh lihat)," kata ibu-ibu yang sedang berada di warung.


semua pun keluar ke jalan, tuan Zein turun dengan membawa kopi di tangannya.


mereka makin heran melihat pria berjas turun, meski sudah memiliki uban, tapi wajah dan tubuh pria itu masih terlihat seksi dan ganteng untuk ukuran orang kampung.


Tuan Zein bahkan membantu Riana membuka pintu, "maaf tuan, saya tidak tau cara membuka sabuk pengaman,"


tuan Zein pun memasukkan separuh tubuhnya untuk membantu Riana, dari dalam rumah keluarga Riana keluar dan heran melihat pria yang berdiri di samping mobil mewah itu.


tapi saat melihat Riana turun, mereka pun langsung berpelukan dengan erat.

__ADS_1


"Mak, bapak!!" teriak Riana.


"ya Allah nduk, bapak kira kamu tak bisa pulang," kata pria sepuh itu melihat anak pertamanya itu yang sudah lama merantau.


"Alhamdulillah juragan Riana sangat baik hingga memperbolehkan Riana pulang, bahkan beliau mengantarkan aku," jawab Riana.


"selamat sore," sapa tuan Zein.


"selamat sore juragan," kata ayah Riana menyalami pria itu dengan sangat senang.


"Monggo masuk juragan," kata ayah Riana mempersilahkan.


"maaf pak, sebelum itu, bisakah saya memasukkan mobil ke pekarangan rumah, gak etis saja parkir mobil di jalan," kata tuan Zein.


"Monggo juragan, tapi biar saya singkirkan dulu ya pot bunganya, ayo nun tolong bapak," kata pria itu.


Riana juga membantu, dia melepas beberapa pagar rumah agar mobil itu tak baret.


"hei kenapa kamu mencabutnya?" tanya tuan Zein.


"biar mobilnya bisa masuk tuan," jawab Riana


"tidak perlu, cukup sisihkan saja semua bunga itu, mobil pasti muat kok," jawab tuan Zein.


akhirnya mobil pun benar-benar terparkir dengan sempurna, Riana dan tuan Zein mengeluarkan semua hadiah yang di bawa dari kota.


tuan Zein tak memikirkan tentang harga, bahkan pria itu juga membelikan kalung emas untuk semua adik-adik Riana.


"ya Allah juragan terima kasih atas pemberiannya," kata bapak Riana yang menangis sesenggukan memeluk Riana.


tanpa tuan Zein sadari Riana memotret kejadian itu dan mengirimkan pada Vita.


"terima kasih atas semuanya nyonya, Tuan juga sangat baik pada keluarga saya," isi pesan itu.


"iya sama-sama, nanti kalau ayah sudah longgar tolong minta dia telpon ya," kata Vita membalas pesan itu.


"iya nyonya," jawab Riana.


"itu airnya sudah mendidih, mbak dan juragan bisa mandi," kata Ainun adik Riana yang paling kecil.


"kenapa say di suruh mandi air mendidih?" bisik tuan Zein.


"bukan begitu maksudnya, ayo tuan saya ajari dulu,karena di sini tidak ada shower yang mengeluarkan air panas sendiri, jadi harus memasak air baru bisa mandi air hangat," jawab Riana.


"owalah gitu tha," jawab pria itu


Riana menyiapkan semua keperluan Zein di kamar mandi, melihat kamar mandi yang setengah badan, membuat pria itu menahan Riana yang ingin pergi.


"iya tuan," tanya Riana bingung.

__ADS_1


"tunggu di sini, itu kamar mandinya terbuka, aku takut ada yang ngintip, ini di luar Riana," panik pria itu.


Riana mengangguk dan tuan Zein mulai mandi, dia buru-buru karena hawa dingin yang mulai menerpa tubuhnya.


setelah selesai kini giliran Riana, dan ayah Riana memberikan kamar yang di gunakan Riana.


pria itu tak memiliki pilihan karena tak mungkin tamu di suruh tidur di ruang tamu, terlebih rumahnya memang hanya ada tiga kamar, dan Riana bisa tidur bersama adiknya.


tuan Zein menghubungi Vita dan malah dapat tawa dari putrinya itu, "hei sayang, kenapa kamu menertawakan ku,"


"habis ayah sudah seperti juragan desa, lihatlah wajah tampan itu kini tidur di ranjang biasa, bagaimana rasanya ayah?" tanya Vita yang sedang duduk bersama Jimmy.


"sudahlah, tolong doakan ayah mu ini bisa bertahan seminggu di sini oke," kata Tian Zein


"baiklah ayah, oh ya aku tadi sudah mentransfer uang ke rekening ayah untuk berjaga-jaga, siapa tau ayah membutuhkannya," kata Jimmy.


"baiklah, terima kasih Jimmy, kamu memang menantu yang baik," kata tuan Zein.


"maaf tuan, di minta bapak dan Mak untuk berkumpul di depan, untuk makan malam," kata Riana.


"baiklah, sudah dulu ya, ayah mau ke depan dulu," pamit tuan Zein menarikan telponnya.


Vita dan Jimmy tertawa, pasalnya mereka tau kehidupan desa begitu berbeda, bisa di pastikan pulang dari desa mungkin tuan Zein akan sedikit menghitam.


Riana duduk berdampingan dengan tuan Zein di bawah, dia menghela nafas karena membawa baju yang sesuai untuk lesehan begini.


dia melihat semua orang makan dan dia bingung, Riana memberikan piring yang sudah di beri lauk.


"pakai sendok jika tuan tak bisa makan dengan tangan," kata Riana.


"ah terima kasih," jawab tuan Zein.


mereka pun mulai makan, tuan Zein menyukai masakan sederhana ini karena rasanya yang enak.


dia pun duduk di luar sambil menikmati udara malam yang cukup sejuk.


"kamu mau kemana?" tanya tuan Zein melihat Riana yang memakai jaket.


"mau melihat putra ku tuan,"


"tapi ini sudah malam, besok saja, takutnya kamu kenapa-kenapa," kata tuan Zein melarangnya.


"tidak apa-apa tuan, kami sekalian mau izin pak RT dan pak RW jika tuan menginap di rumah," kata bapak Riana dengan lembut.


"kalau begitu biar saya ikut, setidaknya mereka harus melihat ku bukan," kata pria itu.


akhirnya mereka bertiga pun menuju ke rumah pak RW dan pak RT, baru sampai di rumah mantan suami Riana.


saat di rumah itu, tuan Zein hanya melihat dari jauh tak mau ikut masuk, kebetulan di depan rumah itu ada pos ronda.

__ADS_1


__ADS_2