
"wah indah sekali..." kata Yulia.
"memang benar, tapi akan lebih indah kalau di lihat dari atas, ayo kita naik," ajak Nat.
"baik dengan apa?" tanya Yulia tak melihat jalan setapak.
"kita memanjatnya, biar aku pasang tali pengaman dulu," kata Jefry.
"terlalu lama jef, aku duluan," kata James yang langsung berlari untuk menaklukkan tebing itu.
"aku juga duluan ya tuan, tolong jaga nona Yulia," pamit Nat yang tak kalah semangat.
ternyata Nat dan Jefry naik ke atas air terjun dengan mengunakan tangan dan kaki mereka tanpa alat bantu apapun.
"hei kalian bisa celaka!!" teriak Yulia panik.
"tidak akan, jika kami berhati-hati," jawab James enteng sambil tersenyum.
ternyata Nat termasuk cukup ahli, bahkan wanita itu bisa mendahului James.
mereka sudah sampai di pertengahan tebing, "kita naik juga Yulia," tawar Jefry.
"tapi aku tak mau bertemu malaikat maut seperti mereka, aku masih ingin hidup," kata Yulia.
"baiklah kamu tunggu di sini, biar aku juga mengikuti mereka naik ke atas," jawab Jefry yang juga naik tanpa bantuan apapun.
kini Jefry juga sudah naik di atas air terjun, "jadi di bawah itu bisa di gunakan untuk melompat, karena kedalaman air terjun ini sangat dalam," kata Jefry.
"aku tau karena aku pernah mencobanya," jawab Nat.
"kalau begitu aku duluan," kata James.
diapun melompat kebawah, melihat itu Yulia panik dan James hanya tersenyum senang saat sudah naik ke permukaan air.
"aku baik-baik saja, tenang Yulia," kata James.
"kalian benar-benar cari mati!!" marah Yulia.
yang kedua adalah Nat, baru kemudian Jefry. mereka pun memilih menepi setelah melakukan lompatan besar itu.
tak terduga tiba-tiba hujan turun meski tak lebat, "sudah ayo pulang," ajak Yulia
"ya itu benar, karena takut air terjun itu banjir," jawab Nat.
mereka berempat pun bejalan di bawah guyuran hujan, tubuh mulai menggigil.
Yulia dan James berpelukan sambil berjalan, Nat terlihat mengosok tubuhnya dengan tangannya agar tetap hangat.
tak terduga, Jefry langsung memeluk tubuh Nat, "tuan muda!" kaget Nat.
"tolong diam Nat, aku kedinginan, aku tak pernah seperti ini..." bisik Jefry.
Nat pun menyentuh tangan Jefry yang sedikit panas, "anda demam, ayo kita segera pulang,"
mereka pun mempercepat langkahnya, dan sampai rumah Nat meminta jefry mandi air hangat.
dia pun melakukan hal yang sama, terlihat Yulia dan James di dapur, "kalian mau buat susu jahe?"
"iya... maaf ya kami tak izin dulu," kata Yulia.
"tak masalah, silahkan saja, aku akan merawat tuan Jefry dulu, dia sepertinya sakit demam," kata Nat yang segera membuat air jahe hangat dan tak lupa obat untuk Jefry.
Yulia melihat Nat yang begitu khawatir pada Jefry pun merasa jika itu berlebihan toh Jefry sudah dewasa, "Jefry beruntung di jaga oleh dia," kata James.
"apa maksudmu?" tanya Yulia sedikit tak suka dengan ucapan James.
"aku mengenal dia saat di tolong Vita, dia itu gadis paling peduli dengan orang lain ya meski wajahnya yang dingin dan cuek bebek begitu," kata James tertawa
__ADS_1
"sebenarnya sejauh apa sih hubungan mu dan nyonya, sepertinya kalian begitu dekat," tanya Yulia penasaran.
"tentu kamu pernah dengar bukan, ada seorang pria yang di tolak oleh Vita meski sudah melamar wanita itu dengan sangat romantis," kata James
"ya, dia membeli dan menghiasi dua pulau khusus untuk nyonya, tapi aku tak tau siapa pria itu," jawab Yulia.
"itu aku, bahkan pulau itu ku biarkan kosong karena wanita yang ingin ku ajak tinggal di sana, lebih memilih Jimmy di banding aku," kata James tertawa.
sedang Yulia pun merasa begitu buruk, pria yang dia cintai ternyata masih begitu mencintai Vita.
"kalau boleh tau, kenapa kamu begitu mencintai nyonya, padahal aku tau benar siapa dia itu," kata Yulia
"kalau begitu kamu tak perlu tanya, karena sudah tau, tapi bagiku dia itu adalah orang yang sangat baik, selama aku kenal dengan wanita di dunia ini, jadi Jimmy beruntung mendapatkannya," jawab James tersenyum.
"kalau aku bilang, aku mencintaimu dan ingin menua bersama mu, apa kamu mau?" tanya Yulia pada James.
pria itu pun diam, dia tak mengira akan langsung di hadapkan dengan pertanyaan seperti ini.
"ha-ha-ha, aku bisa menemanimu sampai tua, tapi kalau untuk menikah maaf, aku belum berkeinginan untuk ke jenjang itu," jawab James.
Yulia pun juga ikut tertawa, "kenapa kamu begitu serius, padahal aku juga cuma bercanda," kata Yulia.
"baiklah, aku mengerti," jawab James yang menikmati minuman hangat buatan Yulia.
sebenarnya sekarang Yulia merasa sedih, karena pria yang dia cintai ternyata tak bisa move on.
sedang di kamar Jefry, pria itu sedang mengalami demam parah, bahkan setelah minum obat.
"dingin..." lirih Jefry.
Nat sudah memakai kan plester penurun panas, tapi pria itu tetap mengigil.
akhirnya Nat pun masuk kedalam selimut dan memeluk Jefry, dan perlahan pria itu mulai tenang.
"ya Tuhan, sebenarnya tubuh mu ini seperti apa tuan, kenapa kehujanan semalam tak apa-apa, tapi hanya kehujanan tadi sampai demam begini," gumam Nat.
"tidak papa... ampun pa... tolong jangan tenggelamkan Jefry ... ampun papa ..." tangis Jefry menangis ketakutan.
"tolong kak Jimmy ... aku tak salah ... aku tak mau mati..." gumamnya lagi.
Nat pun mencium kening pria itu hingga perlahan dia kembali tenang.
tanpa sadar Nat meneteskan air matanya, "apa yang kamu alami sebenarnya tuan Jefry, kenapa kamu begitu ketakutan seperti ini?"
sedang di rumah, Jimmy sedang berdiri di balkon kamarnya, dia melihat hujan yang jatuh ke kolam renang.
tiba-tiba kenangan masa kecilnya kembali, dia pun mengusap pipinya uang tiba-tiba basah.
"maafkan aku Jefry, karena aku kamu hampir di bunuh oleh papa ..."
"ada apa sayang?" tanya Vita yang tak sengaja mendengar ucapan suaminya.
"tidak ada sayang, tiba-tiba aku hanya teringat dulu saat kecil, aku dan Jefry mengalami sedikit musibah, dan demi melindungi ku, Jefry hampir mati tenggelam," kata Jimmy.
"apa? bagaimana papa bisa sekejam itu?" tanya Vita tak percaya.
"percayalah jika papa sangat kejam dalam mendidik kami," kata Jimmy yang kembali terisak memeluk istrinya itu.
ππππ
Jimmy kecil sedang bermain dengan Jefry yang memang terpaut jauh darinya.
mereka sedang bermain di pinggir kolam, tuan Syam kebetulan sedang berada di ruang kerja miliknya.
ruangan itu langsung menghadap ke kolam renang, Jimmy dan Jefry sedang main lari-lari di sekitar sana.
tapi tak sengaja Jimmy menyenggol tukang kebun rumah hingga melukainya, tapi sayangnya tuan Syam melihat sosok Jefry yang memang nakal di banding Jimmy.
__ADS_1
"argh.... sakit!!" teriak tukang kebun itu yang tangannya terpotong oleh mesin pemotong rumput.
Jefry langsung menghentikan mesin itu, semua pekerja langsung berlarian ke sana untuk menolong teman mereka.
"Jefry!!!" teriak tuan Syam.
"bawa ke rumah sakit," kata Bu Elva khawatir.
pegawai itu di larikan untuk berobat, sedang Bu Elva melindungi Jefry, "tenang papa, mereka hanya anak-anak,"
"tidak, aku tak pernah mengajari dia untuk ceroboh," kata tuan Syam yang menarik putranya itu.
"bukan aku papa, tapi-" kata Jefry terhenti karena melihat Jimmy kecil sudah ketakutan melihat amarah tuan Syam.
bahkan Jimmy sampai mengompol karena hal itu, melihat kondisi kakaknya seperti itu, Jefry pun tak bisa memberitahu yang sesungguhnya.
"maaf papa, aku tak sengaja... papa ..." tangis Jefry kecil.
tuan Syam langsung mendorong putranya itu masuk kedalam kolam renang dan menenggelamkan Jefry beberapa kali.
"papa hentikan, Jefry bisa mati!!" teriak Bu Elva yang sekarang sudah di pegangi oleh para pelayan.
sedang Jefry terus melihat Jimmy dan mengulurkan tangannya untuk meminta tolong.
tapi bocah itu hanya diam tak bergeming, dia terlalu ketakutan. hingga akhirnya pandangan Jefry menghitam.
Jimmy kecil langsung melompat ke kolam dan membawa adiknya ke pinggir.
"papa membunuh Jefry!!!" teriak Jimmy melihat adiknya itu sudah pucat.
melihat itu, tuan Syam sadar dan mulai panik, dia tak mengira kemarahan sesaat nya bisa membuat putranya sekarat.
"tidak Jefry, bangun nak," panggil tuan Syam yang tak bisa melihat putranya seperti ini.
dia pun melakukan pertolongan pertama pada Jefry hingga memuntahkan air kolam.
dan mulai terbatuk, dan segera di larikan ke rumah sakit, hujan turun dan saat itu Jimmy pun pingsan.
Bu Elva dan tuan Syam kaget melihat kedua putranya, dan setelah itu mereka berdua pun memutuskan pindah ke rumah peternakan agar tak ada kejadian seperti itu lagi.
Vita memeluk Jimmy, "itu masa lalu sayang, aku yakin jika sekarang Jefry sudah tak marah lagi padamu,"
"aku tau itu, tapi seandainya aku berani bicara, papa mungkin tak akan sampai membuat Jefry seperti itu, itulah kenapa meski aku menghukum dan keras padanya, aku diam-diam membantunya dengan caraku," kata Jimmy.
Vita pun bangga mendengar Jimmy yang bisa mengakui segalanya, "iya sayang, sudah ah... itulah kenapa sekarang papa Jimmy ini menjadi papa terbaik untuk anak-anaknya," puji Vita
"iya sayang, tapi aku bukan ayah yang baik untuk Leon," kata Jimmy yang sedih.
"tidak kok, Leon selalu bilang padaku, bagaimana pun perlakuan ayah pada dua, dia selalu berterima kasih karena berkat ayah, Leon bisa menjadi putra mama Vita dan melihat dunia indah ini, itu katanya," kata Vita menghibur Jimmy.
"aku beruntung memilikimu Vita, seandainya kamu tak ada bagaimana nasibku," kata Jimmy sedih.
"aduh-aduh, benarkah seperti itu sayang," kata Vita meledek suaminya.
Jimmy pun tertawa mendengar bercandaan dari istrinya itu, tak lama mereka pun mendengar suara tangisan Jayden.
"iya iya, mama kesana," kata Vita.
"lihatlah dia iblis kecil ini selalu menguasai dirimu," kata Jimmy.
"hei tuan jika Keduanya iblis kecil, kamu apa bapaknya iblis dong," kata Vita.
"itu benar, ha-ha-ha,"
Jefry pun merasa jika tubuhnya sudah baikanp, tapi saat dia membuka mata, dia terkejut karena di depannya adalah tubuh Nat.
ternyata wanita itu tertidur sambil memeluk Jefry, tubuh Jefry pun membeku, pasalnya jika dia bergerak sembarangan.
__ADS_1
itu bisa di sebut tak sopan, tapi saat dia perlahan mundur, tiba-tiba Nat mengeratkan pelukannya dan membuat kepala Jefry tepat di antara gumpalan daging lembut dan wangi itu.
"ya Tuhan, ini anugrah apa musibah, apa aku akan di sebagai penjahat,kan ini bukan keinginan ku, dan adik di bawah, tolong diamlah jangan membuat kondisiku makin sulit," batin Jefry yang sudah tak bisa melakukan apapun saat ini.