
keluarga Jimmy sampai di rumah sakit dan kaget saat melihat Vita dan Jimmy berjalan dengan lemas.
"nak apa semua itu benar?" tanya Bu Elva.
Jimmy mengangguk pelan, dunianya hancur karena menyaksikan dua anak-anak yang dia besarkan selama ini mengalami hal seburuk ini.
bahkan polisi mengatakan jika Tian sempat di perkosa dan membuat organ intim gadis itu rusak.
Bu Elva pun pingsan saat mengetahui tentang kebenaran keduanya yang mati begitu mengenaskan.
"seharusnya kami menunggu mu pulang, tak akan ada kejadian seperti ini," kata Jefry.
"itu bukan salah kalian, tapi aku merasa aneh karena para perampok itu tak merusak pintu rumah, bahkan dari rekaman CCTV mereka datang dengan begitu santai," kata Jimmy yang masih memeluk Vita yang menangis.
"yang kuat bang, aku yakin pasti semua ini ada dalangnya," kata Jefry.
"ya aku harus kuat dan membalas dendam pada para pelaku dengan setimpal, karena mereka berani mencelakai dan membunuh anak-anak ku," jawab Jimmy.
Virnie datang ke rumah sakit dan langsung berteriak histeris melihat dua anaknya sudah terbujur kaku.
Bu Sekar pun mengajak wanita itu keluar, tapi emosi Virnie memuncak saat melihat Vita yang terlihat sedih di samping Jimmy.
"wanita sialan, seharusnya kamu yang mati, tapi kenapa harus anak-anak ku, seharusnya mereka membunuh mu!!" teriak Virnie.
"apa maksudmu Virnie," kata Jimmy yang menahan tangan virnie yang ingin menyerang Vita.
"aku membayar mereka untuk membunuhnya, bukan membunuh anak-anak ku..." kata Virnie terjatuh lemas.
"kau wanita gila virnie!!!" bentak Jimmy yang langsung menampar wanita itu.
"ya!!! karena aku gila karena dia merebut segala yang aku miliki, aku ingin menyingkirkan dia, bukan malah anak-anak ku," kata virnie yang menangis sedih.
mendengar itu, Vita langsung berlari ke luar rumah sakit dan tak mengira balas dendamnya akan merenggut dia anak tak berdosa itu.
Vita pun masih ingat bagaimana Tian dan Kris yang begitu menyayanginya.
bahkan senyum Keduanya atau tingkah mereka saat berebut makanan yang terus teringat di pikirannya.
"maafkan mbak... maafkan mbak..." lirih Vita yang syok.
__ADS_1
ini adalah kehilangan terbesarnya setelah kehilangan putra tunggalnya, Yuniar datang dan menenangkan wanita itu.
"ini bukan salah mu," kata Yuniar.
"tidak, ini salahku, seandainya aku tak melakukan ini, Virnie tak akan berpikiran gila seperti ini..." tangis Vita
Yuniar hanya bisa memeluknya dan menenangkan wanita itu, tak lama polisi datang untuk menangkap virnie.
karena semua bukti mengarah pada wanita itu, terlebih mereka semua sudah di tangkap berkat bantuan Jhon yang juga langsung menyebar untuk membantu Vita dan Jimmy.
kedua jenazah dari Tian dan Kris sudah di bawa ke rumah duka untuk di semayamkan, semua orang seakan tak percaya dengan apa yang tejadi.
bahkan semua teman sekolah dari keduanya datang mengucapkan duka cita.
Steve terlihat begitu terpukul, Vita terus meneteskan air mata di samping peti jenazah dari Tian.
Jimmy pun nampak tegar meski dia sendiri hancur, Jimmy kemudian menyentuh bahu Vita untuk menenangkan gadis itu.
setelah semua tamu berdatangan untuk menyampaikan penghormatan terakhirnya.
sore itu kedua peti mati itu di bawa ke tempat makam keluarga di desa Jimmy.
mereka berdua di kebumikan berdampingan, pemakaman sangat haru terasa.
perlahan tanah pun di kembalikan untuk menutup lubang malam itu, dan pemakaman berakhir.
Jimmy dan Vita masih di sana saling bergandeng tangan,keduanya sama-sama begitu terpukul.
tuan Syam dan Bu Elva juga sedih,tapi kedua orang itu yang paling terpengaruh.
sedang di kantor polisi Virnie mulai bertindak seperti orang gila,wanita itu terus berteriak tak jelas.
bahkan emosinya sangat tidak stabil, kadang menangis dan tertawa secara bergantian.
polisi pun terpaksa memanggil dokter kejiwaan untuk memeriksa kondisi kejiwaan wanita itu.
Vita dan Jimmy duduk bersama di teras sambil berpegangan tangan, keduanya nampak begitu terpukul.
Yuniar pun harus kembali melihat Vita dalam kondisi seperti ini, "apa baik membiarkan mereka seperti ini,aku takut Vita akan makin terpuruk, terlebih kondisinya yang sering labil," kata Yuniar pada keluarga Jimmy.
__ADS_1
"kamu juga bingung harus bagaimana, terlebih keduanya memang kesayangan dari Jimmy dan Vita, kami juga sedih tapi kehidupan ini harus tetap berlanjut," kata Jefry.
tuan Syam pun tak tinggal diam, dia kemudian pergi menemui kedua orang itu.
"Jimmy, Vita, kalian tidak boleh sedih terus seperti ini, kalian harus bangkit dan menjalani hidup kalian secara normal, jangan terpaku seperti ini, kalian ingin membuat keduanya yang sudah tenang di surga sedih melihat kesedihan ini, papa mohon hidup Deni mereka jangan sedih seperti ini," kata tuan Syam
Jimmy pun bangkit dan mengenggam tangan Vita, "papa benar, kami harus menjalani kehidupan ini, dan memulai semuanya, kami tak boleh sedih berlarut,kami tak mau membuat mereka sedih melihat kami, jadi Vita ayo kita menjalani hidup ini," kata Jimmy yang di angguki oleh Vita.
"iya tuan, iya..."
Jimmy pun menyiapkan sebuah penthouse mewah di pusat kota untuk di tinggali oleh dia dan Vita.
terlebih mereka tak akan sanggup tinggal di rumah yang penuh kenangan itu, bahkan mereka menyewa jasa untuk berkemas.
bahkan uang mengawasi mereka juga di lakukan oleh Yulia karena Jimmy dan Vita benar-benar tak ingin menginap rumah itu.
meski banyak kenangan indah di sana, tapi kenangan buruk itu akan terus muncul terlebih saat keduanya melihat semua rekaman yang terjadi.
Jimmy dan Vita juga mendapatkan undangan untuk menjadi saksi di persidangan.
Virnie memang mengalami gangguan jiwa, dan ternyata saat polisi mengembangkan penyelidikan terdapat tersangka lain yaitu ibu Sekar.
dia yang menunjukkan dan mengenalkan pria yang bertindak sebagai perampok itu pada Virnie.
Vita dan Jimmy pun masuk kedalam kediaman baru mereka yang begitu mewah.
"ini sepertinya terlalu mewah jika di tinggali hanya kita berdua," kata Vita.
"tak masalah, kita tinggal mengisinya dengan anak-anak yang banyak, dan maukah kamu menghabiskan waktu bersama ku," mohon Jimmy.
"tentu, apa kamu memikirkan ingin meninggalkan aku setelah semuanya tuan," kata Vita memeluk Jimmy.
"tentu saja tidak, karena bagiku kamu adalah segalanya, dan tak akan ada yang bisa menggantikan mu di hatiku dan hidupku," jawab Jimmy yang kemudian memberikan ciuman mesra pada Vita.
tapi panggilan dari asisten Jimmy membuyarkan semua kemesraan itu, dan dengn marah Jimmy mengangkat telpon itu.
"mau apa?!" marah Jimmy.
"tuan ada tamu dari perusahaan Singapura ingin bertemu karena mereka sudah menunggu di perusahaan,"jawab Juan takut.
__ADS_1
"baiklah minta mereka menunggu tiga puluh menit," kata Jimmy yang langsung menutup telponnya dengan marah
"sudah kami pergi saja, biar aku membereskan semuanya di sini ya sayang," kata Vita.