
Zein berlari sekuat tenaganya, terlebih dia melihat putri yang begitu dia rindukan tergeletak tak berdaya.
"Arvi kenapa?" tanya tuan Zein.
"nyonya sedang kurang enak badan, terlebih beliau juga kurang istirahat," jawab Yulio.
"bawa ke kamarku, dan segera telpon dokter untuknya," panik tuan Zein.
Vita sudah di bawa ke kamar tuan Zein, kamar itu ada foto Vita saat kecil dan foto lama keluarga mereka.
Yulio menelpon dokter, dan tuan Kareem juga panik saat mendengar Vita pingsan.
"boleh aku memeriksanya, meski aku pensiunan dokter tentara, setidaknya aku bisa tau kondisinya," kata seorang manula yang menghampiri kedalam kamar.
"tentu silahkan, semoga dia tak kenapa-kenapa, karena dia sedang hamil juga," kata Yulia dengan panik.
pensiunan dokter itu pun memeriksa kondisi Vita, ternyata nadinya begitu cepat dan tekanan darah juga tinggi.
"dia kelelahan, dia butuh istirahat, tensinya juga tinggi dan itu sangat bahaya untuk wanita hamil, biarkan dia beristirahat semoga nanti tekanan darahnya bisa turun," kata pria itu.
semua pun keluar dan membiarkan Yulia dan tuan Zein saja yang menemani sambil menunggu dokter umum dan dokter kandungan yang di panggil oleh Yulio.
"ya Tuhan Arvi, kenapa kamu bisa sampai kelelahan, aku tau kamu itu aktif, tapi kamu sedang membawa nyawa lain di tubuhmu, dan aku sangat merindukan mu nak," kata tuan Zein.
"ayah.... tolong ibu... ayah..."lirih Vita yang mengigau.
"iya Arvi, ayah disini," panggil tuan Zein.
Vita pun membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah pria di sebelahnya.
tiba-tiba dia menangis melihat sosok tuan Zein. melihat putrinya menangis, tuan Zein langsung memeluk Vita.
keduanya pun berpelukan cukup erat, "maafkan keegoisan Vita ayah..."
"tidak nak, itu wajar karena ayah yang dengan tega dan biadab meninggalkan kamu dan ibumu, terlebih kesalahanku itu pasti tak kisah untuk di maafkan," kata tuan Zein yang mencium tangan Vita.
"Vita lelah ayah, Vita ingin tidur, Vita lelah harus melihat setiap orang di sekeliling Vita satu persatu sakit bahkan pergi," kata Vita yang masih terisak-isak.
"apa maksudmu nak?" tanya tuan Zein.
"nyonya Elva sedang di rawat di rumah sakit dan membutuhkan donor jantung segera, tapi kami belum menemukan donor jantung yang cocok," jawab Yulia.
"coba tanya kepala panti apa dia bisa membantu," kata tuan Zein.
__ADS_1
"baik tuan," jawab Yulia yang langsung bergegas pergi.
ternyata ada beberapa manula yang sudah kritis, dan mungkin umur mereka tak lama lagi, mereka juga sudah menandatangani surat pendonoran organ.
akhirnya mereka semua di tes, Yulia berdo'a semoga salah satu dari jantung mereka cocok.
dan ternyata ada, dan baiknya lagi pria itu selama hidupnya adalah seorang vegetarian dan selalu hidup sehat.
dan kebetulan lagi, pria itu tak memiliki saudara, jadi mereka hanya perlu membayar biaya pemakaman saja.
rumah sakit pun meminta izin dari panti dan mereka menyetujui semuanya, terlebih sudah sebulan ini pasien tak bangun.
dokter memeriksa jika pria ini hanya bertahan karena alat yang terpasang di tubuhnya.
sebelum dokter melepaskan semua peralatan itu, tuan Syam menemui pria itu dan kaget saat melihatnya.
"kak Alvin," kata pria itu hampir jatuh lemas.
"tuan mengenalnya?" tanya dokter yang akan menjalankan operasi.
"dia kakak kandung istriku, dia sudah pergi dari rumah selama tiga puluh tahun lalu, dan sekarang dia," kata tuan Syam sedih
"jadi mau di lanjutkan atau tidak," kata dokter bertanya.
sedang Jimmy menatap tajam ke arah Yulio yang tak menjawab pertanyaannya.
"sekali lagi aku bertanya, kemana istriku, kenapa hanya kamu yang datang," cecar Jimmy.
"maaf tuan, nyonya tak ingin anda tau dia dimana," jawab Yulio.
"apa kau kira aku bodoh, cepat jawab atau aku akan membunuhmu," marah Jimmy.
"sayang ... apa salah pria itu hingga kamu ingin membunuhnya, dia itu hanya menjalankan perintahku, dan aku hanya tertinggal sedikit lama saja, tak usah sepanik itu," kata Vita tersenyum di rangkulan tuan Zein.
"kalian sudah baikan, dan kenapa wajah mu makin pucat, kita rawat inap sekalian," kata Jimmy yang langsung mengendong wanita tercintanya itu
Jimmy pun terpaksa membawa istrinya ke ruang UGD karena wajah wanita itu sudah terlalu pucat.
terlebih Yulia melapor jika Vita sempat pingsan dan memaksa pergi saat dokter yang mereka panggil belum datang.
tuan Zein menghampiri sahabatnya itu, tuan Syam tak mengira jika menantunya itu sudah memaafkan ayahnya yang begitu tega padanya.
tapi ini juga berita baik, karena bagaimanapun Zein, pria itu pantas dapat kesempatan kedua.
__ADS_1
mereka menunggu selama tujuh jam, dan beruntung operasi berjalan sukses, dan mereka menunggu bagaimana reaksi tubuh Bu Elva dengan jantung barunya.
sedang untuk pemakaman Alvin susah di tangani oleh Juan dan Fredy.
tak lupa mereka semua juga menghadiri pemakaman pria itu, bahkan jimmy memberikan sambutan sepatah dua patah kata.
dia mengingat bagaimana om-nya itu, dia ingat jika Alvin sangat baik tapi sebuah perkataan menghancurkan pria itu.
akhirnya pria itu pun di makamkan di pemakaman Keluarga Alexander, di samping makan Tian.
Vita ikut datang beserta seorang dokter dan perawat untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
pemakaman berakhir dan mereka kembali menuju ke rumah sakit, Bu Elva masih berada di ruang ICU.
Vita mendapatkan kunjungan khusus dari sosok Rika, gadis itu langsung memeluk Vita tak peduli ada Jimmy atau siapa pun yang berada di ruangan itu.
"mbak Vita kenapa bisa masuk rumah sakit, bikin sedih saja, oh ya Mbak aku ingin berterima kasih, karena berkat bantuan mbak, sekarang tuan tak pernah keluar malam lagi bersama teman-temannya," kata gadis itu senang.
"bagus dong, kamu harus semakin liar menghadapinya, ingat ilmu itu selalu ya," kata Vita tertawa.
"kamu ini mengajari gadis baik-baik jadi liar, sungguh bagus sekali sayang," kata Jimmy tertawa.
pasalnya sudah beberapa hari ini Benny terus mengomel, karena dia tak memiliki teman untuk di ajak minum.
Jimmy terus berada di rumah sakit dan sibuk dengan perusahaan miliknya, Ferdi juga sama cuma kalau malam pria itu bak hilang di telan bumi, sedang Iwan yang biasanya bisa, kini memilih menikmati servis dari gadis yang dia beli padanya.
sedang Benny tak ingin pulang karena orang tuanya terus mengomel, pasalnya mereka sudah tau jika Benny membeli seorang wanita untuk melahirkan putranya.
itu memang tak salah, tapi bagi orang tua Benny itu keterlaluan karena Benny mau memiliki anak tanpa menikah.
karena baginya pernikahan adalah sebuah ikatan yang mengikat semua kebebasan yang dia miliki.
Jimmy memilih keluar dan kaget saat melihat rombongan Yuniar, Ferdi dan tuan Kareem.
"halo Jimmy, bagaimana keadaan Vita dan mama mu?" tanya Yuniar.
"mama masih dalam tahap observasi untuk melihat reaksi tubuhnya tehadap jantung pendonor, sedang Vita sudah lebih baik, masuk saja, ada Rika di dalam," kata Jimmy mempersilahkan.
"terima kasih sudah mengizinkan kami masuk, permisi," kata tuan Kareem.
Jimmy tak mengira jika istrinya itu di kelilingi oleh para pengusaha sukses, salah satunya adalah pria itu.
pria yang nampak tampan meski dia tau jika usianya sudah kepala empat lebih.
__ADS_1
tapi karena harta, pria itu sudah memiliki lima istri di istananya. jadi Jimmy merasa aman karena mereka pure kerjasama tanpa ada embel-embel lainnya.