
Vita sadar dan melihat semua orang berada di sekitarnya, dia pun tersenyum.
"kenapa wajah kajian semua begitu serius?" tanya Vita tersenyum melihat mereka.
"kenapa kamu tanya, ya tuhan sayang kamu hampir saja membunuh bayi di perutmu karena ikut minum-minum tadi, dan seharusnya aku melarang kamu ikut, maafkan aku," kata Jimmy mengecup kening Vita.
"apa... hamil?" kata Vita menyentuh perutnya.
"iya sayang sudah delapan Minggu, dan dia sepertinya akan jadi anak yang sangat kuat, terlebih dia bertahan," kata Bu Elva.
"benarkah nyonya," kata Vita tak percaya.
"iya sayang, dan mulai sekarang jangan panggil aku nyonya, tapi mama," jawab Bu Elva
"iya mama," jawab Vita yang begitu senang.
Jimmy sudah meminta Juan memberikan bantuan pada beberapa panti asuhan dengan niat agar buta dan bayinya sehat selalu.
Juan sudah mendatangi setidaknya lima yayasan panti asuhan dan juga mendatangi gereja di dekat pemakaman dari putra Jimmy dan Vita.
pendeta itu terlihat sangat senang mendengar berita yang di bawa asisten dari jimmy itu.
dia pun berjanji akan menyiapkan segalanya, Vita sedang di suapi oleh Bu Elva sedang Jimmy masih tetap sibuk dengan laptopnya.
"mama maukah tinggal bersama kami, aku mungkin akan kesepian di rumah jika pria itu terus menatap laptopnya seharian?" tanya Vita.
"tentu nak, aku memang akan tinggal di rumah kalian, karena aku ingin memantau kesehatan mu dan calon cucuku," kata Bu Elva.
terlebih dia ingin menebus apa yang seharusnya selama ini jadi milik Vita tapi mereka telah di tipu oleh Zein.
"hei tuan dengarkan aku, setelah aku hamil seperti ini, sepertinya aku akan berhenti dari perusahaan ku," kata Vita yang berhasil membuat Jimmy menoleh.
"itu lebih bagus, agar kamu bisa merawat ku dan anak-anak kita, dan apalagi aku sering bekerja dari rumah, jadi itu sangat baik," jawab Jimmy
"apa kamu ingin menjadikan menantuku pelayan mu," kesal Bu Elva.
"tentu saja tidak ma, aku hany tak ingin dia bertemu dengan para pengusaha yang lebih muda, dan takutnya mereka tergila-gila padanya, terus meninggalkan aku, apa mama mau?" kata Jimmy.
__ADS_1
"eh memang begitu?" tanya Bu Elva melihat Vita.
wanita itu mengeleng tak tau, tapi Jimmy memijat keningnya, "kamu tau sayang, ada seorang pria yang bahkan aku tak tau dari mana datang hanya dengan tujuan ingin mendekati perusahaan mu dan dirimu melalui perusahaan ku, dan yang paling bikin emosi dia itu tak sadar diri dan berani menantang ku, jadi aku membuatnya pergi," kata Jimmy dengan senyum yang di paksakan.
"ah maafkan aku, aku tak tau itu, baiklah aku akan menurut, padahal selama ini aku selalu duduk manis di rumah," kata Vita.
Jimmy pun mengacak rambut wanita yang di cintainya itu, "papa datang bawa makanan Jepang, ada yang mau?" tawar tuan Syam.
"kami mau pa, wah apa itu?" tanya Bu Elva yang langsung menghampiri suaminya.
ternyata yang di bawa adalah makanan Korea, "aduh papa, sejak kapan di Jepang makan kimci dan bibimbap begini?" kata Bu Elva tak habis pikir melihat suaminya itu.
"ha-ha-ha ternyata mama gaul ya, tau makanan Korea, padahal tadi papa cuma mau ngetes saja," jawab tun Syam tersenyum geli.
Bu Elva pun memukul suaminya itu penuh cinta, "tolong jangan membuatku malu di depan Valon istriku, kalian berdua ini sudah tua ingatlah pada putra tertua mu ini," kata Jimmy merasa malu.
"kenapa sayang, merek itu sangat so sweet dan jarang orang bisa semesra mereka di usianya, aku bajakan berharap saat tua nanti ada seseorang yang mengenggam tangan ku dan selalu mengatakan aku mencintaimu setiap harinya saat kami sudah sama-sama tua nantinya," kata vita.
"aku akan melakukan itu, sesuai dengan permintaan mu sayang," jawab Jimmy.
pasalnya kedua orang itu adalah orang yang di mintai tolong untuk membeli gaun pernikahan, karena Yuniar mengetahui semuanya tentang Vita.
Yuniar memilih gaun model sederhana dengan taburan bunga mawar di rok gaun itu.
setelah itu Ferdi meminta untuk menunjukkan semua perhiasan yang sesuai dengan gaun yang terlalu sederhana itu.
"hei tuan, Vita tak akan suka dengan perhiasan yang begitu mewah,", kata Yuniar.
"tentu tidak yang mencolok,meski terlihat sederhana, tapi tetap mahal dan mewah, dan tolong bawakan Tiara yang terbuat dari berlian tapi yang terlihat sederhana tapi mewah," kata Ferdi pada pemilik butik langganan mereka.
"ini coba bicara sama teman mu, minta dia memilih sendiri," kata Yuniar memberikan ponselnya
Jimmy pun mengatakan yang sama persis dengan Ferdi, dan pemilik butik tau kesukaan pria itu.
Vita bingung melihat Jimmy yang begitu sibuk sendiri, tapi dia tak bisa protes dan memilih diam.
"sayang aku pergi sebentar ya, aku ingin ke ruang dokter untuk bertanya tentang kondisimu, kamu gak papa di tinggal sendiri kan?" tanya Jimmy.
__ADS_1
"tentu sayang, silahkan pergi," jawab Vita
Yulio dan Yulia datang ke rumah sakit dan menyapa jimmy, ternyata Jimmy sudah merencanakan segalanya.
kondisi tubuh Vita memang begitu kuat, terlebih wanita itu juga memiliki hidup sehat.
sore itu Vita di temani oleh bu Elva dan Yulia, sedang yang lain sibuk mempersiapkan semua.
mulai dari menghias hotel, dan yang lainnya, bahkan mereka juga menyiapkan undangan mendadak dan juga sovenir.
tak hanya itu Jimmy tetap melaksanakan pesta meriah meski pesta itu di adakan secara mendadak.
keesokan harinya, Vita kaget melihat Yuniar yang datang membawa sebuah tas merk terkenal dan juga beberapa orang ke rumah sakit.
"mau apa sih Miss," tanya Vita yang tak habis pikir itu.
"sekarang kamu bersih-bersih, dan mulai make up, karena kita harus menghadiri pesta dadakan, dan dia ingin jamu datang," kata Yuniar.
"apa, pesta apa?" bingung Vita.
"ssttss... sudah ikut saja, mbak tolong di rias secantik mungkin. dan pastikan dia tak terlihat seperti orang sakit," kata Yuniar.
suster datang untuk mencabut jarum infus yang memang sudah waktunya di lepas.
Vita sudah berganti baju dan di bawa naik mobil, di dalam mobil dia masih bingung tapi Yuniar terus membuatnya diam.
akhirnya Vita pun tak bisa bertanya dan ikut saja, karena wanita itu tak mungkin melakukan hal gila terlebih menyangkut perusahaannya.
setelah itu mereka menuju ke sebuah hotel, Vita sudah terlihat begitu cantik dengan riasan natural.
Vita heran karena dia sudah berdandan seperti pengantin, bahkan kini Yuniar memakaikan tudung di kepala Vita.
"katanya mau pesta, kenapa aku seperti pengantin begini?" bingungnya.
"memang kamu akan menikah, sudah ayo sudah di tunggu semua orang," kata Yuniar.
"kamu gila!!!" teriak Vita kaget.
__ADS_1