
"hei adik sialan, kamu ingin kakak mu merusak rumah orang huh, kalau dengan caraku,tubuh baik kamu jujur dan minta pendapat Benny," kata Vita.
"begitu ya, ya coba nanti aku bilang pada mas Benny, dan ah... aku tadi lupa mau membelikan kalian semua makanan, bagaimana kalau kita makan siang bareng," ajak Dwi.
"wah dalam rangka apa ini?" tanya Rika.
"tidak dalam rangka apa-apa, ya sekali-kali biar aku pernah mentraktir kalian semua, mau ya," mohon Dwi.
"baiklah dengan senang hati nyonya," jawab Vita
kini mereka pun berangkat ke restoran pandang yang terkenal dengan tempatnya yang luas dan bersih.
Vita niatnya Yadi ingin membawa dua putranya, tapi Bu Elva melarangnya dan meminta agar Jason dan Jayden tetap berada di rumah saja.
mobil yang di kendarai Vita pun sampai di tempat makan itu, tak lupa mereka berempat pun menghubungi suami dan pacar masing-masing.
Jimmy kebetulan memang sedang rapat di luar, "Juan ke restoran Ambu, di jalan pahlawan ya," perintah Jimmy setelah mendapatkan pesan dari Vita.
"baik tuan," jawab Juan.
mobil pun melesat ke sana, ternyata Benny juga langsung menuju ke restoran itu bersama Ayus asistennya.
sedang Ferdi juga pergi bersama Dimas, mereka juga baru meninjau lokasi kontruksi perumahan yang baru di bangun.
ketiga pria itu hampir bersamaan datang, "hei kalian disini?" tanya Jimmy.
"ya, istriku memintaku datang," jawab Benny.
"ah sama, apa mungkin mereka sedang berkumpul di dalam," kata Ferdi.
"bisa saja, ayo kita masuk," kata Jimmy.
mereka bertiga pun berjalan bersamaan masuk kedalam restoran, ternyata benar keempat wanita itu sedang duduk bersama.
mereka pun langsung menyapa istri masing-masing, kecuali Rika yang masih menunggu kedatangan pangerannya.
"Rika, apa dokter Iwan bisa datang?" tanya Farah.
"adik ipar, dokter Iwan itu dokter paling sibuk di rumah sakit swasta Pratama, jadi akan sulit baginya untuk datang," kata Jimmy.
__ADS_1
"sudahlah mas, jangan membuat Rika sedih, mungkin dia terjebak macet," kata Vita.
"iya mungkin," jawab Rika.
"maaf... apa aku telat?" kata dokter Iwan yang datang membawa buket bunga.
"lihatlah, dia datang paling telat tapi paling romantis," kata Vita melirik suaminya.
"terima kasih pujiannya," kata dokter Iwan.
sedang Benny melihat mata istrinya itu sedikit bengkak, "sayang kamu gabis menangis?"
"tidak kok, tadi kami hanya melihat film sedih," bohong Dwi.
"tidak kok, Dwi bohong ya dia habis menangis, dan tak nyaman dengan tinggal di rumah," kata Rika.
"apa?" kaget Benny.
"kepala pelayan di rumah kalian bermasalah, dia terus mendekati Dwi meski dia tau jika Dwi hamil. sikapnya makin menjadi saat kamu lebih sibuk dengan Yuniar dan para wanita ku itu, dan mulai mengacuhkan istrimu," kata Vita dengan dingin
Benny kaget mendengar itu, dia tak mengira jika Henry bisa berlaku seperti itu.
"ternyata perasaan ku gebar, tatapan mata Henry seperti penuh cinta pada Dwi, tidak boleh... Dwi istriku, dan aku tak mungkin mengusir dia dari rumah, karena pria itu sudah memiliki perjanjian hidup mati bersama keluarga ku dulu," terang Benny.
"sudahlah sekarang kita makan dulu saja, toh kita kesini memang untuk itu, dan maaf ya sayang, aku sudah terlalu lapar," kata Jimny melerai semua orang
"dasar tukang makan," ejek Vita.
mereka semua pun akhirnya makan bersama, Farah melayani Merdi dengan sangat baik.
Dwi juga begitu, sedang Vita malah hanya mengunakan satu piring, "kalian berdua sedang hemat?" tanya dokter Iwan. yang memancing tawa dari teman-temannya.
"kenapa hemat, kami terbiasa makan sepiring berdua," jawab Jimmy dengan tenang sambil di suapi Vita.
ketiganya pun langsung diam, dia tak mengira Jimmy yang dulu alergi hal romantis, kini berubah di tangan Vita.
"ya setidaknya jangan di tempat umum juga lah, kalau di rumah sih gak masalah," kata Ferdi.
"memang kenapa, dia suamiku, jika ada yang iri itu urusan mereka, bukan kami, toh kami di sini makan juga bayar kok," jawab Vita.
__ADS_1
"sudahlah, jangan bertengkar, lanjutkan makan saja," kata Farah yang tak ingin terjadi sesuatu yang makin membuat marah.
mereka pun selesai makan, dan keempat pria itu mengeluarkan kartu milik mereka.
"tidak usah, hari ini aku yang bayar, karena aku sudah janji pada semuanya," kata Dwi yang mengeluarkan kartu debit miliknya.
"tidak usah sayang, pakai kartu ini mbak," kata Benny.
mereka pun kemudian lanjut shopping di mall terdekat,sedang para pria sudah kembali untuk pekerjaan mereka sambil membawa kue.
karena tadi dari rumah Vita sengaja bawa kue untuk di bagikan pada mereka berempat.
mereka sedang melihat akan nonton film apa, tapi mereka pun mengurungkan niatnya karena tak ada genre yang mereka suka.
"jadi kita mau kemana ini?" tanya Farah.
"bagaimana jika kita belanja baju saja, karena aku belum punya banyak baju di sini, dan baju ku yang ada di America sudah aku minta seseorang untuk menyumbangkannya," kata Farah.
"itu bagus, baiklah ayo kita lihat-lihat dan untuk mu Dwi, aku akan memilihkan baju yang cocok untuk image mu," kata Vita.
mereka masuk ke salah satu butik yang cukup terkenal dengan barang brandednya.
Farah dan Rika langsung ke area pakaian malam, sedang Vita memilih beberapa outfit yang sebenarnya murah tapi tetap terlihat berkelas saat di pakai.
Vita meminta Dwi mencobanya, dan semuanya bagus dan meminta pemilik butik untuk mengirimkan semua baju tadi ke rumah Benny.
bahkan tak lupa Vita juga meminta beberapa baju untuk tugas malam, bagaimana pun itu penting bagi seorang istri.
tapi saat sedang memilih-milih baju, tak sengaja darah menyenggol seorang wanita.
"ah maaf... aku tak sengaja," kata wanita itu.
"kau buta ya, jika aku terluka bagaimana, kamu tak tau aku siapa, dasar wanita kampungan," hina wanita yang di senggol Farah.
mendengar ucapan itu, Rika menahan tawanya, karena farah yang model internasional di sebut kampungan.
padahal di beberapa sudut mall terpampang wajah Farah. "ah iya saya memang orang desa, maaf ya Bu,"
"ibu ibu kapan aku kawin sama bapak mu, ini nih kalau orang desa masuk mall, dasar tak tau malu," hinanya lagi.
__ADS_1
Rika pun tertawa dengan keras saat kedua wanita itu pergi, "ya Tuhan gadis kampungan, tapi wajah bule, dia buta ya gak bisa melihat gambarnya yang Segede gaban di mall ini?"
"sudahlah aku tak mau berurusan dengan ras makhluk paling kuat di muka bumi," kesal Farah.